
"Para pengiring pemimpin sudah siap dengan pasangan mereka masing-masing. Mereka sudah berbaris dengan rapi untuk menuju tempat resepsi. Yansen berpasangan dengan Aleesa. Rangga berpasangan dengan Aleena dan Kalfa berpasangan dengan Aleeya. Pipin dengan Wira, Rio berpasangan dengan Ghea.
Dari ruangan yang berbeda, keluarlah sepasang pengantin baru dengan senyum yang begitu merekah dari wajah mereka. Tangan mereka terus bergandengan. Rona bahagia pun sangat terpancar. Pasangan yang begitu sempurna. Walaupun tinggi mereka teramat berbeda. Mereka terus saling pandang dengan senyum yang tak pernah henti. Nampak mereka bagai ratu dan raja.
Ketiga keponakan Iyan ingin sekali menghampiri Om kecil mereka. Namun, sang ibu sudah memberikan kode agar mereka tetap dengan pasangan mereka masing-masing. Wajah mereka pun kompak mengkerut.
Rangga tersenyum melihat wajah Aleena seperti ini. Aleena menatap ke arah Rangga yang juga menatapnya. Mata mereka saling mengunci untuk beberap saat. Hingga suara sang ibu terdengar dan menyuruh para groomsmen dan bridesmaid untuk bersiap.
Para pengiring pengantin berada di barisan terdepan. Di belakang mereka barulah sepasang pengantin yang teramat cantik dan juga tampan. Apalagi wajah Iyan yang nampak begitu berseri. Senyum tidak pernah pudar di wajahnya. Beeya didampingi oleh kedua orang tuanya sedangkan Iyan didampingi oleh Kakak pertama juga suaminya, yakni Echa dan Radit.
Ada sebuah insiden kecil di mana mereka harus mulai berjalan menuju tempat resepsi. Aleena hampir terjatuh, untungnya Rangga sigap meraih tubuh Aleena. Tangannya merengkuh pinggang Alina. Kejadian itu tak luput dari pandangan Kalfa. Wajah remaja laki-laki itu nampak murung seketika.
"Ada yang sakit?" tanya Rangga. Aleena menjawab dengan sebuah gelengan.
"Kalau ada yang sakit, bilang ya. Jangan ditahan. Nanti lebih parah." Aleena menggangguk dengan senyum yang sedikit diangkat.
Kalfa masih terdiam, pandangannya masih tertuju pada dua sosok manusia di depannya. Begitu lembut ucapan Rangga dan begitu lembut juga sikap Rangga pada wanita yang dia cintai. Aleena nampak sedikit kesakitan membuat Rangga menggenggam tangan Aleena, dan Aleena pun berpegangan dengan erat di lengan Rangga. Ada sakit yang menjalar di hati Kalfa saat ini.
"Andai kamu tahu perasaan aku yang sesungguhnya, Na," batin Kalfa.
Radit dan Echa saling pandang ketika melihat Aleena dekat dengan Rangga. Mereka tahu anak pertama mereka tengah menyimpan sedih di dalam hatinya. Sebenarnya Radit dan Echa sepakat untuk tidak mengijinkan ketiga anak-anak mereka berpacaran sebelum lulus SMA. Hanya berteman, kalimat itu yang selalu Radit tegaskan kepada ketiga putrinya.
Mereka berjalan beriringan menuju tempat resepsi diadakan. Wajah mereka semau nampak bahagia terutama Rio. Dia merasa lucu berpasangan dengan Ghea. Anak kecil yang masih berusia tujuh tahun.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh para tamu undangan. Semua mata mulai tertuju pada pengiring pengantin yang terlihat cantik dan juga tampan. Mereka sangat serasi dengan pasangan mereka masing-masing. Namun, mereka juga tertawa ketika melihat Rio berpasangan dengan anak kecil.
Rio malah menyunggingkan senyum yang teramat lebar. Menjadi anak tunggal membuat dia kesepian. Namun, sikap Ghea yang manja membuatnya merasakan memiliki seorang adik sesungguhnya. Ditambah lagi satu anak perempuan yang baru saja pulang belum lama ini kembali ke Jakarta, yang sebelumnya dia menetap di Singapura. Siapa lagi jika bukan si bala-bala atau Balqis.
Rindra dan Nesya yang melihat putranya berpasangan dengan anak dari Aksa pun tertawa. Rio terlihat sedang menggandeng tangan adiknya. Melihat putra mereka bahagia.
Perlahan barisan para pengiring pengantin pun terbuka sedikit demi sedikit. Semua mata para tamu undangan masih tertuju pada barisan yang baru saja datang. Setelah beberapa saat, barisan itu terbuka dengan lebar dan memperlihatkan sepasang suami istri yang baru saja sah di hadapan agama juga negara. Senyum mereka terus terpancar. Mereka benar-benar seperti ratu dan raja. Ketampanan sang sang mempelai pria seperti opa-oppa Korea juga aktor-aktor drama China. Begitu juga dengan sang mempelai pengantin wanita dia teramat cantik Senyumnya begitu manis dan begitu lebar. Beeya nampak.bahagia.
