
Mimpi itu seperti nyata. Namun, Iyan harus bisa menutupinya sekuat tenaga. Dia tidak boleh terlihat rapuh di depan Beeya.
Sang calon istri menangis di dalam pelukan Iyan. Ternyata sang ayah memang datang ke dalam mimpi mereka berdua. Sebisa mungkin Iyan menenangkan Beeya.
"Aku mimpi, Ayah."
"Aku juga." Ingin rasanya Iyan berkata seperti itu. Namun, mulutnya kelu.
"Wajar Ayah datang menjelang hari pernikahan kita." Iyan berucap sesantai mungkin. Padahal hatinya ingin menangis kencang.
Tidak adil, itulah kata yang masih terngiang di kepalanya. Ayahnya sendiri yang berkata tidak adil, pergi sebelum dia menikah.
Iyan mencoba untuk menghibur Beeya walaupun dia juga butuh untuk dihibur. Jam sepuluh malam barulah Iyan mengantarkan Beeya pulang. Wajah Beeya masih terlihat sendu.
"Jangan sedih lagi dong." Iyan sudah mengusap ujung rambut Beeya.
Sang calon istri pun menoleh. Matanya nanar membuat Iyan tidak tega dan memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat.
"Jangan nangis lagi, ya." Iyan mengecup puncak kepala Beeya. Kemudian, turun ke kedua kelopak matanya secara bergantian. Ke pipi kiri dan kanan. Lalu, turun ke bibir pink milik Beeya.
"I love you."
Iyan ikut turun ke rumah sang calon mertua. Dia tidak ingin Beby maupun Arya salah sangka.
"Udah pulang?" tanya Beby ke arah Iyan dan Beeya.
"Maaf, Mah. Tadi calon istri Iyan ketiduran." Beby tersenyum, dia malah mengusap lembut pundak Iyan. Menyuruh pemuda itu untuk mengantar Beeya ke kamar.
Beeya masih enggan melepas pelukannya pada tubuh Iyan. Pemuda itu hanya tersenyum.
"Apa kamu gak sedih?" tanya Beeya yang kini sudah menatap sang calon suami.
"Sedih, Chagiya. Sedih." Hanya bisa menjawab di dalam hati. Itulah yang Iyan lakukan.
"Sedih sih pasti ada, tapi lebih fokus pada hari bahagia kita saja nanti." Senyum Iyan tunjukkan. Namun, Beeya tahu itu bukan senyum tulus.
Lama mereka berpelukan, tepat di jam dua belas malam Iyan pamit pulang. Padahal Beeya tidak ingin melepaskan Iyan. Hatinya berkata tidak rela dan jangan biarkan Iyan pulang. Namun, Beeya harus merelakan calon suaminya pulang di tengah malam karena dia tidak ingin orang lain salah paham.
"Hati-hati." Beeya sudah berdiri dan tangannya masih melingkar di pinggang Iyan. "Langsung pulang ke rumah." Rasa khawatir mulai menjalar di hati Beeya.
"Iya, Chagiya." Untuk kesekian kalinya Iyan mengecup kening Beeya.
__ADS_1
.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hati si pengemudi sedang merasakan kesedihan yang mendalam.
"Ayah." Begitu lirih kata yang Iyan ucapkan. Air matanya tak tertahan. Meluncur dengan begitu lancar.
Mobil itu tidak melaju keluar dari Jakarta. Satu tempat yang ingin Iyan tuju, yakni makam sang ayah.
.
Echa masih mondar-mandir di dalam ruang tamu. Dia menunggu Iyan yang tak kunjung pulang. Padahal pagi hampir menjelang.
"Ke mana kamu, Yan?" Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari.
Menghubungi petugas yang ada di rumah baru Iyan sudah Echa lakukan. Iyan memang keluar dengan Beeya. Echa juga sudah menghubungi Beby, ibu dari Beeya itu memang membenarkan bahwa Iyan datang ke rumahnya untuk mengantarkan Beeya pulang. Namun, jam dua belas Iyan sudah meninggalkan kediaman Beeya.
Echa sudah benar-benar dilanda kepanikan. Dia terus menghubungi Iyan, tapi tidak bisa tersambung
"Sayang," panggil Radit. Terlihat Radit baru saja terbangun. Mata Radit memicing melihat istrinya terlihat cemas. "Kenapa?"
"Iyan belum pulang. Di rumahnya pun tidak ada." Ikatan batin kakaknya dengan sang adik sangat jelas terasa.
"Kak, sedari tadi Ri gak bia tidur. Ri kepikiran Iyan terus."
