Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
165. Perjanjian


__ADS_3

Beeya memukul lengan Iyan ketika calon suaminya ini membahas hal sesnsitif. Dia merengutkan wajahnya dan membuat Iyan tertawa lepas.


"Masa iya akad nikah, malamnya resepsi, tapi gak malam pertama? Hambar dong," ujar Iyan.


"Emangnya kamu bisa?" Beeya seolah menantang.


"Walaupun gak bisa, pasti naluri akan membawaku menuju apa yang dinamakan surga dunia." Beeya malah terbahak. Dia mencubit gemas pipi Iyan.


"I want you kiss me. I Miss it."


Iyan tersenyum, dan dia pun mencium bibir Beeya dengan begitu lembut. Sungguh dua pasang manusia bucin yang tak tahu tempat.


"Puas?" Beeya pun menggeleng. Iyan tersenyum dan mengusap lembut rambut Beeya. Menarik tangan Beeya ke dalam pelukannya.


"Besok malam kita akan melakukannya dengan puas." Beeya melingkarkan tangannya di pinggang Iyan ketika mendengar ucapan itu.


"Kenapa gak sekarang aja?" Perempuan ini malah terlihat tidak sabar.


"Mau digantung sama Kak Echa?" Mereka berdua pun tertawa. Mereka pun tahu, kakak dari Iyan itu adalah jelmaan singa betina. Jika, murka pasti akan dilibas semuanya.


"Chagiya," panggil Iyan.


"Hm."


Iyan menyerahkan ponselnya kepada sang calon istri. Beeya mengambilnya, dan matanya memicing ketika melihat mkata demi kata yang ada di benda pipih itu.


"Peraturan Jadi Istri Rian Dwiputra Juanda." Beeya mendongak ke dah Iyan dan dijawab anggukan oleh Iyan..


"Maksudnya?"


"Aku adalah kepala keluarga sekaligus imam di keluarga kita nanti. Jadi, kamu harus mengikuti peraturan yang aku buat." Iyan menerangkan dengan begitu santai. Sedangkan Beeya menganga.


...Peraturan Menjadi Seorang Istri Rian Dwiputra Juanda....




Setiap malam harus tidur dengan menggunakan baju dinas. Atau minimal memakai piyama tanpa lengan dengan belahan dada rendah dan celana tidur hot pants.




Dilarang menggunakan beha jiga cidi.




Ketika suami minta nambah, tidak boleh menolak. Harus melayani suami dengan ikhlas. (Kalau bisa dengan panas dan ganas)




Tidak ada penolakan jika suami meninggalkan jejak cinta di bagian tubuh manapun.




Morning kiss and night kiss wajib. Menyambut suami pulang kerja pun wajib memberikan kecupan hangat dan manis.


__ADS_1



Selama suami libur, tidak diperkenankan keluar kamar. Tetap bersama suami di dalam kamar. Boleh keluar kamar, tapi bersama suami.




Ketika keluar kamar, pakaian harus sopan. Minimal celana atau dress di bawah lutut.




Tidak boleh keluar rumah menggunakan pakaian mini.




Riasan pun tidak boleh terlalu tebal dan cantik.




Maksimal keluar rumah cukup dua jam saja.




Dilarang menerima tamu laki-laki ketika suami tidak ada.






Mata Beeya tak berkedip ketika membaca kata demi kata yang tertera. Kepalanya pun mulai menggeleng pelan.


"Kok kayak peraturan nyiksa istri, ya," keluh Beeya.


"Nyiksa dari mana?" tanya Iyan. "Aku tidak menyuruh kamu untuk masak atau beresin rumah loh. Cukup urusin dan layanin aku aja. Hanya itu."


Beeya malah memanyunkan bibir dan membuat Iyan tertawa. Dia memeluk tubuh mungil itu lagi.


"Kamu adalah ratu di rumah. Cukup rawat tubuh dan wajah kamu, layani suami kamu dengan baik, berikan pelayanan yang maksimal. Itulah yang akan membuat suamimu bahagia."


"Kalau aku belum bisa?"


"Kita sama-sama belajar, Chagiya. Ini juga kali pertama untuk aku." Beeya tersenyum dan membalas pelukan Iyan.


"Kayaknya malam ini aku gak bisa tidur," ujar Beeya.


"Kenapa?"


"Gak sabar pengen cium tangan suami aku."


.


Seorang remaja perempuan tergesa turun ke bawah ketika melihat orang yang dia kenal ditarik dengan begitu kasar oleh seseorang. Dia juga mendapat perlakuan kasar dari orang itu.

