Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
163. Semuanya Datang


__ADS_3

Echa dan Riana sudah berada di kamar Iyan. Mereka berdua menatap pilu ke arah adik mereka. Ada sorot penuh kesedihan yang mereka tunjukkan. Padahal Iyan sudah tersenyum ke arah dia wanita itu..


"Yan."


Echa segera berhambur memeluk tubuh adiknya yang tinggi. Begitu juga dengan Riana. Tangis Iyan yang baru saja reda karena mendengar lagu sedih tentang ayah, kini bulir bening itu kembali menetes lagi. Pelukan Echa dan Riana mengingatkannya akan pelukan kedua orang tuanya di mimpinya tadi.


"Yang kuat ya untuk besok."


Bukan hanya Arya uang khawatir dan tidak kuat, Echa pun merasakan hal yang sama. Dia takut air matanya menetes dan membuat keadaan kacau. Pernikahan adiknya tanpa kedua orang tua, hanya ada kedua kakak amatlah memilukan.


"Gak apa-apa 'kan Kakak dan Kak Ri yang membawa kamu menuju meja akad." Iyan menggelengkan kepala. Dia harus sadar diri bahwasannya sang ayah dan ibu sudah tiada.


Echa melonggarkan pelukannya. Dia menatap wajah adiknya. Mengusap pipi Iyan yang sudah basah.


"Kamu bisa janji gak kepada Kakak?" Iyan menatap heran ke arah Echa. Matanya sembab karena sedari tadi menangis.


"Apa?" tanya Iyan. Dia juga menatap ke arah Riana.


"Jangan menangis ketika akad besok." Rianalah yang berbicara.


"Iyan gak bisa janji, Kak." Jawaban yang membuat Riana menitikan air matanya lagi.


"Yan, Kak Ri mohon. Kamu harus kuat, Ayah pasti akan tersenyum bangga jika kamu bisa melewati ijab kabul dengan lancar tanpa adanya sebuah tangisan." Suara Riana begitu bergetar.


"Kenyataan ini seperti gak adil untuk Iyan," keluhnya seraya menunduk.


"Yan, tidak ada yang mau seperti ini," sahut Echa. Tangannya sudah mengusap lembut pundak sang adik. "Ini semua sudah menjadi ketentuan Tuhan."


"Perihal mengikhlaskan, Kakak juga belum bisa mengikhlaskan kepergian Ayah sepenuhnya. Begitu juga dengan Kak Ri," paparnya. "Kamu adalah amanat Ayah yang harus kami jaga. Kamu bagai emas berharga bagi ayah."


"Jika, Ayah bisa memilih. Mungkin Ayah juga tidak akan pergi sebelum kamu menikah. Pastinya juga Ayah ingin melihat kamu menjabat tangan calon mertua kamu. Mengucapkan ijab kabul dengan begitu lantang hingga kata sah terdengar dan kamu sudah sah menjadi seorang suami. Itu yang pastinya Ayah ingin lakukan." Echa masih menjelaskan.


"Sabar ya, Yan. Walaupun tanpa Ayah, Kakak dan Kak Ri akan terus mendampingi kamu. Anggaplah Kakak dan Kak Ri bunda dan ayah." Iyan memeluk tubuh kedua kakaknya. Ada haru yang tak terkira di hati Iyan.


.

__ADS_1


Di lain tempat, seorang wanita terlelap dengan begitu damainya. Namun, dia terbangun ketika merasakan sentuhan lembut di rambutnya. Beeya mengerjapkan matanya. Dia melihat ada seorang wanita dewasa yang mengenakan gaun putih. Juga ada pria bertubuh tegap yang pernah Beeya lihat sebelumnya. Juga pemuda yang seumuran dengan Iyan. Ada juga anak laki-laki ABG yang ikut juga.


"Ka-kalian--"


"Jangan takut, Nak." Suara wanita itu begitu lembut. Tangannya terus mengusap lembut rambut Beeya.


"Kami ke sini hanya ingin mengucapkan terima kasih," ucap pria berbadan besar itu.


"Kamu mampu mengubah hidup Iyan," lanjut pemuda yang usianya hampir sama dengan Iyan. "Semenjak bersama kamu, Iyan sangat berubah. Banyak tawa lepas yang dapat aku lihat. Beda dengan Iyan yang dulu aku kenal."