Aksa dan Radit saling pandang. Apakah mereka berdua harus mencarinya di malam menjelang pagi ini? Sedangkan besok pagi mereka masih harus rapat penting.
"Kita tunggu satu jam-an lagi, ya. Baru kita cari." Radit memberi ide agar kedua wanita itu tidak panik.
Tiba-tiba ponsel Echa berdering. Semua orang menatap ke layar ponsel Echa.
"Beeya." Dia berharap Beeya tahu di mana Iyan berada.
"Iya, Bee."
"Iyan belum pulang juga, Kak?" Nada suara Beeya terdengar cemas. Sungguh membuat Echa semakin panik.
"Iya, Bee. Apa kamu tahu di mana Iyan?"
"Kakak tunggu aja di rumah, ya. Mudah-mudahan dugaan Bee benar."
Sambungan telepon pun berakhir. Echa nampak bingung dan rasa khawatirnya mulai menjadi.
__ADS_1
.
"Pah, antar Bee ke makam Ayah."
Arya terkejut, dia menatap Beeya penuh dengan tanya.
"Bee mimpi ketemu Ayah dan Bee yakin Ayah juga datang ke dalam mimpi Iyan. Soalnya kita berdua memeluk tubuh Ayah."
"Kenapa lu cuma datang ke mimpi anak-anak kita? Kenapa lu gak datang ke mimpi gua? Gua kangeng lu."
Arya membeku sesaat, senggolan tangan Beby membuat Arya tersadar dan dia mengangguk cepat. Beeya tidak mengganti pakaian, dia hanya mengenakan kardigan karena sudah pasti di sana akan dingin. Dia juga membawa mantel untuk Iyan.
Mobil melaju ke arah Karawang. Tidak ada yang bicara di antara mereka bertiga. Arya yang tenggelam dengan pikirannya dan Beeya yang terus mencoba menghubungi calon suaminya.
Dua jam mengemudi, akhirnya mereka tiba di pemakaman ellite. Pemakaman itu sudah tutup, tapi Beeya tahu Iyan memiliki kenalan yang akan memperbolehkannya masuk kapan saja. Terlihat juga mobil Iyan terparkir di depan, tidak masuk ke area dalam.
"Pak, saya mau masuk." Beeya sudah menghampiri security di sana dengan tersampir mantel di lengannya.
"Masih tutup, Mbak."
Beeya segera mengeluarkan ponselnya. Dia menunjukkan foto mendiang sang opa, kakek Genta juga opa Addhitama. Akhirnya pihak security pun mengijinkan. Termasuk Beby dan Arya.
Beeya melangkahkan kakinya dengan cepat dan menuju kavling di mana calon mertuanya dikebumikan. Benar dugaan Beeya, ada seseorang yang tengah memeluk nisan di sana. Punggungnya bergetar. Hati Beeya sakit melihatnya.
Langkah kaki Beeya terhenti ketika mendengar ucapan yang teramat lirih.
"Ayah, ketika kata sah diucapkan para saksi ... apa Iyan harus tersenyum bahagia? Atau malah derai air mata yang Iyan keluarkan karena tidak ada Ayah di samping Iyan ketika Iyan mengucapkan janji pernikahan." Suara itu teramat berat dan dalam. "Belum melakukannya saja hati Iyan teramat sedih, Ayah. Bagaimana ketika hari H nanti?"
Air mata membasahi wajah Beeya. Menetes tanpa aba. Betapa sesak dadanya mendengar ungkapan hati calon suaminya. Iyan menutupi perasaannya kepadanya. Iyan tidak ingin menunjukkan kesedihannya.
"Kenapa Ayah tidak adil kepada Iyan? Kenapa, Yah?"
Suara Iyan semakin berat dan tubuhnya bergetar hebat. Rasa kehilangan itu masih ada. Belum rela pun masuh bersarang di hatinya. Anak yang memang tak pernah merasakan kasih sayang ibu, kini harus ditinggalkan oleh ayahnya yang sangat menyayanginya. Pergi sebelum Iyan menikah. Pergi di saat Iyan sedang mengasah kemampuan diri.
Di belakang Beeya, tubuh Arya luruh ke rerumputan. Dia tidak sanggup menopang tubuhnya. Terlalu rapuh dirinya ketika melihat anak sahabatnya menangis pilu di samping pusara ayahnya.
"Iyan akan menikah, Yah. Beeya adalah jodoh dari Ayah, tapi kenapa Ayah tega meninggalkan Iyan ketika Iyan belum sah menjadi suaminya. Iyan ingin Ayah ... Iyan rindu Ayah."
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1