
"Lepasin Kak Bee!"
Raffa yang tengah menyeret paksa Beeya pun menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah Iyan dengan tatapan sengit.
"Jangan ikut campur, perebut pacar orang!" pekik Raffa.
Tangan Iyan sudah mengepal dengan sangat keras mendengar ucapan dari Raffa. Wajah putihnya sudah merah padam. Dia pun menghampiri Raffa dan mencengkeram kerah kemeja Raffa dengan penuh kesetanan. Beginilah jika Iyan marah, aura teman-teman Iyan seakan masuk ke dalam tubuh Iyan.
Bruk!
Tangan Iyan masih melayang di udara, tetapi terdengar suara orang yang terjatuh.
"Kak Bee!"
Raffa pun mendorong tubuh Iyan dengan cukup keras dan dia segera membawa Beeya masuk ke dalam mobil. Raffa menghampiri Iyan kembali dan menatap nyalang ke arah Iyan.
"Jangan pernah ganggu pacar gua!"
Iyan hanya terdiam dan menatap mobil yang digunakan oleh Raffa untuk membawa Beeya.
"Pak Bro, Anda gak apa-apa?" tanya Wira dengan napas terengah-engah karena berlari dari arah dapur. Iyan hanya menggeleng dengan raut yang tak bisa dibaca.
"Iyan, kamu gak apa-apa?" tanya Anggie dengan sangat khawatir. Dia menangkup wajah Iyan seraya memeriksanya. Namun, dengan lembut Iyan menurunkan tangan Anggie.
Semenjak mendengar the Sahan yang menjijikan di telinga Iyan tempo hari di area kosannya, banyak bisikan yang mengatakan bahwa Anggie bukanlah wanita baik-baik. Semakin ke sini bisikan itu semakin jelas terdengar.
Bertepatan dengan itu, pemilik Moeda kafe datang bersama istri dan ketiga anaknya.
"Ngapain pada di luar?" tanya Echa.
Wira hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pamit untuk kembali ke dapur lagi.
"Tumben Kakak ke sini?" Iyan mencium tangan sang kakak dan memeluknya.
"Kangen sama adik tampan Kakak dong."
Aleesa, si anak sensitif menatap Anggie dengan tatapan tajam.
"Om kecil, pilihlah perempuan yang baik-baik. Jangan mau tertipu dengan penampilan lugu." Anak kedua dari Echa dan Radit pun berlalu begitu saja setelah mengatakan itu. Diikuti Aleena dan Aleeya yang sudah memanggil nama Wira untuk dibuatkan minum.
"Sayang, aku duluan ke dalam, ya." Echa pun mengangguk seraya tersenyum.
"Ini Kakak dari Iyan itu? Masih terlihat muda dan semakin cantik."
"Perempuan itu siapa, Yan?" Echa tidak mau berbasa-basi.
"Dia Anggie, Kak. Teman Iyan waktu SD yang ibunya mirip Bunda itu loh. Kakak masih ingat?"
"Astaga! Cantik sekali kamu Anggie."
Anggie tersipu malu mendengar pujian dari Echa. Mereka masuk ke dalam dan berbincang santai.
"Ini Ibu bos minumnya," ucap Wira.
__ADS_1
"Makasih, Wir. Anak-anak di dapur?" Wira mengangguk. "Yang sabar ya, Wir."
"Udah biasa Bu bos."
Echa dan Iyan pun tergelak. Si triplets akan menjadi pengacau di area dapur jika datang ke kafe milik ayahnya. Namun, semua karyawan bukan membenci mereka malah menyukai mereka. Dari ketiga anak remaja itu mereka selalu mendapat kreasi baru dalam menu makanan di kafe.
Anggie yang melihat kedekatan Iyan dan Echa merasa iri. Bagaimana tidak, kakak dari Iyan itu sangat tulus menyayangi Iyan. Iyan pun tak segan bermanja dengan kakaknya.
Sedang asyik bercengkerama, ponsel Echa berdering. Dia segera mencari ponselnya di dalam tas. Dahinya mengkerut ketika melihat nama si pemanggil.
"Iya, Om."
Iyan sudah bisa menebak siapa yang menghubungi sang kakak.
"Di rumah sakit mana, Om? Echa ke sana sekarang."
Kakaknya mengakhiri sambungan telepon dan menatap ke arah Iyan. "Beeya, dirawat."
"Iyan ikut ke rumah sakit."
Anggie tercengang mendengar ucapan dari Iyan. Pemuda itu lebih memilih Beeya dibandingkan dia yang ada di depan mata.
"Kakak ke atas dulu, ya."
Iyan pun mengangguk dan segera menuju dapur untuk mengganti pakaiannya. Meninggalkan Anggie sendirian.
