
Wanita yang katanya ingin menonton film horor malah asyik bersembunyi di balik punggung Iyan.
"Ini film mau ditonton gak?" tanya Iyan yang sedari tadi jenuh karena menonton film setan bohongan.
"Mau, tapi takut."
"Gak ada serem-seremnya tahu," ucap Iyan. "Masih sereman teman-teman hantu aku."
"Iyan!" pekik Beeya. Pemuda itu malah tertawa dan membiarkan saja
wanita itu bersembunyi di balik punggungnya hingga film-nya selesai.
Satu jam berlalu, dia merasa punggungnya berat. Ketika dia menoleh ke arah belakang ternyata Beeya tertidur. Iyan membalikkan tubuhnya seraya memegang tubuh Beeya agar tidak ambruk. Perlahan Iyan membaringkan tubuh wanita itu
di sofa.
Iyan menatapnya lamat-lamat. Terlihat jelas gurat kesedihan yang mendalam pada wajah Beeya. Wajah yang tak secantik dulu dan terlihat kusam serta bibir yang pucat.
"Sesadis apa Bang Raffa hingga buat kamu seperti ini?" Iyan membenarkan anak rambut yang menutupi wajah Beeya. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.
Dia mencoba mengangkat tubuh Beeya dan membawanya menuju tempat tidur. Kasihan, jika Beeya harus tidur di sofa. Iyan menarik selimut hingga ke bagian dada Beeya.
"Mimpi indah, ya. Jangan sedih terus." Tangan Iyan membelai lembut rambut Beeya.
Ketika dia beranjak dari sana dan hendak pergi, tiba-tiba tangannya ada yang menarik. "Jangan pergi!"
Larangan itu terdengar sangat pelan dengan mata sayu yang sedikit terbuka. "Tetap di sini."
Tangan Beeya tak melepaskan cekalannya. Dia malah semakin erat mencekal tangan Iyan.
Iyan terpaksa mengikuti kemauan Beeya. Dia pun mulai naik ke tempat tidur Beeya dan merebahkan tubuhnya di samping wanita yang belum sembuh sepenuhnya.
Tanpa Iyan duga, Beeya membenamkan wajahnya dan melingkarkan tangannya pada pinggang Iyan. "Tetap seperti ini, aku butuh perlindungan."
Sakit sekali hati Iyan mendengarnya. Refleks, dia pun mengecup ujung kepala Beeya dan berkata, "aku akan tetap di sini. Menemani kamu dan menjaga kamu."
Bibirnya pun melabuhkan kecupan hangat di kening Beeya dengan sangat dalam dan lama. Tangannya pun membalas erat pelukan Beeya.
Pintu kamar terbuka sedikit. Arya malah tersenyum melihat Iyan dan Beeya tidur bersama. Bukannya malah melarang, dia malah membiarkan.
"Lihatlah anak kita, bro," gumam Arya. "Mereka benar-benar tidak bisa dipisahkan. Seperti persahabatan kita, hanya maut yang mampu memutus tali persahabatan kita."
Pintu kamar Arya tutup rapat kembali. Ada sedikit kelegaan di hati karena sang putri sudah mengalami sedikit perubahan.
.
Iyan membuka mata dan melihat Beeya masih terlelap dengan damainya di dalam dekapannya. Dia pun tersenyum. Mencoba menyingkirkan tangan Beeya karena dia akan segera membersihkan tubuhnya. Untung saja Beeya tidak terbangun.
__ADS_1
"Pagi!" sapa Iyan kepada tiga orang dewasa yang sudah ada di meja makan.
"Kayaknya nyenyak tidurnya," ejek Arya. Iyan hanya tertawa.
"Maaf ya, Pah, Mah," sesal Iyan.
Beby tersenyum mendengar ucapan dari Iyan. Anak dari suami sahabatnya ini benar-benar berbeda.
"Selama Beeya merasa nyaman dan senang, Mamah pasti akan terus dukung kalian. Makasih, udah mau ke sini. Beeya anak Mamah sudah mulai terlihat lagi," papar Beby.
"Sembuhkan lukanya. Papah berharap banyak sama kamu." Tepukan hangat di pundak Iyan membuat Iyan merasa mengemban tugas yang sangat berat.
Di kamarnya, Beeya sudah membuka mata. Dia mencari sosok pria yang semalam tidur dengannya.
"Iyan!" panggilnya dari dalam kamar. Namun, orang yang dia panggil itu tak kunjung datang.
Beeya berlari keluar dan terus memanggil nama Iyan. Suara itu terdengar sampai lantai bawah membuat empat orang yang ada di meja makan berlari ke lantai atas.
"Iyan!" Beeya berteriak dengan suara yang bergetar.
"Bee, kamu kenapa, Sayang?" tanya Arya yang lebih dulu sampai ke lantai atas.
"Iyan, Pah. Mana Iyan?" Air mata sudah menganak di pelupuk matanya.
"Aku di sini."
