
Para groomsman sudah berada di ruangan yang sudah Echa iapkan khusus untuk para lelaki. Setelan jas, kemeja juga celana untuk mereka gunakan sudah tergantung rapi dengan nama masing-masing. Begitu juga dengan sepatu.
"Pengantin mintanya groomsmen ala-ala Korea, ya." MUA menjelaskan sebelum dia menprganteng para lelaki yang memang sudah ganteng.
"Asalkan jangan pake dempulan," sahut Wira. Dia menjadi bagian dari groomsmen. Rangga yang duduk di sampingnya hanya mengulum senyum.
"Bedak tipis lah, sama gincu," ujar MUA lagi.
"Jangan menor-menor entar kita disangka cowok apaan." Rangga tergelak mendengar celotehan Wira. Sahabat dari Iyan sangatlah kocak.
"Jangan senyum-senyum gitu dong," ucap pria sedikit kemayu kepada Rangga. Dahi Rangga mengerut mendengar ucapan yang sedikit menjijikan. "Senyummu mengalihkan duniaku." Dagu Rangga pun dicubit manja oleh MUA itu dan membuat Rangga bergidik ngeri. Wira malah tertawa terbahak. Wira dan Ranggalah yang pertma kali akan dipertampan.
Kalfa menatap sedikit sinis ketika melihat Rangga tertawa dengan begitu lepas. Ditambah kedatangan Gavin yang langsung menghampiri Kalfa membuatnya sedikit tida suka.
"Kenapa keluarga Aleena dengan mudah dengan ank itu? Apalagi Gavin, si anak cabe setan yang begitu baik kepada Rangga," batin Kalfa berkata.
Beda halnya dengan Rio. Dia tengah fokus pada benda pipih miliknya. Kefokusannya terganggu ketika ada pesan masuk dari sahabatnya. Matanya melebar ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya itu.
"Gua mau hadir si acara resepsi." Begitulah isi pesan dari Restu.
"Muka lu masih bonyok. jangan malu-maluin gua," canda Rio yang mengirimkan pesan balasan
"Banyak yang masih manis, Bro."
Rio malah tergelak membacanya. Sungguh sahabatnya itu selalu membuat hari-harinya berwarna. Mereka tidak pernah bertengkar semenjak dewas. Sedari kecil mereka sudah kenyang dengan yang namanya bertengkar, adu jotos dan saling memusuhi. Sekarang mereka hanya ingin saling menjaga dan melindungi. Hubungan mereka melebihi hubungan kakak-adik. Sang ibu dari Rio pun sudah menganggap Rio seperti anaknya sendiri.
"Kayaknya ada maksud terselubung." Tangan Rio mengetik kaliamat itu. Dia mencium aroma-aroma yang tidak memoduskam
"Siyalan!!" Restu pun tertawa membaca makian dari sahabatnya itu.
Sedang asyik membalas pesan Restu, Yansen menghampiri Rio dan duduk tepat di samping Rio. Sontak Rio, terkejut apalagi Yansen sudah menunjukkan wajah anehnya.
"Kak Restu ke mana?" tanyanya. "Dari kemarin aku nggak lihat."
__ADS_1
Terkadang Rio bingung dengan anak ini. Yansen sering melihat Restu dan Aleesa beradu omong juga bertengkar. Namun, Yansen tidak pernah membela Aleesa maupun membela Restu. Dia malah tersenyum seakan dia bahagia melihat dua orang itu
"Dia lagi nggak enak badan," jawab Rio. Rio tidak akan pernah membuka kejadian semalam kepada siapapun. Kini, Rio menatap lekat ke arah Yansen.
"Kenapa emang?" tanyanya penasaran.
"Enggak, aku cuma--" Yansen tidak melanjutkan. Rio pun dibuat bingung oleh sahabat sepupunya.
"Si Restu diikutin setan?" tebak Rio. Dia tahu kelebihan yang dimiliki oleh Yansen juga Aleesa.
"Kok bawa-bawa setan?" tanya Yansen bingung.
"Lagian lu aneh. Ngomong cuma sepotong-sepotong," sungut Rio. Yansen hanya nyengir kuda. Anak itu malah beranjak dari dekat Rio dan membuat Rio menggelengkan kepala.
