
Iyan tidak bisa tidur dengan apa yang dia temukan di dalam tas milik sang istri. Tubuhnya menegang seketika. Matanya nanar melihat apa yang sedang dia genggam. Kepalanya menggeleng dengan pelan.
Dia menatap ke arah istrinya yang tengah tertidur dengan begitu damainya. Apa dia harus membangunkannya? Memarahinya? Iyan memejamkan matanya sejenak. Kemudian, dia menghembuskan napas kasar.
Iyan berjalan menuju balkon dengan tangan yang menggenggam pil KB yang Beeya minum. Rasanya dia ingin marah besar, tapi dia yakin istrinya memiliki alasan kuat di balik ini semua.
Iyan duduk di kursi santai yang berada di balkon. Menatap lurus ke depan. Dia memejamkan matanya, dan bulir bening jatuh begitu saja di wajah Iyan. Sedih, sudah pasti.
Usapan lembut di lengan membuat Iyan membuka mata. Senyuman lembut sang ayah membuat mata Iyan semakin berkaca-kaca.
"Jadilah suami yang bijak, Yan. Jangan cepat tersulut emosi. Ingat pada janjimu. Ingat juga pada masa lalu istrimu. Ada alasan di balik ini semua. Jangan sampai kamu menyesal." Ayahnya datang hanya untuk memberikan sebuah nasihat bijak.
Iyan pun teringat akan perkataan Kirani ketika dia hendak kembali ke Bali.
"Jika, ada hal yang tidak kamu sukai dari Beeya jangan langsung marah. Bicarakan baik-baik. Psikisnya pernah tergunacang. Jangan sampai trauma itu kembali terulang."
Semalam ini Iyan tidak dapat memejamkan mata. Dia terus menatap wajah istrinya yang tengah terlelap. Ada rasa kesal terhadap Beeya, tapi dia juga tidak tega memarahi Beeya. Dia tidak ingin menorehkan luka.
Ketiga pagi datang. Beeya sudah terbangun dan tidak ada suaminya di sampingnya. Beeya langsung turun dari tempat tidur dan mencari Iyan. Dia melihat pintu balkon terbuka dan Beeya pun segera ke sana. Dia memeluk tubuh Iyan dari belakang. Membenamkan wajahnya di punggung sang suami.
Beeya merasa ada yang berbeda dari Iyan. Suaminya sama sekali tidak membalas pelukannya. Iyan hanya seperti patung bernapas.
"Ayang, kamu ke--"
Iyan sudah membalikan tubuhnya dan memperlihatkan obat penunda kehamilan yang Beeya minum. Tubuh Beeya pun menegang seketika.
"Jelaskan!" Satu kata yang penuh dengan penekanan. Beeya masih mematung.
"Kenapa diam? Kenapa kamu minum ini?" Suara Iyan sudah meninggi. Beeya pun menunduk dalam.dan air matanya menetes begitu saja..Dia belum mampu menjawab perkataan Iyan.
__ADS_1
"Aku tidak butuh air mata kamu! Aku butuh penjelasan kamu!" Tubuh Beeya semakin bergetar hebat. Bulir beningnya terus mengalir deras.
Kesal dengan sang istri yang tidak menjawab ucapan Beeya. Akhirnya, Iyan melempar pil KB itu ke arah Beeya dan pil KB itu jatuh tepat di ujung kaki istrinya.
"Maaf." Satu kata yang keluar dari mulut Beeya dan itu membuat Iyan tersenyum tipis.
"Hanya maaf?" tekan Iyan.
Beeya mencoba untuk kuat. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya. Perlahan dia mulai menegakkan kepalanya dan menatap wajah sang suami dengan wajah yang basah. Mata Iyan sudah sangat tajam menatapnya.
"Aku belum siap."
"Alasan kalsik!"
Beeya mencoba untuk tersenyum ke arah Iyan. Dia menatap Iyan dengan mata nanar.
"Aku ingin memiliki lebih banyak waktu berdua dengan kamu sebelum buah hati hadir di kehidupan kita. Aku--" Beeya tak bisa melanjutkan ucapannya. Dia menunduk kembali.
"Ketika aku hamil ... aku tidak ingin ditinggalkan oleh suamiku. Aku ingin mengahadapi masa kehamilan berdua," tuturnya. "Aku sudah melihat jadwal kamu untuk satu tahun ke depan. Aku tidak sanggup jika harus kamu tinggal-tinggalakan dalam keadaan berbadan dua."
Beeya merendahkan tubuhnya. Dia mulai berjongkok meraih pil KB yang ada di ujung kakinya.
"Kamu boleh kok marah sama aku. Kamu boleh kecewa sama aku. Aku juga salah karena tidak berkata jujur kepada kamu. Aku gak tega karena kamu menyukai anak-anak." Air mata Beeya masih mengalir deras.
Dia sudah menegakkan tubuhnya kembali. Menatap Iyan untuk kesekian kali.
"Maafkan aku, Iyan."
Beeya membalikkan tubuhnya. Dia memilih pergi dari balkon dengan air mata yang semakin deras mengalir. Pelukan hangat dari belakang membuat langkah Beeya terhenti.
__ADS_1
"Maafkan aku, Chagiya. Maafkan aku." Beeya semakin menangis keras dan membuat Iyan membalikkan tubuh Beeya. Kemudian, memeluknya.
"Harusnya aku tidak emosi. Maafkan aku."
Benar apa yang dikatakan oleh mendiang sang ayah juga Kirani. Ada alasan yang begitu kuat yang Beeya miliki.
Iyan dan Beeya sudah duduk berdua. Iyan sudah menggenggam tangan Beeya dengan begitu erat.
"Aku tidak masalah kalau kamu mau menunda perihal momongan." Beeya sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Iyan.
"Aku juga tidak akan memaksa kamu. Aku gak mau buat kamu sedih. Aku gak mau buat kamu terbebani."
"Apa kamu serius?" Iyan pun mengangguk.
"Aku juga tidak ingin meninggalakan istriku ketika mengandung. Aku tidak mau nasibmu sama seperti Kak Ri." Beeya tersenyum mendengarnya. Dia memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat.
"Makasih ya, Ayang." Iyan pun mengangguk.
"Tapi, tetap ya harus periksa kesuburan. Ketika dilepas, bisa langsung tekdung."
Sampai di sini kisah Iyan dan Beeya di season 1. Kita bertemu di season 2 dengan judul berbeda besok jam 16.00 wib.
Bagaimana reaksi Beeya ketika dinyatakan hamil padahal dia rutin meminum pil penunda kehamilan juga sang suami terkadang memakai pengaman. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tunggu kisahnya, BESOK, JUM'AT 16-09-2022 JAM 16.00 DI NOVELTOON.
see you ..👋
__ADS_1
...T A M A T (Season 1)...