
Anggie tercengang ketika melihat bukan Iyan yang menjemputnya, melainkan Wira.
"Kata Pak manager cepat naik. Jangan buang waktu dia."
Mulut Wira ternyata pedas sekali. Bagai cabe gunung. Anggie mendengkus kesal, tetapi dia mengikuti apa yang diperintahkan oleh Wira. Sesungguhnya dia ingin segera bertemu dengan Iyan dan menunjukkan kecantikannya sekarang.
Di sepanjang perjalan tidak ada yang membuka suara. Wira melajukan motornya bagai Velentino Rossi.
"Pegangan."
Wira memerintah Anggie kembali. Namun, Anggie tak menggubrisnya. Dia malah berpegangan pada besi di belakang jok motor.
Tibanya di Jomblo's kafe, Iyan masih berada di lantai atas. Dia terus mengerang kesal karena pesan juga panggilannya tidak dibalas ataupun dijawab oleh Beeya. Jujur, dia ingin segera terbang ke Bali menemui pujaan hati.
Ponselnya berdering, dia kira Beeya ternyata Wira. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.
"Ya."
...
"Hem."
Sambungan telepon pun dia akhirnya. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Sudah tiba saatnya dia berakting layaknya aktor ternama. Di pertengahan anak tangga, langkahnya terhenti ketika dia melihat Anggie sudah duduk di salah satu meja yang ada di sana. Jikalau, itu Beeya sudah pasti dia akan berlari dan memeluk tubuhnya. Sayangnya, itu wanita bermuka dua.
"Maaf ya gak bisa jemput."
Anggie yang tengah melamun sedikit tersentak, dan dia menoleh ke arah seseorang yang sudah menarik kursi untuk dia duduki. Bibir Anggie melengkung dengan sempurna melihat ketampanan yang dipancarkan wajah Iyan malam ini. Dia terlambat menyadari bahwa pria di depannya ini jauh lebih baik, lebih tampan dan lebih kaya dari Raffa.
"Gak apa-apa, kamu pasti sibuk."
Senyum Anggie pun sangat manis, tetapi tak mampu menghipnotis Iyan. Sejatinya hatinya sudah terkunci pada satu sosok yang amat dia sayangi, yakni Beeya.
"Mau pesan apa?" tanya Iyan. Dia sudah memberikan buku menu kepada Anggie.
"Aku ikut apa yang kamu pesan aja."
Mendengar ucapan itu membuat Iyan mamandangi wajah Anggie. Tak Iyan sangka Anggie pun memandang wajahnya.
"Bukankah sebagai makmum harus mengikuti ke mana langkah imamnya pergi."
Bukannya terenyuh, Iyan malah jijik mendengar ucapan Anggie. Dia pun hanya menyunggingkan senyum kecil nyaris tak terlihat.
Iyan memanggil pelayan di sana dan menyebutkan menu yang ingin dia pesan. Anggie sangat bahagia pada akhirnya dia bisa tahu makanan favorit Iyan di kafe ini. Sayangnya, itu semua bukan makanan kesukaan Iyan melainkan Beeya.
__ADS_1
Menunggu pesanan tiba tak banyak yang mereka bicarakan. Hanya sekadar basa-basi belaka. Anggie menyentuh tangan Iyan yang ada di atas meja dengan sengaja, membuat Iyan tersentak. Ternyata Anggie sudah mengambil foto tangan mereka yang saling bersentuhan dan memasukkannya ke dalam sosial media miliknya. Anggie sangat yakin, bahwa Beeya semakin terpuruk dan akan meninggalkan Iyan. Jadi, dia lebih leluasa untuk mendekati Iyan.
Risih dengan tingkah Anggie, akhirnya Iyan memperlihatkan sebuah video kepada Anggie. Seketika mata Anggie melebar.
"Tujuan kamu apa?" Iyan masih berkata tenang dan santai. "Mau balas dendam karena ayah dari anak kamu sekarang masuk ke dalam jeruji besi?"
Anggie tidak menjawab. Dia masih bingung dari mana Iyan bisa mendapatkan video ini.
"Aku tidak mengerti, kenapa sekarang kamu menjelma jadi wanita jahat dan licik."
Iyan sudah melipat kedua tangannya di atas dada. Menatap Anggie dengan tajam.
"Kakakku sudah baik kepada kamu, mau menolong kamu dan bertanggung jawab atas anak yang kamu kandung. Apa seperti ini balasannya?"
Tidak ada nada marah sama sekali yang keluar dari mulut Iyan. Dia berkata dengan tenang, tapi berwajah datar.
"Maafkan aku, Iyan."
