
Pulang malam hari dengan hati yang riang. Begitulah dua insan manusia yang tengah berada di dalam mobil.
Tangan Iyan terus menggenggam tangan Beeya.
"Pacar, turun di street food itu, ya." Iyan menatap ke arah Beeya seraya tersenyum. Wajah Beeya semakin terlihat cantik ketika dia ceria.
Melihat senyum Iyan yang begitu manis, membuat hati Beeya lega. Di pantai tadi dia melihat bayangan wajah ayah Rion di air laut yang tengah menyapu kakinya karena terbawa ombak. Wajah ayah Rion terlihat sangat bahagia. Sangat mirip dengan Iyan sekarang.
"Ayah, Bee janji, Bee akan membuat Iyan bahagia."
.
Beeya benar-benar seperti anak kecil. Tangannya terus menarik tangan Iyan ketika di street food. Apalagi, banyak wanita yang menatap Iyan dengan tatapan kagum membuat Beeya bersungut-sungut ria.
"Jangan marah-marah, jelek tahu."
Beeya malah merengutkan wajahnya. Bibirnya pun dia manyunkan beberapa senti. Sontak membuat Iyan tertawa. Dia menarik tangan Beeya dan mengecup bibir berwarna pink milik sang kekasih.
"Aku hanya mencintai kamu, Chagiya."
Bibir yang dimajukan itu kini melengkung dengan sempurna. Apalagi keadaan mereka yang berada di tengah-tengah kerumunan, membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Beeya pun tersenyum bahagia. Mereka berdua kembali menyusuri street food yang banyak itu. Beeya membeli apa yang dia suka. Dia juga menyuapi sang kekasih sambil berjalan.
__ADS_1
Setelah banyak yang Beeya beli, akhirnya mereka berdua kembali ke rumah. Mereka kembali ke dalam mobil. Beeya lebih senang menikmati makanan di dalam mobil. Iyan mengambil jaketnya dan menutup bagian paha Beeya.
"Manis banget sih."
Wajah Beeya berbinar karena dia merasa sangat dihormati sebagai seorang wanita. Dari sekian banyak mantannya, hanya Iyan yang tidak ingin bagian tubuhnya terekspose oleh orang lain. Iyan tersenyum ke arah Beeya dan tangannya sudah mengusap lembut rambut sang kekasih.
"Happy?" tanya Iyan.
"Banget."
Iyan ikut tertawa. Bukan hanya Beeya yang bahagia, dia pun sangat bahagia. Mereka sengaja berbagi makanan karena Iyan tidak mau membeli dua porsi. Katanya tidak romantis. Pelit dan tidak romantis biasnya beda tipis. Akankah sikap pelit sang ayah menurun pada Iyan?
Ketika mereka tengah asyik berbincang dan tertawa. Ada seorang pria yang memanggil Beeya. Mata Iyan memicing dan Beeya pun tersenyum ke arah pria tersebut. Dia nampak senang melihat seroang pria tampan yang sudah berjalan ke arahnya.
Beeya sudah berdiri dan hendak memeluk tubuh mantan kekasihnya. Namun, Iyan tak mengijinkan. Dia malah merentangkan tangan di depan Angga.
"Siapa lu?" sergah Angga.
"Calon suami Beeya."
Angga pun tertawa sedangkan Beeya melebarkan mata. Dia tidak menyangka Iyan akan berkata seperti itu di depan mantan kekasihnya. Ucapan Iyan pun terdengar sangat serius.
"Lu masih bocah!" cibir Angga. "Mana mau Beeya sama anak kecil kaya lu begini." Angga sedikit mendorong tubuh Iyan dan membuat Beeya melebarkan mata.
__ADS_1
Dada Iyan sudah turun naik. Dia benar-benar marah akan ucapan Angga. Apalagi, Angga menyingkirkan tubuh Iyan agar dia bisa menghampiri Beeya.
"Udah lama banget ya gak ketemu." Angga berkata dengan sangat lembut juga dengan senyum yang menawan.
"Bocah kayak lu mah bukan tipenya Beeya," tambah Angga lagi ketika kepalanya dia tengokkan ke arah Iyan. Senyum sinis pun melengkung di bibir Angga.
Iyan memilih untuk pergi. Hatinya seperti mendapat tamparan keras ketika dia dikatai bocah oleh Angga yang memang seumuran dengan Beeya, yang mana memang mereka lebih tua dari Iyan. Apalagi Angga mengatakan dengan sangat lantang bahwa dia bukanlah tipenya Beeya.
Melihat Iyan yang malah menjauhinya dan masuk ke dalam mobil membuat Beeya menatap Iyan dengan penuh tanya. Dia tidak mendengarkan Angga yang tengah mengoceh tidak jelas. Matanya tertuju pada punggung Iyan.
Ketika mendengar pintu mobil ditutup dengan cukup keras. Beeya meninggalkan Angga dan memilih masuk ke dalam mobil yang hendak meninggalkan Beeya. Angga terus memanggil dan mencoba mencegah. Namun, Beeya tak mengindahkan. Dia segera masuk ke dalam mobil. Beeyq melihat raut wajah Iyan yang berubah.
"Pacar."
Panggilan dari Beeya pun tak Iyan indahkan. Dia mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Beeya terus memperhatikan Iyan. Namun, Iyan terus mematung. Tidak menggubris apa yang Beeya bicarakan. Beeya pun tidak memaksa Iyan. Dia memilih untuk diam. Dia tahu bagaimana marahnya Iyan.
Ucapan Angga tengah menari-nari di kepala Iyan. Begitu juga dengan kepala Beeya. Beeya baru sadar jika jarak umur di antara mereka berdua terbentang cukup jauh.
"Lima tahun ... apa aku tidak terlalu tua untuknya? Bukankah terlihat seperti adik-kakak nantinya."
...****************...
__ADS_1