Benar kata sang papah. Sudah cukup lyan dan Beeya berdiri bersalaman dengan pada tamu undangan. Mereka berdua pun dituntut untuk terus tersenyum.
"Lama-lama gigi aku kering," keluh Beeya. Iyan malah tertawa. Dia merengkuh pinggang Beeya dan tak segan mengecup samping kepala istrinya.
"Kaki aku sakit," keluhnya lagi.
"Nanti aku pijitin." Beeya memeluk pinggang Iyan dan membuat orang tua Beeya juga kakak Iyan tersenyum bahagia. Momen yang sangat bagus dan tukang potret tidak menyisakan kesempatan. Mereka megambil foto candid sepasang pengantin itu.
"Natural banget," ucap si tukang potret.
Banyak artis bernyanyi di sana. Mereka menyanyikan lagu beautiful in white dari Shane Filan. Kisah romantis dari Glen Fredly. Melamarmu dari Badai Romantic dan tidak lupa janji putih dari Yovie n Nuno. Lagu wajib ketika resepsi pernikahan. Beeya pun ikut bernyanyi.
Memang sudah centil sedari orok, Beeya malah menarik tangan sang suami menuruni pelaminan menuju panggung.
"Ayang, aku mau nyanyi, ya." Beeya sudah meraih microphone yang pembawa acara berikan.
"Sebuah lagu untuk suamiku tercinta, Rian Dwiputra Juanda." Beeya sudah menggenggam tangan Iyan. Menatapnya dengan begitu dalam.
🎶
Akhirnya ku menemukanmu
Tepuk tangan bergemuruh para tamu undangan berikan. Mereka semua tidak menyangka jikalau suara pengantin wanita sangat merdu. Iyan tersenyum, baru satu kalimat lagu yang istrinya bawakan sudah menyentuh hatinya
🎶
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
__ADS_1
Saat raga ini ingin berlabuh
Iyan terus menyunggingkan senyum. Tangan Beeya meenggenggam tangan Iyan dengan sangat erat. Mereka saling tatap dengan sorot mata yang berbicara.
🎶
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Iyan mulai.merehkuh pinggang Beeya. Dia juga tak segan mengecup ujung kepala Beeya dan membuat para tamu undangan berteriak.
🎶
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Akhirnya ku menemukanmu
Semua orang pun bertepuk tangan dengan sangat keras. Echa menyeka ujung matanya ketika melihat sang adik sangat bahagia. Jujur, Echa sangat
Takut akad nikah akan gagal karena menikah tanpa didampingi oleh kedua orang tua sangatlah menyedihkan. pasti Iyan merasakan hal itu.
Aleena bertepuk tangan ketika melihat sang Tante bernyanyi. Meskipun dia terlihat meringis kecil. Rangga terus memperhatikan Aleena.
"Sshh!"
Ringisan kecil yang Aleena keluarkan membuat Rangga segera membantu Aleena untuk duduk
"Makasih," ucap Aleena. Rangga pun mengangguk.
"Buka aja, ya sepatunya." Rangga sudah berjongkok membuka sepatu Aleena. Remaja putra itupun dapat melihat jelas kaki putih nan mulus yang Aleena miliki.
Dia menyentuh pergelangan kaki Aleena dan sontak Aleena meringis. Dia menahan pundak Rangga.
"Sakit?" Aleena hanya mengangguk.
"Kembali ke kamar kamu aja, ya." Rangga sudah menatap serius ke arah Aleena. Namun, dia menolak.
"Aku ingin tetap ada di sini. Ini acara penting untuk Om kecil." Rangga menghela napas kasar. Dia pun tidak memaksa.
"Kamu di sini aja, ya. Kalau mau apa-apa bilang sama aku." Lagi-lagi Aleena hanya mengangguk.
Sepasang mata menatap sendu ke arah Aleena dan juga Rangga. Terlihat Rangga begitu melindungi Aleena. Sedangkan tangannya sedari tadi tak pernah dilepaskan oleh Aleeya.
Sang ayah pun sedari tadi memperhatikan dirinya terus. Kalfa kamu merasa risih. Dia ingin menghampiri Aleena. Dia ingin berbicara berdua dengan Aleena. Namun, mata sang ayah terlalu tajam. Dia seakan tidak bisa bergerak walau sedikit pun.
Kalfa melihat Rangga meninggalkan Aleena. Dia mulai mencari kesempatan untuk mendekat ke arah Aleena. Namun ,sepertinya sang ayah curiga. Akhirnya dia berpura-pura untuk ke toilet dan mengikuti kemana Rangga pergi.
Ternyata benar Rangga berada di toilet. Kalfa . memilih menunggu Rangga di depan toilet. Ada hal yang ingin dia katakan kepada Rangga.
Kalfa sudah mencegat Rangga ketika Rangga sudah keluar dari toilet pria. Dia menatap tajam ke arah Rangga. Remaja itupun bersikap biasa saja. sudah biasa jadi perlakukan seperti ini. Bukan hanya Rangga, tapi banyak yang lainnya juga.