Kini, Anggie terisak dan menunduk dalam. Berharap Iyan akan menenangkannya dan memeluknya. Namun, itu tidak seperti yang Anggie harapkan. Iyan masih diam di tempatnya dengan tatapan datar.
"Kamu tahu, berapa kerugian yang harus Abangku bayarkan?" tanyanya. Masih dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Sepuluh Milyar yang harus Abang iparku bayarkan hanya karena ulah kamu."
"Jika, ini kamu lakukan kepada Abang iparku yang kedua ... aku pastikan kamu akan meninggalakan dunia ini sekarang juga."
Anggie terkejut bukan main mendengar penjelasan dari Iyan. Dia tidak tahu ternyata keluarga Iyan lebih sadis dari keluarga Raffa.
Makanan pun sudah datang, Anggie masih tertunduk dalam. Iyan sudah tidak mengeluarkan perkataan lagi.
"Makanlah dulu," titah Iyan.
Tubuh Anggie masih bergetar, tetapi Iyan sudah menggenggam sendok dan garpu di tangan. Dia tidak mempedulikan Anggie. Perutnya lebih penting daripada drama yang tengah Anggie mainkan.
"Aku mencintai kamu, Iyan."
Iyan pun tersedak mendengar ucapan dari Anggie yang tiba-tiba. Dia segera mengambil air mineral yang ada di sampingnya.
"Aku melakukan ini karena aku mencintai kamu. Aku menyayangi kamu, Iyan."
Anggie sengaja berucap dengan keras agar semua orang yang berada di Jomblo's kafe mendengar. Benar saja, sekarang semua mata tertuju pada meja Iyan. Bukan hanya pengunjung, karyawan yang berada di dapur pun ikut melongokkan kepala mereka ke area dalam kafe.
"Selama ini aku memendam perasaan kepada kamu. Kamu masih ingat 'kan bagaimana perhatian kamu sewaktu kita masih SD. Kamu yang sangat menyayangi ibu aku, juga menjaga aku."
__ADS_1
Air mata Anggie mengalir begitu saja. Semua orang bersimpati kepadanya dan merasa iba karena mereka menganggap bahwa cinta Anggie tak terbalas.
Anggie meraih tangan Iyan dan membuat mata Iyan seketika menatap ke arah tangannya.
"Aku sangat mencintai kamu, Iyan. Sangat mencintai kamu," ucapnya penuh dengan ketegasan.
"Jika, aku tidak bisa jadi yang pertama. Tak apa jadikan aku yang kedua juga, yang penting aku bisa tetap bersama kamu."
Tanpa mereka sadari, sudah ada seseorang yang tengah menatap mereka dengan tatapan datar dan tak terbaca.
"Ehem!"
Deheman yang cukup kencang membuat Iyan dan Anggie menoleh. Mata Iyan melebar ketika dia melihat siapa yang tengah berdiri di sana. Sedangkan Anggie sudah tertawa di dalam hati.
"Tuhan memang baik kepadaku."
Batin Anggie berkata dengan sangat percaya diri. Apalagi tatapan orang itu tertuju pada Iyan.
Para karyawan Iyan yang berada di dapur sudah sedikit berisik. Mereka tidak menyangka bahwa Beeya ada di sana juga.
Beeya bertepuk tangan dengan seringainya. Kakinya pun sudah melangkah menuju meja di mana Iyan berada. Iyan semakin dibuat serba salah.
"Chagiya, bisa aku-"
Beeya sudah menutup bibir Iyan dengan jari telunjuknya. Menandakan tidak perlu menjelaskan apapun kepadanya.
"Jadi, seperti ini kelakuan kamu di belakang aku?" tanya Beeya dengan tatapan tajam ke arah Iyan.
"Enggak begitu, Chagiya."
Tangan Beeya sudah meraih gelas yang berisi air berwarna. Terlihat jelas betapa Beeya sangat murka. Iyan pasrah saja ketika isi dalam gelas itu mengenai wajahnya.
Byur!
Iyan yang memejamkan mata, Anggielah yang gelagapan. Tenyata wajahnyalah yang terkena air berwarna tersebut. Beeya tersenyum tipis dan Iyan merasakan ada yang duduk di atas pangkuannya. Ketika matanya terbuka, dia melihat Beeya yang sudah tersenyum menatapnya.
"I miss you."
Bibir Beeya pun dia tempelkan di bibir merah milik Iyan di depan semua orang. Anggie melihat sangat jelas apa yang dilakukan Beeya kepada Iyan. Sekarang, tangan Iyan menarik dagu Beeya menyatukan kecupan mereka lebih dalam lagi. Anggie sungguh tidak bisa berkedip
Inilah yang dikatakan kalah sebelum berperang.
...****************...
__ADS_1
Kalau gak komen keterlaluan.