Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
77. Wanita Penggoda


__ADS_3

Hari ketiga menjalin hubungan jarak jauh semakin membuat Iyan semangat dalam bekerja. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa ke Bali bertemu sang kekasih. Harusnya lusa di berangkat ke Bali jika negosiasi dengan sang Abang berhasil. Namun, semuanya gagal. Cukup membuat Iyan menelan kekecewaan.


"Aku rindu kamu, Pacar."


Wajah imut sang kekasih yang berada di panggilan video membuat Iyan tersenyum bahagia. Sorot mata Iyan mengatakan bahwa dia sangat merindukan Beeya. Sedari tadi mereka hanya saling pandang dengan bibir yang melengkung dengan sempurna.


"Kapan ke sini?" tanya Beeya dengan wajah sedihnya.


"Aku belum tahu, Chagiya." Wajah Beeya semakin sedih mendengarnya. "Tapi, aku sedang berusaha mempercepat pekerjaan ku biar bisa segera memeluk kamu secara langsung."


Mata Beeya sudah berkaca-kaca mendengar ucapan Iyan. Baru kali ini dia merindukan seseorang begitu dalam. Dia juga mendengar kalimat yang amat tulus yang Iyan ucapkan.


"Sabar, ya. Aku harap ketika aku ke sana kondisi psikis kamu semakin membaik." Beeya pun mengangguk.


"Aku ingin menghabiskan waktu selama lima hari di sana hanya bersama kamu." Kini, lengkungan senyum pun terukir di wajah Beeya. Ucapan yang keluar dari mulut Iyan terdengar sangat merindukannya. Tak dibuat-buat.


Iyan kembali fokus pada pekerjaannya lagi setelah sambungan video terputus. Pintu ruangannya ada yang mengetuk dan ternyata Wira yang sudah menongolkan kepalanya.


"Ada apa?" tanya Iyan tanpa memalingkan wajahnya dari layar segiempat di depannya.


"Ada cewek yang mau ketemu Pak manager."


Dahi Iyan mengkerut. Tatapannya pun tajam ke arah Wira meminta Wira menjelaskan secara lengkap.


"Saya bilang, Pak Manager gak ada, tapi dia tetap maksa dan gak percaya," jelasnya. "Dia malah menunjuk motor Pak manager yang terparkir di luar."


Helaan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Dia mencoba untuk berpikir, siapa wanita yang ingin menemuinya. Hanya orang terdekatnya saja yang tahu bahwa dia membawa motor.


"Ceweknya cantik loh, Pak," goda Wira.


Iyan tetap acuh pada ucapan Wira. Secantik apapun seorang wanita tidak bisa mengalahkan kecantikan seorang Abeeya Bhaskara, lebah cantik milik Iyan.


"Biarkan dia menunggu," sahut Iyan datar. Wira pun tercengang. "Kalau dia memang berniat menemui saya, dia akan rela menunggu berapa lama saya menyelesaikan pekerjaan saya."


Wira sudah tidak bisa berkutik jika Iyan sudah berkata seperti itu. Iyan adalah orang yang tak bisa dibantah. Wira memilih untuk pamit kepada Iyan.


"Siapa coba?" gumam Iyan.


Wira turun ke lantai bawah. Dia menemui perempuan yang tengah duduk di salah satu meja pengunjung.


"Maaf, Kak. Pak managernya masih sibuk," ucap sopan Wira. Dia berharap perempuan itu pergi sekarang juga. Melihat wajah Iyan yang tak bersahabat tadi, membuat Wira takut jikalau Iyan akan menyakiti hati wanita cantik ini. Wira sangat hafal gaya bicara Iyan.

__ADS_1


"Gak apa-apa, saya akan tetap nunggu dia. Kamu jangan khawatir."


Harapan Wira pun pupus sudah. Alamat dia akan dimarahi oleh sang manager. Wira tersenyum kecut dan meninggalkan perempuan itu.


"Siapa, Wir?" tanya salah seorang karyawan pria.


"Gak tahu, tapi nyariin Pak manager," jelas Wira.


"Gila ya, pak manager selalu dikerumunin wanita cantik," sahut laki-laki yang bertanya kepada Wira.