__ADS_1
"Jangan berani dekati Aleena. Kalian beda kasta."
Perkataan yang sama terus berulang. Terkadang Rangga bingung dengan apa yang dipikirkan oleh manusia. Kenapa terlalu mementingkan dan mengagungkan harta yang hanya sekedar titipan Tuhan. ketika Tuhan berniat untuk mengambilnya semuanya akan hilang tanpa tersisa.
*Aku hanya disuruh menjaga Alina oleh kedua orang tuanya." Jawaban yang sangat cerdas dari Rangga. Dia masih bersikap tenang. Dia tidak merasa marah ataupun terejek oleh perkataan dari Kalfa.
"Harusnya lu sadar diri! Lu itu nggak pantes buat Aleena. Kedua orang tuanya itu hanya iba sama lu!"
Rangga pun tersenyum, dia men.atap ke arah Kalfa dengan begitu tajam. Kalfa salah orang, dia sudah biasa ditindas seperti ini. Jadi, tidak masalah untuknya..
"Dari dulu aku sadar diri kok. Siapa diriku? Makanya aku nggak pernah deketin Aleena kalau gak dibolehin sama kakek juga kedua orang taunya." Kalfa oun terdiam.
"Banyak kok orang yang saling mencintai berbeda kasta. Malah banyak juga yang berbeda keyakinan. Mereka tidak apa-apa malah bisa ke jenjang pernikahan yang sesungguhnya." Sengaja Rangga berbicara seperti itu agar Kalfa jangan lagi membanding-bandingkan seseorang hanya dari kasta mereka.
"Sekali lagi jangan dekati Alina!" ancam Kalfa
"Kamu sudah sama Aleeya, tapi hati kamu masih terbagi. Kasihan Aleeyanya." Rangga malah balik mencibir Kalfa.
"Lu tau apa?" sergah Kalfa. "Kalau nggak tahu apa-apa jangan sotoy." Marahnya
"Sudah cukup bicaranya?" sahut Rangga dengan begitu sabar. "Saya mau menemani Aleena dulu. Takutnya ingin sesuatu."
Rangga pun berlalu, tak menghiraukan Kalfa tengah berteriak keras kepadanya. Makian pun mampu dia dengar walaupun samar.
Di tempat acara resepsi Rangga terkejut ketika Aleena sedang duduk dengan seorang pria paruh baya. Dia tahu siapa orang itu. Rangga pun menghampiri Aleena dan samar terdengar.
"Kami terlalu lemah, kamu terlalu sederhana untuk putra saya."
Mata Rangga melebar mendengar ucapan yang begitu menyakitkan itu. Dia melihat ke arah Aleena yang hanya tersenyum perih.
"Jauhi Kalfa."
Rangga menghampiri dua orang itu. Dia berdiri di samping Aleena sehingga membuat Aleena menoleh ke arahnya. Mata Aleena tiba-tiba nanar. Rangga mengusap lembut rambut Aleena.
"Kamu harus istirahat." Kalimat yang begitu lembut yang Rangga ucapkan. Dia sudah mengulurkan tangannya kepada Aleena. Wanita yang terlihat begitu cantik itu menyambut uluran tangan Rangga.
"Kami permisi, Om." Rangga berbicara dengan sangat tegas. "Jangan hanya menyuruh Aleena menjauh. Suruh juga putra Om untuk menjauhi Aleena."
Sekuat tenaga bulir bening itu Aleena tahan. Dia tidak boleh rapuh hanya karena ini. Mencoba untuk terus tersenyum walaupun hatinya teramat sakit.
Kalfa berpapasan dengan Rangga yang berjalan berdua dengan tangan yang menggenggam tangan Aleena.
"Na--"
"Jaga adikku." Aleena masih sempat menyunggingkan senyum ke arah Kalfa. Dia pun mengajak Rangga untuk melanjutkan langkah mereka lagi.
Kalfa mematung. Kali ini hatinya sangat teramat sakit mendengar ucapan Aleena. Dia masih memandangi punggung Aleena hingga menghilang.
Tepukan di pundaknya membuat Kalfa menoleh. Rio menatap tajam ke arah Kalfa.
"Setetes saja air mata yang jatuh dari pelupuk mata Aleena, lu akan gua cari hingga ke lubang semut sekalipun." Rio berucap dengan penuh ancaman.
.
Di pelaminan, tiba-tiba tubuh Iyan menegang ketika Dev menghampirinya. Dev bercerita dengan sangat lirih. Air muka Iyan sudah berubah.
"Ayang," panggil Beeya.
"Aleena." Iyan berkata dengan begitu pelan. Beeya mengusap lembut pundak sang suami.
"Setelah resepsi ini kita temui dia. Perasaan aku juga tidak enak." Iyan mengangguk dan tersenyum ke arah sang istri. Tak segan dia mengecup bibir Beeya dengan singkat hingga semua tamu undangan berteriak.
__ADS_1