Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
197. Merasa Bersalah


__ADS_3

Selepas kedua orang tuanya pulang, Beeya masuk ke dalam kamar dan duduk di tepian ranjang. Dia merasa bersalah karena sudah membohongi kedua orang tuanya.


"Maafkan Bee, Pah, Mah." Suara dengan penuh rasa penyesalan yang keluar dari mulut Beeya.


Pandangannya kini tertuju pada laci yang berada di samping tempat tidur. Laci yang menjadi tempat penyimpanan benda terlarang. Perlahan dia menarik laci tersebut. Matanya nanar melihat isi di dalamnya. Pil penunda kehamilan, juga karet penyimpan cairan yang membahayakan.


Beeya menghembuskan napas kasar. Kemudian, dia melihat ke arah perutnya yang masih rata. Tangannya perlahan menyentuh perut itu.


"Aku belum siap," gumamnya. "Aku takut nantinya akan melukai janin yang tumbuh di dalam sini. Atau juga membahayakan anakku yang baru lahir. Psikisku belum sepenuhnya sembuh."


Beeya banyak mendengar perihal baby blues yang sering wanita alami setelah melahirkan. Baby blues bisa membuat seseorang bersikap kejam kepada buah hatinya sendiri. Itulah yang tidak ingin terjadi pada Beeya. Dia sadar, dia masih sakit. Belum sepenuhnya pulih.


Pertanyaan kapan punya anak bukan hanya ditujukan pada Beeya saja. Keluarga Iyan pun sering menanyakan akan hal itu. Terutama kedua kakak perempuannya.


"Kamu gak nunda 'kan?" Insting sang kakak pertama sangat tajam dan hampir membuat Iyan kebingungan untuk menjawabnya. Namun, Iyan masih bisa mengendalikan dirinya.


"Enggak, Kak. Sedikasihnya aja." Begitulah jawabnya. Iyan sengaja mampir ke rumah sang kakak karena sang abang ingin bertemu dengannya untuk membicarakan perihal moeda kafe.


"Om, punya anaknya langsung lima, ya. Biar kita bisa ngasuh satu-satu," ujar Aleeya.


"Biar gak rebutan, Om," timpal Aleena.


"Kalian kira anak kucing," balas Iyan. Echa malah tertawa mendengarnya. Dia teringat akan ejekan mertua Iyan kepada dirinya dan juga Aska jikalau mereka berdua adalah turunan kucing. Sekali beranak langsung dapat banyak.


Selesai dengan urusannya bersama Radit, Iyan duduk sebentar di teras bersama Aleesa. Mereka berdua tengah memandangi makhluk-makhluk tak kasat mata yang masih setia berada di rumah Echa.


"Aku kok heran ya, Om. Setiap kali Yansen databg ke rumah, mereka semua seakan menghilang. Kenapa, ya?" Aleesa sudah membuka percakapan.


"Kamu udah tanya pada mereka?" Aleesa mengangguk. "Terus?"


"Tidak ada yang membuka suara sama sekali. Mereka seakan menutup mulut mereka dengan begitu rapat." Iyan hanya tersenyum. Dia pun beranjak dan menuju halaman samping di mana Om Uwo dan Jojo berada.

__ADS_1


"Iyan!"


Jojo sudah berteriak gembira begitu juga dengan Om Uwo yang tersenyum sumringah melihat Iyan datang.


"Sombong!" Jojo merajuk.


"Aku sibuk, Jo. Lagian 'kan aku gak melarang kalian untuk ke rumah," terang Iyan.


"Iya, tapi Ibu melarang kita ke sana."


"Ibu?" Iyan merindukan sosok tersebut.


"Iya, ketika kamu pindah Ibu datang dan bilang kepada kami semua untuk tidak boleh ke rumah kamu. Tidak boleh ganggu kamu dan istri kamu."


Iyan merasa terharu mendengarnya. Walaupun hanya sekadar ibu di dalam mata batinnya, tapi sosok ibu seperti ibu sungguhan untuknya. Sangat peduli dan menjaga.


Sedang asyik berbincang, ponsel Iyan berdering dan membuatnya menjawab panggilan dari sang istri.


"Masih di rumah Kakak?"


"Iya. Kenapa? Mau dibawain apa?"


"Cepat pulang."


Suara Beeya kali ini terdengar berubah dan membuat Iyan cemas. Dahinya mengkerut dan pikiran jelek berkelana di kepala.


"Kamu kenapa?"


"Cepat pulang, Ayang." Sebuah permintaan dengan suara yang bergetar.


"Iya. Aku pulang sekarang."

__ADS_1


Teman-teman tak kasat mata Iyan menukikkan alis mereka karena melihat Iyan yang seidkit panik.


"Ada apa, Yan?" Jojo sudah bertanya.


"Istriku sepertinya tengah menangis. Aku pulang dulu, ya. Nanti aku main lagi ke sini."


Iyan bergegas pergi dengan langkah cepat. Teman-teman Iyan hanya tersenyum. Setelah menikah Iyan sangat berubah. Dia benar-benar menjadi kepala keluarga sesungguhnya.


Sesampainya di rumah, Iyan bergegas naik ke lantai atas. Pintu kamar dia buka dan dia melihat istrinya tengah duduk di tepian tempat tidur dengan kepala menunduk. Tangannya tengah memegang pil penunda kehamilan.


"Chagiya."


Beeya menoleh dan segera berhambur memeluk tubuh Iyan. Dia menangis, menumpahkan rasa sesak di dadanya.


"Kamu kenapa?"


"Ayang, apa aku berhenti aja minum pil KB ini." Iyan pun tercengang.


"Kenapa?"


"Tadi Mamah dan Papah ke sini. Mereka mengatakan bahwa mereka ingin segera menimang cucu dari kita." Suara Beeya begitu lemah.


Iyan menghela napas kasar. Dia mengusap lembut punggung Beeya. Kemudian, memundurkan tubuh Beeya dari pelukannya.


"Apa kamu sudah siap?" Itulah yang Iyan tanyakan. Beeya terdiam, sorot matanya yang menjawab.


"Jangan dipaksa jika kamu belum siap."


"Tapi, Mamah--"


"Jangan pikirkan akan hal itu. Selagi aku masih tidak mempermasalahkan, kamu jangan takut. Aku akan menjadi orang terdepan untuk membela kamu. Biarlah aku yang dibenci oleh mereka. Asal jangan kamu."

__ADS_1


__ADS_2