
Berbeda ketika di makam sang ayah, di makam sang bunda Iyan nampak tenang dan banyak yang dia katakan. Salah satunya yaitu meminta restu kepada sang ibu. Dari sini Beeya tahu ternyata kasih sayang Iyan lebih besar terhadap ayahnya. Begitu juga dengan sang kakak, Riana. Wajah Riana nampak biasa saja.
"Bun, Iyan minta restu Bunda untuk menikahi wanita yang Iyan cinta. Wanita itu pasti Bunda kenal. Teman Iyan sewaktu kecil. Wanita yang paling menyebalkan dan ternyata kini sebaliknya. Iyan sangat mencintai wanita itu." Lengkungan senyum terukir di wajah Beeya. Dia teramat bahagia mendengar apa yang keluar dadi mulut Iyan.
"Doakan Iyan semoga Iyan bisa menjadi suami yang baik, juga imam yang soleh untuk Kak Bee. Doa Bunda itu yang utama."
Beeya menatap ke arah sang calon suami. Iyan pun tersenyum dan tak segan dia membubuhkan kecupan hangat di kening Beeya. Wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Love you, Chagiya."
"Love you, Ayang."
Mereka seakan menunjukkan rasa sayang dan cinta di antara mereka berdua kepada sang ibunda. Bunga pun mereka taburkan di atas pusara yang masih terurus. Namun, tak sebagus pusara sang ayah. Bukannya Riana atau Iyan tak memperhatikan pusara ibu mereka. Bukan membedakan, tetapi itu permintaan sang ibunda.
Beeya memilih ikut pulang ke rumah Iyan. Dia merebahkan tubuhnya di kamar yang cukup luas milik sang tunangan. Kamar yang selalu rapi dan harum.
"Capek?" tanya Iyan. Dia sudah berada di samping Beeya. Mengusap lembut rambut sang tunangan.
"Aku ingin bersama kamu terus hari ini." Beeya memeluk pinggang Iyan. Membenamkan wajahnya di sana.
Bukan keinginan Beeya, melainkan perintah dari kedua kakak Iyan. Mereka sangat hafal bagaimana Iyan jika pulang dari makam sang ayah. Dia kan mengurung diri seharian dan tidak akan mau makan apapun. Kedua kakak Iyan tidak ingin adiknya seperti itu lagi.
Pemuda jangkung itu merasa nyaman ketika Beeya bermanja seperti ini. Dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Beeya. Wanita yang lebih pendek dari Iyan pun mulai membenamkan wajahnya di dada bidang Iyan. Tidur dengan saling memeluk. Niat hati hanya ingin mencari kenyamanan, akhirnya mereka kebablasan. Tidur hingga senja datang.
"Ck ck ck." Echa berdecak kesal sembari berkacak pinggang melihat kemesraan adik dan juga calon istrinya tidur dalam satu ranjang. Namun, ada kebahagiaan di hati Echa ketika melihat adiknya menemukan kenyamanan. Dia pun menutup pintu kamar Iyan kembali. Bersandar di dinding samping pintu dengan menghembuskan napas berat.
"Kakak gak bisa bayangin bagaimana kamu ketika akad berlangsung. Kakak gak bisa membayangkan-"
Pelukan hangat Radit berikan kepada istrinya. Dia sangat tahu bagaimana isi hati istrinya. Apa yang tengah Echa pikirkan pun dia tahu. Ketakutan itulah yang dia rasakan. Adiknya, Rian Dwiputra Juanda akan menikah tanpa didampingi oleh kedua orang tuanya. Itu akan membuat Iyan merasa teramat bersedih. Apalagi acara itu adalah acara yang sangat sakral. Seharusnya dia digandeng oleh sang bunda juga ayah. Namun, nanti dia hanya akan digandeng oleh dua wanita, yakni Echa dan Riana. Membayangkannya saja sudah sakit.
"Iyan pasti kuat." Hanya itu yang Radit ucapkan. Ketika menikah dengan Echa dia masih beruntung dibandingkan Iyan. Masih ada Papihnya yang mendampingi. Beda halnya dengan Iyan. Ada rasa yang berbeda pastinya. Juga akan banyak air mata yang mengantar Iyan menuju pelaminan.
.
Beeya berteriak histeris ketika melihat penampakan makhluk-makhluk aneh di depan matanya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Jangan dekat!"
