Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
194. Jogja


__ADS_3

Akhirnya, Iyan mendapat cuti juga dari sang Abang. Dia dan Beeya bisa menggunakan tiket pesawat yang Gavin berikan. Juga kartu yabg berisi Saldo tidak sedikit dari sang keponakan. Hadiah pernikahan yang tak biasa dari anak Sultan.


Beeya dan Iyan tidak membawa banyak barang. Mereka hanya membawa apa yang mereka perlukan saja. Sisanya tinggal beli di sana.


"Bawa oleh-oleh," ucap Ghea yang tak mau lepas dari Iyan.


"Adek mau apa?" Iyan akan selalu memanja keponakan cantiknya itu.


"Bawa hantu blangkon, Om." Aleesa menimpali.


"Sasa!" pekik semua orang.


"Lama-lama nih rumah jadi peternakan hantu," oceh Arya. Dia sering mendengar banyak orang yang suka melihat hantu bungkus putih di depan teras rumah. Belum lagi hantu jelek yang ada di depan pagar rumah.


.

__ADS_1


Iyan dan Beeya pun bertolak ke Jogja. Tangan mereka terus bertaut. Tibanya di Jogja, mereka beristirahat di sebuah hotel yang sudah Aksa pesankan untuk satu Minggu ke depan. Hotel yang begitu mewah dengan pemandangan yang sangat indah. Cocok untum tempat berbulan madu.


"Mau main sekarang apa nanti?" Iyan sudah memeluk tubuh Beeya dari belakang.


"Istirahat dulu, ya." Iyan pun mengangguk. Dia sudah membawa alat tempur, yakni kumpulan film berdosa agar istrinya semakin garang.


Perihal baju jaring yang dilihat Ghea. Aksa dan Riana memarahi sepasang suami-istri itu. Mata anak mereka sudah ternoda. Untung saja Aksa berotak cerdas. Alasan yang dia kemukakan dapat dicerna oleh anak berusia tujuh tahun.


Seperti sore ini, Beeya sudah terbangun lebih dulu dari Iyan. Dia mulai nakal, menciumi wajah Iyan hingga suaminya terbangun.


"Ayang, main di air, yuk." Beeya sudah membangunkan anaconda yang tertidur. Sudah pasti Iyan tidak akan menolak. Dia langsung bangun dan dia melupakan sesuatu, dia segera mengambil ponsel khususnya.


Bibir Iyan sudah nakal dan tak mau tinggal diam. Terus merangsang Beeya hingga erangan panjang keluar dari mulut istrinya. Napas Beeya sudah terengah-engah. Wajahnya pun dia letakkan di bahu Iyan.


"Nyampe?" Beeya pun mengangguk. "Tapi, aku belum Chagiya." Iyan sudah mengubah posisi Beeya. Dia menyuruh Beeya untuk menungging.

__ADS_1


Jeritan demi jeritan yang keluar dari mulut Beeya membuat Iyan semakin memompa hingga Beeya menjerit lebih keras.


"Ayang, terus!"


Hasrat mereka berdua patut diacungi jempol. Sudah hampir satu bulan menikah stamina mereka luar biasa. Hampir setiap malam Beeya dan Iyan melakukannya. Bukan hanya satu kali, bisa mencapai tiga empat kali mereka sampai puncak.


Erangan nikmat keluar dari mulut mereka secara bersamaan. Iyan mengecup bibir Beeya dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Malam pertama di Jogja dipakai untuk beristirahat. Pasalnya sore tadi Iyan meminta jatah lebih membuat Beeya bagai ayam tulang lunak sekarang.


"Chagiya, bawa power bank gak?" Iyan mulai membangunkan istrinya yang terlelap karena kelelahan.


"Di tas aku, Yang." Beeya pun terpejam kembali.


Iyan meraih tas Beeya. Dia mencari power bank. Ketika sudah menemukan dan hendak mengambil, bukan hanya power bank yang terambil olehnya. Sebuah obat yang masih terbungkus oleh kardus kini ada di tangannya. Ketika Iyan mengeluarkannya, nama obat itu membuat mata Iyan melebar dengan sempurna.


"Pil KB."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong...


__ADS_2