
"Masih gua pantau, belum gua bikin galau."
Sedari tadi Beeya memang sudah berada di tempat meeting Iyan. Dia juga sudah berada di restoran di mana Iyan sebutkan. Sang tunangan tidak membatalkan acara makan siang. Hanya saja Iyan mengatakan bahwa mereka tidak hanya makan siang berdua. Melainkan dengan rekan kerja. Beeya mengiyakan saja. Terpenting dia bisa dekat dengan kekasihnya itu.
"An-da sudah menikah?" tanya wanita yang bernama Salsa tersebut.
"Bukan hanya menikah, tapi kami sedang proses memiliki bayi." Suara seseorang membuat Iyan dan juga Salsa menoleh. Beeya datang dengan menggunakan dress di bawah lutut berwarna peach dengan rambut yang digerai membuat penampilannya sangat mempesona.
Iyan berdiri dan menyambut sang tunangan. Senyum manis dia berikan kepada Beeya. Itu tak luput dari pandangan Salsa.
"Ayang." Beeya berhambur memeluk tubuh Iyan. Dia menyodorkan keningnya agar Iyan cium. Kecupan hangat dan mesra dapat Beeya rasakan.
"Maaf ya gak bisa jemput." Beeya hanya tersenyum dan tangannya segera menggandeng tangan Iyan.
Wajah kaget Salsa tunjukkan. Terlebih Beeya menatapnya dengan tatapan tajam. Sangat tak bersahabat.
"Mau pesan apa?"
Salsa dibuat terkejut lagi. Sedari tadi Iyan tidak menawarinya makan. Juga tidak mau menerima tawaran darinya perihal menu makanan yang ingin Iyan pesan. Ternyata ini alasan pria di sampingnya. Mereka bukan hanya makan siang berdua.
"Terserah kamu aja." Beeya pun mendudukkan tubuhnya tepat di samping sang tunangan. Iyan tersenyum dan mengusap lembut ujung puncak kepala Beeya.
Iyan menyerahkan menu makanan dan mereka berdua melihat menu apa saja yang ada di sana. Salsa bagaikan kambing congek sekarang. Melihat kemesraan yang dua insan tunjukkan.
"Pak, alangkah lebih baiknya sambil membicarakan tentang projek yang ada di kertas itu," ucap Salsa sedikit memaksa. Namun, dengan wajah tak merasa bersalah.
Iyan menoleh ke arah sang kekasih. Beeya hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi Iyan.
__ADS_1
"Kerjalah, Sayang," ucap Beeya. Dahi Iyan sedikit mengerut mendengarnya. "Nanti malam akan aku berikan servis lebih memuaskan lagi." Tangan Beeya pun menyentuh leher Iyan yang tadi pagi dia lukis. "Lebih dari kecupan ini." Nakal, begitulah tatapannya sekarang.
Salsa mencengkeram rok yang dia gunakan. Kesal yang dia rasakan. Apalagi wajah pria yang menjadi cinta pada pandangan pertamanya itu sangat manis.
"Aku akan menagih janjimu nanti malam." Ucapan Iyan mampu membuat bulu kuduk Beeya meremang. Dia hanya berpura-pura. Namun, wajah Iyan nampak amat serius.
Ternyata Salsa bukan wanita pantang menyerah. Dia terus mencari perhatian Iyan. Dia tidak tahu saja siapa Rian Dwiputra Juanda, kanebo kering. Tangan Beeya tetap tidak melepaskan rangkulannya di lengan Iyan. Iyan pun tidak masalah dengan itu. Hanya Salsa yang terlihat sinis dan terus berdecih jika melihat Beeya bergelayut manja.
"Emangnya Ibu tidak ada kerjaan ya," kata Salsa kepada Beeya. Si lebah yang tengah anteng dibuat mendongak. Tatapannya masih datar. Namun, sengatan yang dia miliki sudah mulai aktif.
"Kenapa memangnya?" Malah Iyan yang membuka suara.
"E-enggak, Pak," sahut Salsa tidak enak. "Harusnya 'kan gak boleh ganggu suaminya yang lagi kerja," lanjut Salsa.
"Emangnya aku ganggu?" tanya Beeya kepada Iyan dengan mata yang nanar.
"Enggak. Aku 'kan yang meminta kamu untuk menemani aku di sini." Iyan mengusap lembut pipi Beeya. Lebah resek pun tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Iyan.
.
Menjelang senja mereka baru masuk ke dalam kamar hotel. Beeya terus menggerutu kesal karena meeting aneh yang Iyan lakukan.
"Manusia bo doh kok bisa jadi petinggi perusahaan," gerutunya yang masih belum selesai. Iyan menutup pintu kamar hotel dan menghampiri Beeya yang sudah duduk di sofa dnegan tangan dilipat di atas dada.
"Jelek ih," kata Iyan sambil memeluk tubuh Beeya..
"Ini yang aku gak suka!" Perkataan yang penuh dengan penekanan.
__ADS_1
"Apa?" Iyan mengendurkan pelukannya dan menatap wajah tunangannya yang masih tetap cangi walaupun dengan raut kesal.
"Kamu itu sekarang kerja kantoran, bukan pelayan kafe. Past banyak cewek yang ngelirik kamu. Buktinya si mecin," cerocos Beeya.
"Mecin?"
"Jangan belaga be go!" Mendengar ucapan sedikit kasar yang keluar dari mulut Beeya membuat Iyan menggigit bibir Beeya.
"Aw!"
"Aku gak suka kamu ngomong kasar," tukas Iyan.
Tangannya terulur untuk mengusap bibir pink kekasihnya. Tanpa aba-aba bibirnya sudah menyatu dengan milik Beeya. Begitu mesra dan hangat. Namun, tangan keduanya sekarang sudah tidak bisa diam. Beeya sudah membuka kancing kemeja tunangannya satu per satu. Begitu juga dengan tangan Iyan yang sudah menyelinap masuk ke bawah dress Beeya. Suara setan sudah mulai terdengar.
Asyik dengan kecupan yang mulai turun ke bawah, mereka dikejutkan dengan dering ponsel Iyan juga Beeya yang berdering secara bersamaan.
Sontak mata mereka berdua melebar ketika melihat siapa yang menghubungi mereka.
"Agha," gumam Iyan.
"Ghea," gumam Beeya.
"Hati-hati CCTV!"
Kedua anak itu berucap berbarengan membuat Iyan dan Beeya saling tatap.
"Daddy dan Mommy terbang ke Bali."
__ADS_1
Suara bel berbunyi dan dada Iyan serta Beeya berdegup sangat cepat.
...***To Be Continue***...