Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
200. Rumah Mertua


__ADS_3

Tiga hari berlalu Beeya sudah kembali seperti semula. Hormonnya sudah menghilang begitu saja.


"Kok gak ngelawan? Malah nyerah?" Napas Iyan masih terengah-engah karena baru saja sia mencapai puncak tertinggi.


"Lemes, Yang. Aku mau tidur. Kalau digempur terus bisa-bisa besok aku datengin tukang jamu, minta jamu anti encok." Iyan pun tertawa. Dia malah mengecup kening Beeya dengan begitu lembutnya.


"Pas nanti ke Bandung, kamu lagi gak kedatangan tamu 'kan?"


"Tamu aku datangnya palingan besok atau lusa. Sekarang, perut juga udah kerasa gak enak." Iyan mengangguk dan dia harus bersiap untuk puasa.


Sehari sebelum pergi ke Bandung, masa datang tamu bulanan sudah selesai. Iyan terlihat girang sekali. Dia terus menciumi wajah istrinya yang tengah memoles wajahnya di depan cermin.


"Ayang, udah dulu. Ini kapan kelarnya?" Beeya geram sendiri sedangkan Iyan sudah tertawa.


"Ayang, aku gak bawa baju banyak. Beli aja di sana, ya." Iyan mengangguk.


"Asal baju aku aja siapin dari sini."


Semenjak jadi istri dari Rian Dwiputra Juanda, Beeya menjadi istri sungguhan. Walaupun pekerjaannya hanya melayani sang suami tercinta. Tak boleh ke dapur apalagi mencuci pakaian, kecuali pakaian dalam Iyan dan milik Beeya dicuci sendiri oleh Beeya.


Tibanya di rumah sang mamah Beeya memeluk tubuh mamahnya dengan penuh rindu. Beeya juga memeluk tubuh sang ayah.


"Berangkat jam berapa besok?" tanya Beby kepada Iyan.


"Jam empat subuh kayaknya, Mah. Soalnya jam sepuluh Iyan langsung meeting."


"Emang istri kamu bisa bangun jam segitu?" Beeya menatap tajam ke arah sang ayah dan Arya malah bersikap acuh.


"Ya enggak apa-apa kalau nanti istri Iyan tidur di mobil juga, yang penting 'kan dia nemenin Iyan."


Beeya tersenyum penuh kemenangan. Suaminya ini memang laki-laki pilihan dan luar biasa.


"Kalian mau makan apa? Biar Mamah masakin."


"Bee ingin salad buah, Mah."


.


Iyan memilih untuk duduk di teras rumah Arya. Rumah yang dibelikan ayahnya sebagai hadiah pernikahan. Di sampingnya adalah rumah ayahnya dulu. Sebelum mereka dibawa oleh Echa ke rumah super mewah yang dekat dengan hunian Giondra.

__ADS_1


Iyan menatap ke arah pohon besar yang dari dulu masih ada. Banyak yang melambaikan tangan kepadanya, menyapanya. Namun, mereka tidak berani masuk ke rumah Arya.


Ada satu sosok yang sudah hampir lima bulan ini Iyan rindukan, yakni ibu. Dia tersenyum dengan mata yang nanar. Jika, di hadapan Iyan Ibu akan menjadi sosok yang sangat cantik. Namun, kali ini memberi gerakan seperti menggendong bayi. Namun, Iyan menggeleng pelan. Bukannya sendu, ibu malah tersenyum begitu lebar. Kini, ibu malah mengusap perutnya sendiri.


"Ayang." Beeya sudah memeluk tubuh Iyan dari belakang.


"Kenapa, Chagiya?" Iyan sudah membalikkan tubuhnya. Menatap wajah sang istri tercinta.


"Jangan ke mana-mana." Iyan malah tertawa dan mengusap lembut rambut sang istri.


"Aku hanya cari angin," sahutnya. Beeya malah memeluknya. Jika, tengah di mode manja seperti ini Iyan harus ekstra sabar.


"Mamah menyarankan kita untuk ke memeriksa kesuburan. Mamah ingin segera gendong cucu."


Inilah yang terkadang membuat Beeya malas mengunjungi kedua orang tuanya. Beeya belum siap, tapi kedua orang tuanya terus menanyakan hamil, hamil dan hamil.


"Gak usah didengerin. Selagi aku gak mempermasalahkan, kamu jangan takut. Sekarang 'kan kamu menjadi tanggung jawab aku. Aku adalah imam kamu. Apapun akan aku lakukan untuk membuat kamu bahagia."