__ADS_1


Remaja itu terus berlari dan untung aja tidak ada yang melihatnya. Dia menuju ke tempat di mana orang yang dia kenal itu dibawa. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara tamparan teramat keras. Juga makian yang begitu kasar. Perlahan Aleesa maju beberapa langkah. Dia mencoba untuk mendekat.


"Dasar brandalan! Memalukan!" seruan yang keluar dari mulut pria yang sudah tidak muda lagi.


"Harusnya kamu mati! Tidak usah diselamatkan."


"Siapa dia?" tanya Aleesa dengan begitu pelan.


Mata Aleesa melebar ketika pria yang dia kenal dihajar untuk kesekian kalinya. Hidungnya sudah mengeluarkan darah, juga sudut bibirnya mengalirkan darah segar.


"Silahkan bunuh saya!" Pemuda itu nampak tenang, walaupun terlihat meringis kesakitan. Aleesa terkejut dengan ucapan pemuda itu.


"Rupanya kamu sudah jadi pecundang sekarang." Tangan besar itu sudah meninju bagian perut sang pemuda hingga dia tersungkur. Aleesa hendak maju, tapi dia ditarik oleh si kerdil yang ternyata mengikutinya.


"Jangan, Sa. Bahaya." Si kerdil menggeleng pelan. Matanya penuh dengan permohonan.


"Ta--"


"Saya bukan pecundang, tapi saya tidak ingin menjadi anak durhaka."


Mata Aleesa melebar mendengar penuturan dari orang yang dia kenal itu. Mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Jika, Anda membunuh saya ... mungkin waktu saya bersama keluarga yang memanusiakan saya sudah selesai. Sudah waktunya juga saya pergi di tangan pria berhati iblis seperti Anda." Ucapan penuh penekanan juga ketenangan menyulut emosi pria paruh baya. Hingga pria itu menghajarnya dengan membabi-buta.


Tak terasa air mata Aleesa menetes. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kekejaman yang seorang ayah lakukan kepada anaknya. Pemuda itupun tersungkur dan tak berdaya. Setelah puas dengan apa yang sudah dia lakukan, paruh baya itu pergi.


Aleesa masih mematung. Dia menatap pilu ke arah pemuda yang masih terkapar lemah. Kakinya tak bisa melangkah melihat pemuda itu bersimbah darah. Namun, pemuda itu begitu kuat. Dia bisa bangun sendiri walaupun merasakan kesakitan yang luar biasa hebatnya.


"Siyal!" Masih saja mengumpat. Dia bersandar di pepohonan. Mengusap darah yang bercucuran di hidung juga sudut bibir.


"Kenapa banyak sekali?" gumamnya. "Tubuhku seperti remuk semua."


Aleesa mulai melangkahkan kakinya dengan pelan. Wajahnya terus menitikan air mata. Dia tidak tega, itulah alasannya.


"Kak Restu."


Seketika tubuh Restu menegang. Dia tahu suara itu. Dia pun menoleh dan benar dugaannya. Aleesa berlari menghampirinya. Dia ikut bersimpuh di depan Restu. Menyentuh wajah Restu yang berlumuran darah.


"K-kak--"


"Gak apa-apa. Udah biasa." Seulas senyum Restu berikan.


Tubuh Restu menegang ketika tangan halus itu menyentuh sudut bibirnya. Mata remaja putri itu nanar.


"Pasti sakit 'kan."


"Tidak. Ini mah luka kecil." Aleesa pun menggeleng. Dia terus mengusap lembut sudut bibir Restu yang berdarah dengan ibu jarinya. Agar darah itu berhenti mengalir.


"Sa, gua gak apa-apa." Restu sudah meraih tangan Aleesa. Menatap Aleesa dengan dalam.


"Kenapa gak lu lawan? Kemana nyali lu?" omel Aleesa dengam begitu marah. Refleks Restu memeluk tubuh Aleesa. Dia sangat mengenal watak cucu-cucu Addhitama.


"Lawan! Jangan diam aja! Gua benci lu mukulin orang, tapi gua lebih benci lu dipukulin orang."


Ada rasa hangat yang menjalar di hati Restu. Baru kali ini remaja itu berbicara seperti ini. Beda halnya Aleena dan Aleeya.


"Bagaimanapun lu udah gua anggap seperti kakak gua sendiri, sama seperti Kak Rio."


Kehangatan itu menguar dan menjadi sebuah senyum hambar.


"Kenapa sakit ya dengar Aleesa bilang begitu?"


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2