Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
199. Ma-Niak


__ADS_3

Beeya merasa ada yang berbeda ketika meminum pil KB yang diberikan dokter Windi kali ini.


"Kamu kenapa, Chagiya?" Iyan melihat istrinya yang sudah gelisah.


Tanpa Iyan sangka sang istri malah membuka bajunya di depan Iyan dan tak menyisakan sehelai benang pun di kulitnya.


"Chagiya."


Iyan sudah menelan salivanya. Walaupun sudah melakukannya setiap malam, tapi jika melihat istrinya seperti ini membuat gairahnya bangkit. Apalagi, Beeya sudah memulai terlebih dahulu dan membuat Iyan tidak tahan.


Mereka menyelami lautan kenikmatan tanpa penyekat apapun. Suara setan terdengar dengan begitu jelas. Suara kulit yang beradu pun sudah semakin nyaring. Hingga sebuah lava panas memenuhi goa yang ingin meletus juga.


"Arrgghh!!" Mereka berteriak bersama.


"Enak sekali, Chagiya." Beeya pun setuju dengan ucapan Iyan. Dia sangat menikmati perjalanan menuju puncak untuk malam ini.


Beeya tidak ingin memakai baju karena tubuhnya masih terasa panas. Ketika suaminya terlelap, mata yang enggan terpejam membuat Beeya naik ke atas tubuh Iyan dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Iyan terjaga dan meladeni hasrat sang istri hingga lava itupun masuk ke dalam goa sebelum tubuh Beeya ambruk.


Ketika pagi hari pun sama. Beeya menyerang Iyan terlebih dahulu hingga lava memenuhi goanya untuk ketiga kali. Iyan yang sudah selesai membersihkan tubuh, tertawa melihat sang istri yang kini terkulai lemas. Iyan duduk di tepian tempat tidur seraya mengusap lembut rambut Beeya.


"Kamu hot banget sih, Chagiya."


"Enggak tahu, Yang. Tubuh aku bawannya panas aja dan selalu gak bisa nahan." Iyan malah terkekeh. Dia mengecup kening Beeya dengan begitu mesra.


"Jangan kerja, Ayang. Kalau aku mau lagi gimana? Panasnya belum ilang-ilang." Beeya sudah merengek kepada suaminya.


"Di sini aja. Temani aku." Akhirnya Iyan pun mengalah dan seharian ini kamar mereka tertutup gorden dan hanya suara setan yang terdengar. Membuat bulu kuduk meremang.


Untung saja pegawai di rumah Iyan sudah terbiasa. Apalagi jika Iyan ada di rumah. Mereka dilarang naik ke lantai atas. Jam dua belas siang mereka baru berhenti dan Beeya sudah tak berdaya. Ke kamar mandi pun dia harua digendong sang suami tercinta.


"Maaf, ya. Gara-gara aku--"


"Ini keinginan aku, Ayang," potongnya. "Makasih udah nurutin hasrat aku yang semakin gila ini." Iyan malah tertawa dan mencium gemas bibir Beeya.


"Aku akan dengan senang hati melakukan ini semua, Chagiya."


Beeya malah tertawa. Dia lupa jikalau dia menikahi pria sangat mesoem. Tidak sesuai dengan wajahnya yang sangat alim.

__ADS_1


Beby dan Arya sengaja mampir ke kediaman sang putri. Mereka melihat mobil Iyan terparkir di depan. Kedua orang tua Beeya hanya saling pandang.


"Iyan gak ke kantor?" Arya menggedikkan bahunya.


Mereka masuk dan disambut oleh asisten rumah tangga di sana.


"Nona di mana?" tanya Beby.


"Di kamar, Nyonya. Soalnya Mas Iyan hari ini tidak ke kantor. Jadi, seharian mereka berdua belum keluar kamar."


"Kebiasaan!" omel Arya. Beby pun memukul pundak Arya hingga Arya mengaduh.


"Namanya juga masih pengantin baru," balas Beby.


Mereka berdua hanya menunggu anak dan menantu mereka di bawah. Beby datang ke rumah Beeya karena sang putri minta dibuatkan ayam bumbu rujak. Bukannya masakan para asisten rumah tangga Iyan tidak enak, tapi Beeya menginginkan langsung sang mamah yang membuatkannya.


