Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
61. Ketakutan


__ADS_3

Sedari tadi perasaan Iyan tidak enak. Dia mempercepat menyelesaikan pekerjaannya. Satu nama yang ada di kepalanya, yaitu Beeya.


"Ada apa ini?" gumamnya.


Setelah selesai semua, dia bergegas pulang dan rumah yang dituju adalah rumah Beeya. Hatinya semakin berdegup tak karuhan. Jikalau sudah seperti ini pasti ada yang tidak beres.


Ketika dia hendak membelokkan motor ke rumah Beeya, samar terdengar dua ibu-ibu membicarakan tentang Beeya.


"Gak nyangka ya, si Beeya jadi pelakor. Mana itu cewe lagu bunting."


Iyan dapat mengerti apa yang dikatakan oleh dua ibu-ibu yang Iyan sebut cctv berjalan. Baru saja tiba di halaman rumah Beeya dia dikejutkan dengan posisi Anggie yang tengah memegang pisau dan mengarahkan kepada Beeya. Apalagi tubuh Beeya membentur dinding.


"Anggie!"


Seruan itu membuat Anggie menoleh. Bukannya menjauh dia malah semakin sengaja mendekat ke arah Beeya yang sudah tersudut. Dia mengarahkan pisau itu pada leher Beeya.


"Aku akan membunuh perempuan ini," ucapnya. "Jadilah ayah dari anak yang aku kandung, Yan."


Sungguh ucapan yang menjijikan di telinga Iyan. Dia sampai membuang ludahnya. Kemudian, dia menatap ke arah Beeya yang tanpa ekspresi. Malah, perempuan itu menyunggingkan senyum ke arah Iyan.


"Aku mohon, tolong turunkan pisau itu," pinta Iyan. Anggie menggeleng dengan cepat.


"TIDAK AKAN!"


Anggie malah meletakkan ujung pisau itu tepat di kulit leher Beeya. Tak ada reaksi apapun dari Beeya. Namun, aroma melati sudah menyeruak dan sangat menusuk hidung.


"Ibu," gumam Iyan.


Dia melihat sosok wanita berbaju putih berada di depan Anggie dan Membelakangi Iyan. Tak berselang lama Anggie mengerang kesakitan. Iyan melihat pisau itu diturunkan oleh ibu dari leher Beeya dan terjatuh. Iyan segera berlari dan memeluk tubuh Beeya.


"Kamu gak apa-apa?"

__ADS_1


"SAKIT!" erang Anggie sambil memegangi perutnya.


Iyan tidak peduli kepada wanita di sampingnya. Biarlah itu urusan ibu. Mau disiksa ataupun dibunuh Iyan tidak peduli lagi. Sudah cukup dia memberi toleransi kepada Anggie. Akhirnya, dia membawa tubuh Beeya yang cukup dingin ke dalam rumah dan disambut dengan pelukan hangat oleh Beby.


"Mamah sudah hubungi Papah."


Belum kering ucapan dari Beby, Arya datang dengan beberapa orang polisi. Mereka melihat Anggie seperti orang gila yang berteriak sendiri dan terus berkata jangan. Sedangkan Arya sudah berlari ke dalam karena mengkhawatirkan putrinya. Di sana Beeya sudah dipeluk oleh Beby dan kini Arya ikut memeluk tubuh anaknya.


"Bee."


Beeya hanya terdiam. Tidak ada yang dia katakan. Beby menatap ke arah sang suami dan matanya sudah nanar


"Pah," panggil Beby.


Iyan tidak mengerti, ada apa yang sebenarnya terjadi. Dia juga melihat ada yang aneh pada diri Beeya.


"Yan, tolong peluk Beeya," pinta Arya.


"Chagiya," panggil Iyan.


"A-aku takut." Suara Beeya bergetar dan Iyan segera memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat.


"Aku di sini, jangan takut," ujarnya. Beeya pun membalas pelukan Iyan dengan begitu erat.


Di saat Beeya merasa ketakutan yang luar biasa, dia akan seperti ini. Terdiam membisu dengan tatapan kosong.


"Kita harus segera ke Bali," ucap Arya.


Perkataan itu membuat tubuh Iyan menegang. Dia menatap papah dari Beeya dengan serius.


"Pah, ijinkan Kak Bee di sini dulu untuk malam ini. Biarkan semuanya normal dulu," pinta Iyan.

__ADS_1


Beby setuju dengan ucapan Iyan. Dia hanya takut ketakutan Beeya jadi ketika di dalam pesawat.


"Iya, Pah. Mamah setuju dengan ucapan Iyan."


Arya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pun akhirnya mengikuti keinginan istrinya. Iyan sudah membawa Beeya ke kamarnya. Dia menatap lekat ke arah wajah Beeya. Pandangannya tertuju pada leher Beeya yang sedikit memerah karena ujung pisau yang menyentuh kulitnya.


Tangan Iyan sudah mulai menyentuh luka itu dan mampu membuat Beeya meringis. Iyan segera menuju tempat penyimpanan obat dan mengambil tisu. Membersihkan luka itu, lalu mengolesinya dengan salep. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Iyan maupun Beeya.


"Istirahat, ya."


Beeya menggeleng, dia menarik tangan Iyan agar terus berada di sampingnya.


"Jangan tinggalkan aku," pinta Beeya.


Iyan terus berada di samping Beeya dengan tangan yang terus saling menggenggam. Beeya seakan tidak ingin lepas dari Iyan.


Dia menatap Beeya yang kini terlelap tanpa melepaskan tangan Iyan. Terlihat wajah Beeya yang masih ketakutan.


"Apa aku harus melamar kamu sekarang? Agar kita selalu terus bersama."


.


"Pergi! Jangan mendekat!" Anggie terus berteriak di dalam mobil polisi yang membawanya.


"Sudah jelas kalau perempuan ini gila," ucap salah seorang polisi.


"Tinggal tunggu surat perintah agar dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa."


...****************...


Komen atuh ...

__ADS_1


Sepi amat ....


__ADS_2