
Beeya yang baru bangun jam delapan pagi melebarkan mata ketika mengecek ponsel.
"Kenapa ganteng banget," teriaknya.
Tangannya sudah menari-nari di atas layar ponsel. Dia mecoba menghubungi sang tunangan. Namun, panggilannya tidak dijawab.
"Ayang, jawab ih." Beeya kesal sendiri. Apalagi melihat pria yang dia cintai itu amatlah tampan.
"Pokoknya gak ikhlas, gak ridho kalau kamu dicomot pelakor," sungutnya. Mata Beeya masih terpana pada sosok tampan yang tengah memakai jas hitam. Sungguh mempesona dan matanya tak bisa berkedip.
"Kenapa Tuhan menciptakan makhluk setampan kamu, Yan," gumamnya. "Love you banyak-banyak."
Long distance relationship membawa kerinduan tersendiri untuk Beeya. Juga mengajarkan arti kesabaran yang sesungguhnya karena sang kekasih sulit untuk dihubungi. Iyan memiliki waktu hanya ketika istirahat, tidak terlalu sibuk juga malam hari.
.
"Kenapa bengong?" Sang Abang ipar menegur Iyan yang sedari tadi tidak fokus diajak berbincang.
"Apa menjelang pernikahan ujiannya akan semakin besar?" Sangat polos sekali adik ipar Aksara tersebut. Aksa hanya tersenyum dan menepuk pundak Iyan.
"Ujian itu pasti akan menghampiri suatu hubungan. Kuncinya ... bagaimana kita dan pasangan kita menyikapinya," sahut Aksara.
__ADS_1
Iyan malah menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.
"Ada masalah?" Aksa bertanya dengan mata yang terfokus pada berkas di depannya.
"Enggak."
Iyan tetaplah Iyan. Dia tidak mau membuat anggota keluarganya khawatir. Aksa hanya mengangguk saja. Walaupun dia tidak percaya dengan jawaban Iyan.
"Kembalilah bekerja!" titah sang Abang. "Bukankah kamu ingin cepat melepas rindu dengan Beeya."
Wajah muram Iyan berubah drastis, dan Aksa hanya menggelengkan kepalanya. Sungguh Iyan menjelma menjadi budak cinta. Perbedaan usia di antara Beeya dan Iyan tidak membuat Aksa takut. Dia sudah mengenal Beeya juga Iyan. Mereka berdua bisa seperti anak kecil juga bisa berpikiran dewasa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
.
"Papah antar." Beeya pun mengangguk. Mereka berdua menuju toko Arina. Di sepanjang perjalanan Arya menanyakan perihal hubungan putrinya dengan Iyan. Terlihat jelas Beeya sangat bahagia menjelaskan semuanya.
"Jangan nakal, Bee." Tangan yang hendak membuka pintu mobil pun terhenti untuk sesaat. Beeya menatap ayahnya.
"Kamu 'kan playgirl," kelakar Arya dengan tawa renyah. Beeya pun berdecak kesal dan turun dari mobil dengan wajah yang ditekuk.
"Kenapa wajah kamu ditekuk begitu?" Beeya terkejut dengan ucapan Kenzo yang tiba-tiba. Ternyata sedari tadi mantannya itu memperhatikannya.
__ADS_1
"Kembali bekerja." Begitu tegas kalimat perintah yang Beeya katakan. Kenzo pun tak berkutik. Apalagi melihat Beeya yang melenggang begitu saja menuju ruangan tantenya. Tak menolehkan kepala barang sedikit pun kepadanya.
Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. "Kenapa datang lagi sih?" Beeya sangat-sangat kesal.
Ponselnya berdering, bibir Beeya terangkat dengan sempurna. Siapa lagi jika bukan sang tunangan yang menghubunginya.
"Lagi di mana?" tanya Iyan.
"Di toko Bu'de." Kini, Beeya memasang wajah garang. "Kenapa kamu ke kantor ganteng banget," omel Beeya dengan suara manja. Iyan pun tertawa.
"Dari dulu emang aku ganteng," jawab Iyan dengan sangat percaya diri. Beeya pun mencebikkan bibirnya dan mampu membuat Iyan tertawa lagi.
"Gemes deh pengen cium kamu," goda Iyan.
"Omes!" Iyan malah tertawa.
Tak berselang lama wajah Iyan berubah, dia menatap wajah pujaan hatinya dengan begitu dalam. Begitu juga dengan Beeya.
"Aku takut kamu tergoda wanita lain," lirih Beeya. Wajahnya sudah terlihat sendu.
"Aku bahkan lebih takut," balas Iyan. "Aku takut kamu kembali ke masa lalu kamu."
__ADS_1
Deg.
...****************...