Setengah jam berlalu Iyan tak kunjung turun. Namun, wanita itu masih setia menunggu. Iyan turun dari lantai atas dan langsung menuju dapur dan menanyakan kepada Wira tentang orang yang ingin bertemu dengannya. Wira pun menunjuk wanita yang tengah fokus pada ponselnya. Hembusan napas kesal keluar dari mulut Iyan.


"Ngapain sih tuh orang." Wira mengerutkan dahinya. Sepertinya sang manager tahu wanita itu siapa.


"Gak kalah cantik sih sama calonnya Pak manager," sahut Wira.


Iyan keluar dari dapur dan menghampiri wanita tersebut. Wira terus memperhatikannya dari jauh. Dia penasaran apa yang akan Iyan lakukan kepada wanita itu.


"Mau apa Anda mencari saya?"


Suara Iyan membuat wanita yang tengah fokus pada layar ponsel memegang dadanya karena terkejut.


"Kenapa kaya setan sih, ngagetin tahu," ucapnya. Kemudian, wanita itu menggeser duduknya, mempersilahkan Iyan duduk di sampingnya.


"Astagah, ini orang mulutnya pedas amat sih."


Perempuan itupun menghembuskan napas kasar. Dia tersenyum ke arah Iyan yang memang terlihat sangat tampan.


"Aku hanya ingin mengajak kamu nonton," balasnya. Iyan masih terdiam dan masih menatap wanita itu dengan sangat tajam.


"Aku tahu, kamu pasti merasa kesepian karena gak ada si lebah. Eh, maksud aku Beeya."


"Anda mau menjadi wanita penggoda?" sergah Iyan. "Sahabat macam apa Anda," tambahnya lagi.


Perempuan itupun terdiam mendengar sergahan dari Iyan yang langsung menusuk ulu hatinya.


"Jangan harap saya tergoda dengan Anda," tekan Iyan.


Pemuda jangkung itu membalikkan tubuhnya dan menjauhi Pipin. Sahabat Beeya itu hanya bisa tercengang mendengar ucapan pedas nan mematikan yang keluar dari mulut Iyan. Tangannya segera meraih ponsel dan mencari kontak Beeya.


"Kena mental gua deketin pacar lu."

__ADS_1


Beeya yang sudah membaca pesan dari Pipin hanya tertawa. Ternyata sang kekasih hatinya itu sangatlah setia. Itu adalah ide Beeya karena dia ingin tahu Iyan tipe pria nakal' atau tidak. Tak lama berselang, ponselnya berdering dan lengkungan senyum terukir di wajah Beeya.


"Aku gak suka sama sahabat kamu."


Kalimat itu yang keluar dari mulut Iyan. Beeya pun melihat jikalau wajah Iyan sangat marah.


"Sahabat aku?" Beeya pura-pura polos.


"Kamu tanya aja sama sahabat kamu itu, aku gak mau bahas."


Beeya pun tertawa di dalam hati. Betapa manisnya wajah Iyan jika tengah marah. Kalau mereka berada di jarak yang dekat, sudah pasti akan Beeya cium bibir merah Iyan itu.


"Terus kamu ngapain hubungi aku?" tanya Beeya.


"Wajah kamu yang selalu buat hari aku tenang. Marah aku hilang dan rasa cintaku semakin besar."


Beeya tertawa dan berkata, "gombal!"


"Aku serius," katanya. Wajahnya pun menatap Beeya dengan sangat intens.


"Aku sangat merindukan kamu, Chagiya."


Hati Beeya mencelos mendengar ucapan Iyan. Sering dia mendengar kalimat itu dari banyak lelaki. Hanya ucapan Iyan yang mampu membuat hatinya bergetar.


"Aku juga merindukan kamu, Pacar."


Mereka pun saling pandang tanpa berbicara. Seakan tengah menghilangkan rindu yang menggebu.


"Aku rindu dicium kamu, Pacar."


Kalimat yang lolos begitu saja dari mulut Beeya. Sontak membuat Iyan mengerang kesal.


"Jangan buat aku semakin frustasi karena hal itu, Chagiya."


Beeya pun tertawa terbahak. Apalagi melihat Iyan yang menjambak rambutnya sendiri.


"Tunggu aku di sana dan aku akan mencium kamu sepanjang hari tanpa pernah melepaskan." Beeya pun tersenyum.


"Aku tunggu hingga waktu itu tiba, Pacar."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2