
Boleh minta komennya gak? Gratis kok.
...****************...
"Besok, Iyan harus ikut kami kembali ke Jakarta."
Kalimat itu membuat tubuh Beeya menegang. Dia menatap ke arah sang tunangan dengan raut sedih. Begitu juga dengan Iyan yang menatap Beeya dengan raut tidak tega.
"Banyak pekerjaan yang sudah menantiku." Iyan menarik tangan Beeya ke dalam pelukannya. Sang kekasih pun melingkarkan tangan ke pinggang Iyan dengan begitu erat. Tidak dia pedulikan banyak pasang mata yang tertuju padanya.
"Beeya di sini tinggal satu bulan lagi kok."
Ucapan Arina membuat Iyan dan Beeya menatap ke arah wanita yang menjadi kakak dari Arya itu. Wanita itu hanya tersenyum ke arah sepasang sejoli.
"Terapi kamu tinggal dua sampai tiga kali lagu, Bee."
Beeya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang Bu'de. Begitu juga dengan Iyan yang sudah melengkungkan senyum bahagianya.
"Aseek, kayaknya mendekati kata sah nih," goda Aleeya.
Iyan menanggapinya dengan sebuah senyuman. Begitu juga dengan Beeya yang masih betah memeluk pinggang Iyan. Para orang dewasa di sana sudah harus terbiasa dengan tingkah manja Beeya juga sikap bucin Iyan.
__ADS_1
.
"Kenapa kamu gak bilang dari awal?" tanya Beeya ketika berada di dalam mobil menuju arah pulang.
"Aku juga gak tahu tentang ini," jawab Iyan yang masih fokus pada jalanan. "Ketika Kakak ngasih restu, Bang Radit langsung bilang aku harus kembali ke Jakarta bersama mereka besok."
Iyan melirik ke arah Beeya yang sudah menyandarkan tubuhnya pada jok mobil.
"Jangan sedih gitu dong."
Usapan lembut Iyan berikan di puncak kepala Beeya. "Aku janji, akan sering hubungi kamu disela kesibukan aku." Iyan pun meraih tangan Beeya dan membawa tangan itu ke bibirnya.
Ada kehangatan yang menjalar di hati Beeya. Iyan yang sedingin es kini malah sangat romantis. Selalu mengalah kepadanya. Jangan ditanya perih kebaikannya, dia sama sekali tidak pernah berubah.
"I will miss you so much," tuturnya.
Beeya menarik tangan Iyan masuk ke dalam kamarnya dan membuat dahi Iyan mengkerut. Apalagi dia melihat Beeya sudah berdiri di atas sofa. Kini, tubuh mereka berdua sejajar dan Iyan malah tertawa.
"Kenapa?" tanya Iyan.
Beeya hanya tersenyum dan dia segera menempelkan bibir berwarna pink ke bibir Iyan yang sangat sehat. Iyan terkejut, tapi lama-lama dia menikmatinya. Apalagi Beeya yang sangat lihai dan juga begitu liar membuat Iyan sedikit kewalahan.
__ADS_1
Memundurkan kepala sejenak dan kini Beeya yang sudah merobohkan tubuh Iyan. Naik ke atap perut Iyan dan terus menikmati bibir Iyan yang terasa sangat manis itu.
Tangan Iyan pun sudah tidak bisa dikendalikan. Namun, masih ada keraguan di hatinya. Juga, imannya masih sangat kuat karena dia sangat yakin pengawal-pengawal hantunya akan marah jikalau Iyan berbuat macam-macam.
Beeya sudah mulai panas dan hendak membuka kaos longgar yang dia kenakan. Namun, Iyan menahan tangan kekasihnya seraya menggelengkan kepala. Beeya pun terkejut. Ada lelaki yang menolak kemolekan tubuhnya.
Iyan mulai menegakkan tubuhnya, dan sedikit menggeser tubuhnya kekasihnya yang berada di atas tubuhnya.
"Aku tidak ingin merusak kamu, Chagiya."
Mata Beeya berkaca-kaca mendengar ucapan yang begitu tulus dari mulut Iyan. Tangannya sudah menyentuh pipi Beeya dengan begitu lembut.
"Kita lakukan ketika kita sudah sah menjadi sepasang suami-istri," lanjutnya lagi.
Beeya malah tersenyum mendengarnya. Dia menatap tajam ke arah pria yang memangkunya.
"Emangnya kamu bisa?" tanya Beeya.
"Tinggal diplintir, dijilat, udah basah dicelupin."
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa komen