Yansen adalah anak yang baik. Wajahnya pun tampan dan bisa dibilang lebih tampan dari Restu. Dia juga tahu bagaimana persahabatan Yansen dan Aleesa. Mereka begitu dekat dan terlihat jelas Aleesa merasa nyaman jika berada dekat dengan anak itu.
Apakah Rio merestui? Jika Yansen dan Aleesa bersama. Jawabannya tentu saja. Akan tetapi ada tembok tinggi nan menjulang yang sepertinya sulit untuk diruntuhkan.
Sedari tadi ternyata Kalfa tengah tersambung dengan Aleeya. Mereka tengah melakukan sambungan video. Terdengar decakan kesal dari Gavin Agha Wiguna..Dia merasa terganggu dengan sikap Kalfa juga Aleeya.
"Kalau mau buncit-buncitan jangan di sini," omelnya.
Dua MUA itu tertawa mendengar Omelan sang anak yang sebentar lagi beranjak remaja.
"Bucin, ganteng. Bukan Buncit," ralat MUA yang tengah merubah penampilan Rangga.
"Jangan bilang aku ganteng. Aku gak ganteng!!"
"Set dah, tuh anak Sultan. Ya, kalau ganteng mah ganteng aja, Tong. Bukan hanya para wanita yang melihat lu ganteng. Gua aja yang laki-laki terpesona sama kegantengan lu." Wira mengoceh bagai beo.
"Om gak normal berarti." Wira menganga tak.pervaya mendengar ucapan dari Gavin. Sedangkan para lelaki yang lain malah tertawa.
"Kalau lu gak mau dibilang ganteng, pas Tuhan bagu-bago ketampanan jangan datang duluan. Begitu 'kan jadinya."
__ADS_1
...****************...
Di ruangan yang berbeda, di mana Beeya tengah didandani, Iyan masih setia menunggu sang istri. Itu adalah permintaan Beeya. Semenjak tadi dia tidak ingin jauh dari suaminya. Padahal ruangan Iyan bukan di sini. Namun, dia tetap merengek dan meminta kepada sang kakak juga papanya agar Iyan tetap berada di sampingnya. Juga memakai pakaian pun harus di ruangannya. Alhasil Arya dan eja pun menyetujuinya.
Sedari tadi yang terus menggenggam tangan Beeya.. Istrinya sangat manja tapi Yan malah bahagia.
"Mau makan apa?" tanya Iyan. Dia melihat ke arah jam dinding. Dua jam lagi acara akan dimulai dan perut mereka belum terisi apapun.
"Aku mau salad buah," ucap Beeya.
"Terus apa lagi?"
Beeya pun menyebutkan apa yang dia inginkan. Dari minuman booba, kopi ternama, es krim, cake yang dia inginkan dia sebut satu persatu. Iyan pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepala tak percaya.
"Yakin habis semua?" Beeya berpikir sejenak.
"Kalau gak habis 'kan ada Ayang." Iyan melah tertawa dan mengecup lembut punggung tangan Beeya.
"Om, Adek mau juga es krim sama booba." Suara anak kecil terdengar. Iyan dan Beeya pun menoleh. Ternyata sang keponakan datang..
"Mau rasa apa?" Ghea mendekat ke arah Iyan. Dia melihat ke arah ponsel sang paman dan memilih apa yang dia mau. Kemudian, memasukannya ke dalam keranjang.
"Udah?" Ghea pun mengangguk..
"Cium dulu dong Om-nya," pinta Iyan. Dia sudah menyodorkan pipinya kepada Ghea. Ketika Ghea hendak mencium pipi Iyan, tangan Ghea Beeya tarik menjauhi pipi suaminya.
"Gak boleh cium-cium suami aku!! Dia milik aku!" Beeya memasang wajah garang kepada Ghea sedangkan Iyan malah tertawa. Sedangkan Ghea sudah merenggut sangat kesal.
"Dia Om Adek!" Ghea malah sengaja memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat. Malah, sekarang duduk di pangkuan Iyan dan melingkarkan tangannya di leher sang paman.
"Turun!"pinta Beeya ke arah Ghea.
"Gak mau! Ini om Adek!" MUA yang tengah merias Beeya pun tertawa melihat tingkah kocak Ghea dan juga Iyan.
__ADS_1
...****************...