Wanita mana yang tidak bahagia mendengarnya. Iyan benar-benar lelaki paling sabar. Dia memundurkan tubuh Beeya, dia menatap Beeya dengan begitu dalam.


"Jangan pikirkan perkataan orang lain selagi aku tidak mempermasalahkannya." Beeya semakin erat memeluk tubuh Iyan.


"Loh, masih gelap, Mah." Beby menoleh dan ternyata menantunya sudah rapi dan segar.


"Ini untuk kamu dan Beeya sarapan." Iyan terkejut mendengarnya. Ibu mertuanya sungguh luar biasa.


"Beeya di mana?" tanya Beby.


"Masih tidur," jawab Iyan. Beby berdecak kesal.


"Suami sudah rapi dia masih molor, gimana sih?" Beby mengoceh dengan begitu lancarnya. Iyan hanya tersenyum mendengarnya.


"Gak apa-apalah, Mah," ujar Iyan. "Iyan memperistri Beeya bukan untuk dijadikan seorang, babu. Sebisa mungkin Iyan ingin menjadikannya ratu." Terenyuh sekali Beby mendengar ucapan Iyan. Betapa baiknya anak dari sahabat sang suami ini.


"Makasih, ya. Udah sabar menghadapi Beeya." Iyan malah tertawa. Lalu, dia pun mengangguk.


Ternyata di tangan Iyan sudah ada kopi sachet yang biasa dia minum. Dia berencana hendak membuatnya sendiri. Namun, dilarang oleh Beby.


"Biar Mamah aja yang buatin kopinya."

__ADS_1


"Gak usah, Mah." Beby malah mengambil paksa kopi dari tangan Iyan.


Sang menantu dibuat tercengang. Namun, ada seulas senyum yang terukir di bibir Iyan. Mertuanya ini selalu memperlakukan Iyan seperti anaknya sendiri.


"Makasih, Mah."


"Sama-sama, Yan." Beby tersenyum tulus kepada Iyan.


Setelah menyesap kopi, Iyan kembali lagi ke kamarnya untuk membangunkan sang istri tercinta. Kecupan di bibir membuat Beeya mulai mengerjapkan mata.


"Kita berangkat, yuk. Nanti tidurnya dilanjut di mobil."


"Kenapa gak bangunin dari tadi?" Tubuh Beeya masih terlihat lemas karena gempuran Iyan yang membuatnya tak berdaya.


"Gak tega." Iyan sudah menarik selimut sang istri, dan mengantar istrinya untuk mencuci wajah. Bukannya langsung keluar dari kamar mandi, Beeya malah memeluk erat tubuh Iyan.


"Dingin." Iyan malah terkekeh.


Sepasang suami-istri sudah berada di ruang makan. Beeya maupun Iyan menolak untuk sarapan sepagi ini. Mereka memilih untuk membawa bekal saja.


"Ingat Abeeya Bhaskara, bupperware Mamah jangan sampai hilang. Bawa pulang lagi, jangan di buang. Ini belinya pake uang."


Beby mengoceh panjang lebar jika menyangkut perihal bupperware. Benda keramat bagi kaum ibu sejagad. Iyan malah tertawa, dia teringat akan keponakannya jika seperti ini. Si triplets akan kena hukuman dipotong uang jajan jika bupperware bubunya hilang. Belum lagi akan mendapat ocehan yang tak ada ujungnya.


"Kalau ilang entar beli lagi," ujar Beeya. "Jangan kayak orang susah lah, Mah." Alhasil, Beby menjewer telinga Beeya hingga Beeya mengaduh kesakitan.


"Ayang, bantuin. Kuping aku entar panjang." Iyan malah tertawa. Ada saja ulah Beeya jika datang ke rumah kedua orang tuanya.


Di perjalanan menuju Bandung pun Beeya malah tertidur. Iyan hanya tersenyum, ini kali pertama Beeya ikut dalam perjalanan kerja. Biasanya sang istri selalu Iyan tinggal di rumah.


.


"Pah, setiap malam Mamah selalu berdoa supaya Beeya bisa cepat hamil. Mamah ingin rumah ini ramai sepertri rumah Kak Gi."


"Sabar, Mah. Sebentar lagi juga kita akan mendengar kabar baik."


...***To Be Continue***...


Komen dong

__ADS_1


__ADS_2