Beeya segera menoleh ke asal suara dan pria yang dia cari sudah tersenyum ke arahnya. Beeya segera berhambur memeluk tubuh Iyan.
Arina menatap pilu ke arah Arya dan Beby. Ternyata ada ketakutan di hati Beeya dan hanya kepada Iyan dia mampu mengungkapkan.
"Aku masih di sini." Iyan mengusap lembut punggung Beeya.
Arya, Beby juga Arina meninggalkan Beeya juga Iyan. Putri mereka memerlukan waktu berdua bersama Iyan.
"Sekarang mandi, ya. Kita sarapan." Beeya pun mengangguk mematuhi ucapan Iyan.
Selesai mandi, Beeya bergabung bersama kedua orang tuanya, bu'denya juga Iyan. Baru saja duduk, Iyan sudah menyendokkan makanannya dan mengarahkannya pada mulut Beeya. Putri dari Arya itupun tersenyum, lalu membuka mulutnya.
Secercah kebahagiaan datang pada kedua orang tua Beeya. Akhirnya, mereka melihat Beeya makan dengan lahap.
"Pah, boleh pinjam mobil gak?" tanya Iyan.
Beeya segera menatap tajam ke arah Iyan. "Mau ke mana?"
Ketiga orang dewasa mengulum senyum melihat reaksi Beeya. Sedangkan Iyan sudah berkata lembut kepada wanita itu, "mau ambil uang cash." Tangan Iyan pun mengusap lembut rambut Beeya.
"Pakai aja, Yan," jawab Arya.
__ADS_1
"Makasih, Pah."
Mimik wajah Beeya terlihat berubah membuat Beby membuka suara. "Apa kamu mau ikut sama Iyan? Sekalian jalan-jalan," ujar Beby dengan senyum yang begitu tulus.
"Emang boleh Bee keluar?" tanya Beeya terlihat antusias.
"Tentu boleh, 'kan sama Iyan."
Kini Beeya menatap ke arah Iyan dan senyuman hangat dia berikan kepada Beeya.
Iyan malah membawa Beeya ke sebuah mall yang berada di Bali. Beeya terheran-heran apalagi dia hanya mengenakan celana pendek juga kaos di tubuhnya.
"Kenapa ke sini?" Iyan tidak menjawab, dia malah membuka seatbelt yang Beeya gunakan.
Tangan Beeya terus merangkul mesra lengan Iyan. Dia juga menatap kiri dan kanan. Selama dia di Bali, dia tidak pernah pergi ke luar rumah.
Beeya tersentak ketika Iyan membawanya masuk ke sebuah salon.
"Mau ngapain?" Beeya sudah menatap bingung ke arah Iyan.
"Waktu untuk kamu hari ini." Beeya pun tersenyum mendengarnya. "Aku akan terus menemani kamu sampai kamu selesai."
Sebelumnya Iyan sudah berkonsultasi kepada Radit. Abang iparnya itu mengatakan mulailah dari hal yang sederhana. Salah satunya dengan ini. Dia membiarkan Beeya ke salon. Wajah wanita itu terlihat berbinar. Iyan hanya perlu menemani saja.
"Warna yang ini bagus gak?" Beeya seakan meminta persetujuan kepada Iyan. Pemuda itu hanya menganggukkan kepala.
Iyan masih setia mendampingi Beeya di salon walaupun sudah empat jam berlalu. Dia pun membelikan minuman juga makanan untuk Beeya. Tak malu juga menyuapi Beeya yang sedang dalam pewarnaan rambut.
"Aduh, kok manis banget sih pacarnya," ucap karyawan salon yang tengah mewarnai rambut Beeya. "Udah ganteng, pengertian dan juga setia menunggu pula. Limited edition loh yang kaya gini.
Iyan dan Beeya hanya saling pandang dan senyum mereka berdua pun mengembang. Tak membenarkan maupun mengelak ucapan dari karyawan tersebut
Iyan tengah fokus pada gadget-nya. Seperti biasa dia tengah asyik bermain game online sambil menunggu Beeya selesai. Tak Iyan sadari ternyata Beeya sudah ada di sampingnya.
"Asyik banget."
Suara Beeya membuyarkan kefokusannya. Iyan pun menoleh ke asal suara dan dia tertegun pada sosok yang ada di sampingnya. Matanya pun sampai tak berkedip.
"Kenapa?"
Iyan pun salah tingkah dan segera memutus pandangannya. "Akh bayar dulu." Dia pun segera beranjak dari duduknya tetapi tangan Iyan ditarik oleh Beeya hingga dia terduduk kembali.
Cup.
Sebuah kecupan di pipi Iyan membuatnya mematung. Kali ini ada desiran hebat yang mengalir pada tubuhnya. Berbeda dari interaksi mereka dulu. Iyan memandang wajah Beeya dengan lekat. Senyuman manis Beeya berikan kepada Iyan.
"Apa kali ini aku jatuh cinta kepada Kak Bee?"
__ADS_1
...****************...
Komen dong ...