Menjelang senja, Beeya dan Iyan baru membuka mata. Mereka sangat kelelahan karena permainan yang luar biasa itu. Beeya membangunkan Iyan dengan mengecup bibirnya. Sang suami pasti akan segera terbangun.


"Ayang, aku lapar."


"Mandi dulu, baru kita ke bawah." Beeya pun mengangguk. Namun, dia meringis kesakitan hingga membuat Iyan langsung membopongnya menuju kamar mandi. Memandikan Beeya bagai anak bayi. Juga memakaikannya baju. Setelah cantik dan rapih, Iyan ingin memggendong sang istri, tapi Beeya menolak.


"Ya gak apa-apa." Namun, Beeya tetap menolak. Dia meminta Iyan untuk menggandengnya saja.


"Non, tadi orang tua Non datang ke sini." Salah satu asisten ruma tangga berkata.


"Terus sekarang ke mana?"


"Udah pulang, Non. Mereka cukup lama di sini. Berhubung gak mau ganggu Non dan Mas Iyan makanya mereka pulang."


Beeya sudah menatap ke arah Iyan. Sang suami mengusap lembut pundak Beeya. Dia tahu istrinya ini tengah merindukan kedua orang tuanya.


"Sebelum ke Bandung kita nginap di rumah Mamah Papah." Beeya tersenyum dan mengangguk setuju.


"Oh iya, tadi Nyonya masak ayam bumbu rujak. Katanya Non ingin dibuatkan menu ini." Seketika mata Beeya berbinar dan dia segera meminta mbak untuk menyiapkannya.


Iyan tersenyum melihat sang istri makan dengan begitu lahapnya. Sedari tadi hanya ayam yang Beeya makan tanpa makan nasi. Dia anti makan nasi jika malam, tapi cemilan harus selalu ada.

__ADS_1


"Ayang mau?" Iyan menggeleng. Menghirup aroma bumbunya membuat hidungnya ingin bersin.


Selesai makan, Beeya ingin kembali ke kamar. Menikmati langit malam di balkon dengan dipeluk sang suami dari belakang.


"Aku masih ingin seperti ini. Berasa pacaran, tapi sudah halal. Jadi, mau kebablasan pun gak masalah." Iyan tergelak mendengarnya dan tak henti mencium pipi Beeya dari samping.


Mereka berbincang cukup lama dan pada akhirnya mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Lagi-lagi setelah meminum pil KB tubuh Beeya merasa panas dan selalu ingin disentuh oleh suaminya. Jika, sudah begini Iyan tidak akan ingat untuk memakai pengaman apalagi istrinya begitu liar. Terus berteriak untuk meminta dipuaskan.


Malam ini yang bekerja Iyan dan Beeya yang menjadi penikmat saja. Iyan pun cukup kewalahan karena sang istri begitu kuat. Ketika selesai pun Beeya meminta diulang kembali. Jam dua pagi barulah mereka terlelap dengan tubuh lemas tak berdaya.


Iyan sedikit khawatir dengan tingkah sang istri yang berubah menjadi pecandu. Iyan duduk di samping sang istri yang masih terpejam.


"Chagiya." Iyan sudah mengusap lembut rambut Beeya. Perlahan mata Beeya pun teebuka dan dia tersenyum ke arah sang suami.


"Udah bangun?" Iyan tidak menjawab, dia malah terlihat sangat khawatir.


"Ini kamu sakit gak?" Tangan Iyan sudah masuk ke dalam selimut dan menyentuh benda keramat milik istrinya yang berada di bawah perut.


"Kenapa memangnya, Yang?"


"Kok aku merasa ada yang gak beres ya sama kamu," ucap Iyan. "Kita ke dokter aja, ya."


Beeya malah tertawa dan menggeleng dengan begitu cepat. Dia menatap wajah suaminya dan mengusap lembut pipi Iyan.


"Ini hanya perihal hormon saja, Yang. Sudah pernah aku jadi maniak seperti ini 'kan." Iyan mengangguk.


"Jangan khawatir, ya. Aku gak apa-apa."


.


"Kapan efek itu akan berakhir?" tanya salah seorang dari balik sambungan telepon.


"Tiga hari hormon itu selesai karena


tiga hari pertama pasti akan sangat subur dan minim terjadi kegagalan. Apalagi, melakukannya sangat sering. Ditambah sper ma sang suami sangat bagus."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Boleh minta komennya gak?


__ADS_2