"Jaga Kak Iyan ya, Kak. Sayangi dia ... Bunda bilang, gantikan posisi Bunda agar Kak Iyan tidak kehilangan kasih sayang."


"Kamu siapa?" tanya Beeya yang penasaran. Pasalnya dia memanggil Iyan dengan sebutan Kakak.


"Aku Devandra, Kak. Sahabat-sahabatnya Kak Iyan juga Kak Iyan manggil aku Dev. Aku anak dari Bunda Amanda dan Papih Satria."


Beeya mencoba mengingat apa yang dikatakan oleh Dev. Satria, nama itu tidak asing untuknya. Namun, dia tidak ingin pusing. Dia hanya mencoba untuk tersenyum ke arah Dev.


"Jaga Iyan ya, Nak. Ibu tahu kamu anak baik. Kamu juga sangat menyayangi Iyan."


"I-ibu--" Wanita itupun tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya.


"Iyan anak baik, jaga dia. Saya akan pindahkan tugas saya ke kamu karena tugas saya sudah selesai."


Hati Beeya tiba-tiba mencelos. Kenapa begitu sakit mendengar ucapan wanita yang ada di sampingnya ini? Ucapan tulusnya sangat terdengar di telinga.


"Kami memiliki harapan yang besar kepada kamu. Kami berharap kamu dan Iyan akan menjadi keluarga bahagia. Kami tidak akan pernah mengganggu kalian, tapi ingatlah kami akan selalu menjaga kalian dari kejauhan. Jangan sungkan ketika kalian membutuhkan bantuan."


Pria berbadan kekar itu sama seperti wanita tadi. Ucapannya sangat tulus terdengar. Ditambah seulas senyum yang dia sunggingkan.


"Aku percaya sama kamu." Pemuda itupun tersenyum ke arahnya.


Ada rasa nyaman yang menjalar. Orang-orang ini seperti membawa vibes positif pada tubuhnya.


"Bilang kepada Iyan, Ibu akan melihat dia mengucapkan ijab kabul. Dia gak akan pernah sendirian."

__ADS_1


Kini, mata Beeya yang berkaca-kaca. Dia merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh wanita yang menyebut dirinya ibu.


"Saya juga akan datang. Saya tidak akan melewatkan hari bahagia keponakan saya." Pria berbadan kekar pun ikut menambahkan.


"Apalagi aku, aku akan melihat Iyan menuju pintu kebahagian."


"Kenapa kalian begitu baik kepada Iyan? Bee merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan kebaikan kalian," ucap Beeya dengan nada sedih.


"Kami sayang Iyan, Nak." Sang ibu menjawab dengan begitu lembut. Senyum pun masih terukir di wajahnya.


"Sebelum dia menemukan kebahagiannya, Kamilah yang akan membuatnya bahagia." Begitulah sang pria berbadan kekar menjawab.


"Makasih banyak," ucap Beeya. Mereka semua pun tersenyum.


"Boleh Bee memeluk kalian?" Permintaan Beeya membuat tiga laki-laki itu saling pandang. Sedangkan sang ibu sudah memeluk Beeya dengan begitu erat.


Beeya turun dari tempat tidur dan mulai menghampiri tiga laki-laki yang berdiri. Dia menatap pria berbadan kekar. Selang beberapa detik, Beeya segera memeluk tubuh pria itu.


"Makasih banyak, Om." Pria berbadan tegap itu merasa terharu. Baru kali ini dia merasakan kasih sayang yang luar biasa.


Sekarang Beeya beralih pada Jojo. Dia tersenyum ke arah Jojo dengan begitu tulus.


"Makasih, ya. Udah jadi sahabat Iyan."


"Aku senang bersahabat dengan Iyan." Beeya memeluk tubuh Jojo.


Dev, dia mencium tangan Beeya. Anak itu begitu sopan. Beeya tersenyum melihat sikap Dev tersebut.


.


Arya dia terus melengkungkan senyum ketika matanya terpejam. Namun, ada bulir bening juga yang mengalir di ujung matanya.


Arina dan Beby hanya dapat melihat Arya dengan tatapan pilu. Mereka berdua juga merasakan ada yang datang ke kamar itu.


"Duda karatan, kalau emang lu ada di sini bilang ke si Sunarya biar dia kuat untuk besok. Besok adalah hari bahagia, bukan hari penuh duka."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2