Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
109. Restu Sang Kakak


__ADS_3

"Nanti malam Kakak ingin berbicara dengan kamu."


Sejenak tubuh Iyan menegang membaca isi pesan yang dikirimkan sang kakak pertama. Hatinya bergemuruh sangat cepat. Ada ketakutan yang tak bisa dia ungkapkan.


"Ada apa?"


Kakak pertamanya adalah salah satu orang yang Iyan takuti setelah ayahnya. Sedari kecil Iyan sudah menganggap Echa seperti ibu kandungnya sendiri. Wajar saja ketika Echa berbicara seperti ini Iyan dilanda rasa takut. Apalagi tidak ada emoticon apapun di belakangnya. Biasanya sang kakak akan menyematkan emoticon lucu di belakang pesan yang dia kirim. Semakin membuat Iyan ketar-ketir sekarang.


"Ayang, ada apa?" tanya Beeya. Dia melihat wajah Iyan yang berubah drastis.


Tidak ada jawaban dari Iyan. Dia masih menatap layar ponselnya dengan hati yang tak karuhan. Wajahnya pun tak bisa ditebak. Saking penasarannya Beeya berjinjit dan melihat langsung apa yang ada di layar ponsel milik kekasihnya. Aplikasi pesanlah yang sedang Iyan buka sekarang. Namun, Kedua alis Beeya menukik tajam ketika melihat nama si pengirim pesan. Dia juga membaca apa yang kakaknya Iyan sampaikan.


"Kak Echa mau ke sini?" Beeya sudah mendongak ke arah sang kekasih hati yang masih mematung. Mimik wajah Iyan terlihat sangat cemas. Dia juga menunjukkan raut penuh ketakutan.


Beeya menunggu jawaban dari Iyan. Akan tetapi, kekasihnya itu masih saja diam membisu.


"Ayang," panggil Beeya lagi.


"Gak tahu."

__ADS_1


Dua kata yang menjadi jawaban dan terdengar sangat lesu dan datar. Beeya menelisik setiap inchi wajah Iyan. Pemuda itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


"Ayang," panggil Beeya untuk kesekian kalinya. Kini, tangan Beeya sudah menyentuh lengan Iyan. Seketika tubuh Iyan melorot ke bawah. Dia pun berjongkok di dalam kamar mandi membuat Beeya bingung dibuatnya.


"Kenapa?" Beeya khawatir dengan apa yang terjadi dengan Iyan sekarang.


"Kalau-" Dahi Beeya mengkerut mendengar ucapan Iyan yang terjeda. Sekarang, kedua alisnya menukik cukup tajam meminta Iyan melanjutkan ucapannya lagi.


"Kalau Kak Echa belum memberikan restunya, bagaimana?" tanya Iyan dengan wajah sendunya.


Beeya dapat menghela napas lega mendengar itu semua. Dia kira ada apa, ternyata hanya perihal restu sang kakak.


Beeya ikut berjongkok di depan Iyan. Menggenggam erat tangan kekasihnya itu.


"Aku tidak minta diperjuangkan karena aku bukanlah wanita yang sempurna," paparnya. Iyan pun menggeleng dan dia berkata, "aku akan memperjuangkan kamu. Aku mencintai kamu, Abeeya Bhaskara."


Seulas senyum terukir di wajah Beeya karena dia sangat melihat keseriusan dari ucapan Iyan. Mimik wajahnya pun tak berdusta.


"Maukah kamu berjuang denganku? Demi mendapat restu dari Kak Echa?" Kepala Beeya pun mengangguk begitu cepat. Iyan tersenyum bahagia dan segera memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat.

__ADS_1


Gedoran dari luar membuat pelukan itu harus terurai. Apalagi terdengar suara parau dari sang keponakan.


"Om, Tante," teriaknya.


Iyan dan Beeya pun segera berdiri dan membuka pintu kamar mandi. Kirani sudah menggelengkan kepala melihat Iyan dan Beeya di dalam kamar mandi.


"Jangan berbuat dosa di sini," omelnya. Beeya pun berdecak kesal dan Iyan sudah memeluk tubuh Ghea dengan begitu erat.


"Adek takut kalau Om dan Tante tinggalin Adek."


"Enggak, Adek. Om gak akan ninggalin Adek," balas Iyan dengan begitu lembut.


Ghea pun mengurai pelukannya. Menatap Iyan dengan tatapan bingung.


"Lagi apa Om dan Tante di dalam kamar mandi berdua?" tanya anak itu. "Emang bisa e'e berduaan?"


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2