"Emang udah mau tutup?" tanya Aleeya.
"Om mau ikut ke rumah sakit. Kak Bee masuk rumah sakit."
"Kok bisa?" tanya Wira.
"Tadi dia pingsan, langsung dibawa pacarnya."
Kalimat itu terdengar sangat lirih dan penuh dengan luka di telinga Wira.
"Nitip motor, ya. Masukin aja ke dalam kafe." Wira hanya mengangguk patuh.
Sang kakak dan suaminya sudah turun dari lantai atas dan akan segera menuju rumah sakit. Iyan pun bergegas ikut dengan mereka.
"Yan, Anggie," tunjuk Echa.
"Dia tahu kok."
Dahi Radit mengkerut melihat sikap Iyan. Di atas, dia menemukan ikat rambut wanita. Namun, dia tidak akan menanyakannya di depan Echa.
.
"Kenapa bisa begini, Fa?" desak Arya yang sudah emosi.
"Aku tadi ke kantor Beeya, tenyata dia gak masuk. Malah ada di kafe Iyan."
Arya cukup terkejut mendengarnya. Begitu juga dengan Beby.
__ADS_1
"Udahlah Pak Arya, jangan salahkan putra saya. Lebih baik acara pertunangan anak kita dipercepat. Dua Minggu kemudian, langsung akad dan resepsi biar Raffa bisa jagain Beeya terus."
Rudi Alamsyah yang tak lain adalah ayah dari Raffa memberi ide. Hati kecil Arya menolak, sama halnya dengan Beby. Sangat berat melepaskan Beeya yang tak lain adalah putri mereka satu-satunya.
"Saya tidak bisa memutuskannya, Pak Rudi. Semuanya terserah putri saya."
.
Di perjalanan Iyan terlihat memikirkan yang dikatakan oleh Raffa. Perebut pacar orang. Sungguh sebutan yang menyakitkan sekali.
"Ay, kamu ngerasa gak semenjak bersama Raffa sikap Beeya semakin berubah. Dia semakin menjauhi kita, seperti memasang benteng kepada kita."
"Raffa 'kan posesif, wajar aja kalau begitu." Radit menimpali ucapan sang istri.
"Kamu juga 'kan posesif, tapi gak gitu-gitu amat. Masih ngebolehin aku kumpul sama sahabat aku juga keluarga aku."
"Orang itu beda-beda, Sayang." Radit mengusap lembut rambut istrinya.
Tibanya di rumah sakit, mereka menuju lantai di mana Beeya dirawat. Iyan ijin ke toilet terlebih dahulu karena sudah tidak tahan dan Echa memberitahukan kamar yang dihuni oleh Beeya.
Kedatangan keluarga kecil Echa disambut hangat oleh Arya juga Beby. Pak Rudi pun ikut menyambut mereka. Echa akan menjadi sosok pengganti ayahnya, akan selalu ada ketika Arya menghubunginya.
"Hai, Bee."
Beeya tersenyum ke arah Echa dengan wajah yang masih pucat. Si triplets sudah memeluk Beeya dengan sangat erat. "Miss you." Mereka berbicara dengan sangat kompak.
Beeya tidak mengharapkan Iyan datang karena dia tahu Iyan sedang bersama perempuan yang dia sendiri tidak tahu namanya.
Raffa yang bersikap manis kepada Beeya membuat hati Beeya semakin membencinya. Tangan Raffa yang sudah menyentuh rambutnya pun dia tepis lembut.
"Jangan digituin, pusing." Beeya beralasan, dia sudah tidak ingin disentuh oleh Raffa. Sudah sangat muak dan ingin menampar wajah sok alimnya.
"Bee, Om udah bicara dengan Papah kamu perihal pertunangan kamu."
Mata Beeya melebar mendengarnya. Dia menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Tu-tunangan?"
Pak Rudi dan Raffa mengangguk mantap. "Biar aku bisa jagain kamu terus, Sayang."
"Cih!"
"Apa kamu keberatan, Bee?" Arya melihat raut terkejut Beeya dan Beby merasa anaknya tidak mau bertunangan secepat ini.
Beeya terdiam sejenak, menimbang-nimbang apa yang diucapkan oleh dua pria di hadapannya itu. Terukir senyuman kecil di wajahnya.
"Gimana, Bee?"
"Ya, Bee mau."
Dari arah pintu luar, seorang pemuda tersenyum perih ketika mendengar yang dikatakan Beeya dari dalam. Tangannya yang sudah memegang gagang pintu, dia lepaskan kembali.
"Selamat, Kak Bee."
__ADS_1
...****************...
Komen dong ...