
Kembali ke sepasang pengantin yang sama-sama dalam proses pengenalan. Mereka sama-sama tengah mencoba hingga mereka ketagihan. Apalagi Beeya uang terus membuat Iyan mendesis-desis.
"Chagiya, kamu juga mau gak?" Beeya mendongakkan kepala menatap ke arah Iyan. Iyan menarik kaki Beeya yang kini bagian bawah tubuhnya ada di hadapan Iyan.
"Ayang," panggil Beeya ketika Iyan mulai beraksi. Dia masih belum membuka kain penutup berwarna hitam itu. Masih menjielati berlapiskan kain..
"Eh." Beeya meraskan kegelian. Iyan mengecup benda itu dengan begitu lembut.
"Ayang. Sshh!!"
Tubuh Beeya tak karuhan dan Iyan mulai meribuhkan tubuh sang istri. Dia masih bermain di sana dan membuat Beeya mengeluarkan suara setan.
Perlahan, tangan Iyan sudh menurunkan benda berwarna hitam itu..Dia terpana dengan keindahan yang ada di sana. Bersih sekali. Dia kembali mengecup kulit tebal itu. Beeya semakin tak karuhan Apalagi ketika Iyan perlahan membuka jalan menjnj goa. Sungguh pemandangan yang indah. Nalurinya seakan menyuruhnya untuk.menyusuri semua itu.
Pelan tapi pasti, Indra perasanya mulai menyusuri apa yang harusnya dia jelajahi. Dia memang awam, tapi nalurinya terus berkata jalan..Sungguh nikmat dan akan menjadi candu untuknya. Apalagi ketika dia melihat kacang almond yang tengah memanggil-manggilnya. Dia mulai menggigit kecil dan mampu membuat Beeya berteriak.
"Ayang," keluh Beeya dengan suara parau.
Indra perasa sudah bermain di lubang menuju goa. Beeya terus men-the-sah. Dia juga terus menrancau. Sungguh nikmat sekali. Dia semakin.dinawa terbang melayang oleh Iyan. Bukannya ditutup rapat, Beeya malah membuka jalan itu dan sangat terlihat jelas betapa indahnya jalan menuju goa. Sontak Iyan semakin semangat dan bringas. Istrinya hanya seperti ular dan cacing kepanasan rupanya. Belum.mengeluarka air nikmat yang bisa Iyan tengguk.
"Kamu kuat, Chagiya."
"Lagi, Ayang. Enak banget."
__ADS_1
Kini bukan indera perasa yang Iyan berikan. Jarinya pun sudah mulai masuk dan beemian di pintu gerbang. Suara Beeya semakin gila. Sungguh sang suami membuatnya tak bisa berkutik. Jari dan indera perasanya terus bermain.
"Ayang! Enak banget."
Iyan tersenyum. Benar apa.yang dikatakan oleh beberapa orang. Area sensitiftas wanita terletak pada ini. Beeya terlihat lebih seksi apalagi ketika menghihit jari.
"Mau dimasukin sekarang?" bisik Iyan.
Beeya menatap ke arah sang suami dengan mata sayu.
"Sakit enggak?" tanyanya. Iyan hanya tersenyum.
"Kamu pernah melakukannya?" Beeya lun menggeelng.
"Walaupun udah basah?" Iyan mengangguk. Tangannya masih mengusal-usap bibir tebal itu. Perlahan dia mulai menggesekkam kepala adiknya hingga membuat Beeya mengerang lagi.
"Aku ingin merasakannya, tapi aku takut sakitnya."
"Mau kita coba?"Iyan begitu sabar. "Aku janji akan melakukannya dengan begitu pelan." Mata sendu Iyan dapat terlihat jelas. Sorot matanya sangat menginginkan. Beeya tidak.tega dan akhirany dia mengangguk.
Iyan tersenyum. Dia mulai meloemaat bibir Beeya dengan lembut dan tangan Beeya sudah dia genggam dalam posisi menindih bagian depan. Kecupan yang begitu hangat dan membuatnya terbuai. Apalagi kecupan Iyan semakin turun b
ke bawah dan ke bawah. Beberapa jejak Iyan tinggalkan agar dia tidak melupakan tempat itu dan kembali ke tempat itu tanpa kesasar.
__ADS_1
Desisan Beeya terdengar lagi. Iyan harus bisa mengimbangi kekuatan Beeya di ranjang. Sungguh mengagumkan. Sedari tadi.dia mampu bertahan.
Semakin ke bawah desisan itu semakin terdengar jelas. Iyan semakin bersemangat. Apalagi ketika mengecup kulit tebal.sang istri yang begitu mulus.
"Ayang, cepat!"
Beeya sudah tidak tahan. Efek menonton film begituan semalam di kamar mandi. Dia malah jadi cacing kepanasan. Iyan sudah siap dan mengambil anvang-ancanh. Beeya sudah merasakan sengatan listrik yang adik Iyan berikan. Snegaja berkenalan dulu dengan menggesekkan kulit mereka masing-masing. Setelah dirasa puas Iyan mulai masuk dengan pelan. Istrinya masih terdiam menandakan dia harus sedikit menekan. Ketika hendak menekan bel berbunyi tak tahu waktu. Bel ditekan seperti lagu Doraemon. Iyan pun mengerang kesal. Dia tahu siapa pelakunya.
Aksa dan Riana sudah menarik tangan Ghea untuk menjauhi kamar itu. Namun, sang putri terus menolak. Dia ingin bertemu dengan paman mereka yang sangat tampan. Dia ingin memeluk pamannya.
"Nanti ya, Dek. Om lagi tidur. Jangan dibangunin."
"Ini udah siang, My. Adek mau ke kamar Om." Anak itu sudah merajuk.
Riana menatap ke arah sang suami yang hanya menggedikkan bahu.
"Palinab. juga terganggu." Begitulah batin Aksa.
Di dalam kamar Beeya dan Iyan mengerang kesal. Mereka saling pandang dan merasa terganggu atas apa yang dilakukan orang di luar itu.
"Kurang asem!"
"Lagi enak-enaknya malah ambyar," keluh Beeya. "Ayang, kita honey moon ke Pluto aja biar gak diganggu."
__ADS_1