
Echa merealisasikan ucapannya. Dia mengajak Iyan bertemu di sebuah kafe tak jauh dari kediaman Arina. Dia juga tidak memberitahu kepada Arya jika dia akan datang.
Beda halnya dengan Iyan yang masih terduduk di tepian tempat tidur. Keponakannya itu ternyata belum dijemput ayahnya. Jadi, Beeya masih menemani Ghea di kamar.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut pemuda itu. Ada ketakutan di hatinya. Dia sangat yakin, empat pria yang diajaknya berdiskusi sudah melapor kepada sang kakak.
"Hadapi, Yan."
Suara sahabat tak kasat mata Iyan terdengar. Iyan pun menoleh, senyum hangat Jojo berikan kepada Iyan.
"Kak Echa itu kakak yang baik. Apapun keputusannya harus kamu terima dengan ikhlas." Iyan pun mengangguk.
Akhirnya, dia pun beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar Beeya terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kafe, di mana sang kakak akan ke sana juga.
Beeya dan Ghea menoleh ketika melihat pintu kamar terbuka. Pemuda tampan dengan pakaian santai masuk ke dalam. Lengkungan senyum sudah terukir di wajah cantik Beeya. Perempuan itupun turun dari tempat tidur dan menghampiri kekasihnya yang juga tengah berjalan menuju dirinya.
"Tampan sekali," puji Beeya.
Iyan tersenyum bahagia. Dia memeluk tubuh mungil sang kekasih dan tak segan mengecup ujung kepalanya. Tangan Beeya pun melingkar di pinggang Iyan dengan begitu erat.
"Apapun keputusan Kak Echa, jangan membenci dia."
__ADS_1
Dalam keadaan seperti ini Beeya masih sempat mengingatkan sang kekasih. Iyan semakin merasa beruntung memiliki kekasih hati seperti Beeya.
"Hati-hati, ya." Beeya sudah mendongak ke arah Iyan yang memiliki postur sangat tinggi.
"Doain, ya."
Beeya mengangguk dan dia kembali memeluk tubuh Iyan lagi. Sebenarnya Beeya juga merasa sedikit takut, tetapi dia sangat yakin Echa tidak akan sejahat itu.
Iyan pun pergi ke kafe di mana sang kakak sudah menunggunya. Iyan menarik napas terlebih dahulu sebelum dia turun dari mobil.
"Bismillah."
Iyan mencium tangan Echa juga mencium pipi sang kakak. Dia juga duduk di depan Echa dengan jantung yang terus bergemuruh hebat. DIa juga tidak berani membuka suara terlebih dahulu.
"Apa kamu tahu apa yang akan Kakak katakan?" Suara Echa terdengar sangat datar dan dingin.
Iyan yang menunduk pun kini mulai menegakkan kepalanya ke arah sang kakak. Echa dapat melihat wajah Iyan yang tengah ketakutan.
"Kakak sudah mendengar apa yang kamu inginkan dari Abang kamu," tutur Echa.
Dugaan Iyan ternyata tidak salah. Kedua Abang iparnya sudah melapor kepada sang kakak.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Kakak tidak merestui untuk sekarang?" sergah Echa. Tangannya sudah dia lipat di depan dada.
Iyan tersenyum ke arah kakaknya dan berkata, "Iyan tidak masalah, tapi jangan larang Iyan untuk berjuang bersama orang yang Iyan sayang."
Hati Echa mencelos mendengar ucapan Iyan. Adiknya itu ternyata sangat serius kepada Beeya. Sekali mencintai perempuan dan Iyan sangat yakin ingin mempersunting wanita pilihannya.
"Ayah bilang ... kalau Iyan harus nurut sama Kakak. Iyan gak boleh bantah sedikit pun apa yang Kakak bilang. Apa yang Kakak katakan memang yang terbaik untuk Iyan karena naluri seorang ibu itu tidak ada duanya."
Ibu, mata Echa nanar mendengar ucapan Iyan kali ini. Hatinya sangat sakit sekali. Iyan meraih tangan kakaknya yang sudah ada di atas meja.
"Iyan mencintai, Kak Bee. Iyan sayang dia, dan hanya dia yang mampu membuat Iyan merasa nyaman," terangnya.
"Jangan lihat kekurangan Kak Bee karena Iyan tidak menginginkan wanita yang sempurna, tapi menginginkan wanita yang mampu menyempurnakan hidup Iyan yang penuh kekosongan ini."
Tes.
Bulir bening pun menetes begitu saja dari pelupuk mata Echa.
...****************...
Komen dong ....
__ADS_1