__ADS_1
Iyan terperanjat dan dia melihat tubuh calon istrinya itu bergetar hebat.
"Chagiya," panggilnya.
"Ayang, takut!" Iyan segera memeluk tubuh Beeya. Dia melihat ke arah depan ranjang dan ternyata sudah ada teman-teman Iyan yang memandangi sang calon istri.
"Ngapain sih!" omel Iyan kepada makhluk tak kasat mata itu. "Calon istri aku 'kan jadi takut."
Beeya menangis sembari memeluk tubuh Iyan. Matanya masih terpejam. Sungguh mengerikan apa yang dia lihat.
"Calon istrimu harus tahu juga keberadaan kami, Yan," ujar Jojo. "Agar tak salah paham dan menganggap kami peliharaan pesugihan."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Dia teringat akan perkataan ibu dan Om Uwo sewaktu itu. Ketika dia akan menikah, mereka akan hadir menampakkan diri di depan calon istri Iyan.
"Ya udah, muka kalian ubah dulu. Jangan kayak hantu chuccky begitu."
Iyan mengusap lembut punggung Beeya. Tangan Beeya masih l dengan erat memeluk pinggang Iyan.
"Aku takut." Suaranya masih bergetar.
"Jangan takut. Mereka teman-teman aku." Beeya malah memukul punggung Iyan.
Iyan malah tertawa dan memundurkan tubuh Beeya sedikit demi sedikit. Mata wanita kesayangannya itu masih terpejam.
"Buka mata, Chagiya." Gelengan kepala menjadi jawaban.
"Mereka hanya ingin kenalan sama kamu."
"Akunya gak mau!" tolak Beeya. Iyan pun tertawa. Dia tetap memaksa Beeya agar membuka mata..
Sekeras kepala apapun Beeya, dia akan menjadi kucing yang manis di depan Iyan. Matanya perlahan terbuka. Senyuman Iyan menyambutnya.
"Kamu pegang aku. Kemudian, pelan-pelan menolehlah ke depan."
"Ayang-"
"Tidak apa-apa," potong Iyan.
__ADS_1
Setelah mengumpulkan keberanian akhirnya Beeya menoleh. Dia terkejut ketika makhluk menyeramkan tadi berubah. Mereka semua tersenyum manis ke arah Beeya.
"Hai!" sapa mereka.
Ada keharuan yang dapat Beeya rasakan. Dia sekarang tahu kenapa Iyan lebih nyaman berteman dengan para hantu. Mereka lebih bersikap ramah juga sopan.
Jojo, Dev, si kerdil, Om Uwo, Poci, Pocita memperkenalkan diri mereka. Beeya menjawabnya dengan sebuah anggukan juga senyuman.
"Ingat, ya. Pas malam pertama aku jangan ganggu. Jangan ada yang ngintip." Beeya malah memukul lengan Iyan dengan cukup kencang. Menatapnya dengan tajam.
"Malam pertama itu apa?" Dev membuka suara.
"Itu loh yang biasa manusia lakukan seperti aku," sahut si kerdil.
"Apa? Nyolong duit?" Si kerdil pun gemas dengan Dev.
"Bukan!" sergahnya. "Mimi cucu pelempuan. Dikenyot-kenyot dan nantinya malah si perempuan yang ah, ah, ah." Detail sekali pemaparan si kerdil itu.
"Perempuannya kepedasan?" Dev masih bertanya dengan teramat polos.
Om Uwo sudah menjewer kuping dua hantu itu. Sungguh bahaya sekali obrolan mereka membuat sepasang calon pengantin itu saling pandang.
"Nanti kamu akan kayak tuyul gak?" Beeya malah bertanya hal bodoh.
Iyan bingung menjawabnya. Dia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sedangkan Beeya menunggu jawaban.
"Dia mah bakalan jadi drakula," jawab Jojo.
"Bukan Jo, kayaknya akan menjadi pecandu apem basah," sahut Om poci.
"Pemain kacang almond yang handal," tambah Tante Pocita.
Wajah Iyan memerah mendengar ucapan dari para hantu itu. Sedangka Beeya memasang wajah bingung.
"Kok kalian nyebutin makanan sih? 'Kan aku jadi lapar."
"Hah?" Mulut para hantu pun menganga tak percaya. Apakah Beeya sepolos itu?
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komennya mana?