
"Jikalau, nanti Iyan ingin menjalin hubungan yang serius dengan kamu. Apa kamu mau?"
Beeya terdiam mendengar ucapan dari kakak pertama Iyan. Bibirnya pun terangkat sedikit.
"Sekarang, apa Iyan mau memiliki calon istri yang tidak waras seperti Bee?" tanya balik Beeya.
Echa sedikit terkejut mendengar ucapan dari Beeya. Tidak waras, itu tidak terjadi pada Beeya.
"Kamu tidak gila, Bee," ralat Echa.
"Kakak dan keluarga Bee memang menganggap Bee tidak gila. Namun, beda halnya dengan orang lain," ungkapnya. "Apakah nanti Iyan akan sanggup menerima omongan orang-orang? Pastinya akan menyakiti hati Iyan. Bee gak mau." Perempuan itupun menggelengkan kepalanya.
"Bee belum sembuh, Kak. Biarkan Bee menyembuhkan sakit tak kasat mata yang Bee derita dulu. Bee tidak ingin membuat Iyan kecewa. Bee tidak ingin membuat Iyan terluka."
Kalimat yang sangat tulus keluar dari mulut Beeya. Tatapannya pun penuh dengan keseriusan. Echa tersenyum dan memeluk tubuh Beeya. Anak yang menyebalkan kini tumbuh menjadi wanita yang sangat luar biasa.
Aleena menyenggol lengan Iyan dan matanya memberikan kode kepada sang paman. Iyan mengikuti ke mana mata Aleena tertuju. Dia melihat sang kakak tengah memeluk tubuh Beeya dengan penuh kasih sayang. Lengkungan senyum pun terukir di wajah Iyan.
"Lampu hijau kayaknya," ujar Aleena.
Iyan hanya tertawa dan menatap Aleena penuh bahagia. "Doakan saja."
Setelah selesai membakar ayam juga seafood yang ada, Iyan dan Aleena membawa makanan tersebut ke meja yang tak jauh dari mereka. Sedangkan Aleeya sudah kekenyangan karena dia selalu mencicipi apa yang dia bakar.
Iyan merampas ponsel yang tengah Beeya pegang. Sontak Beeya menatap tajam ke arah Iyan, tetapi Iyan memasang wajah datar.
"Hape apa aku?"
Kekesalan Beeya pun melebur begitu saja. Dia malah tersenyum dan meminta Iyan untuk membantunya bangun dari duduknya.
"Aku pilih kamu."
__ADS_1
Beeya menatap Iyan dengan mata berbinar. Iyan pun tersenyum dan ingin sekali mencium bibir Beeya. Walaupun pucat, tetapi tetap memiliki magnet yang sangat kuat.
"Bibir kamu sangat menyiksa aku," bisiknya.
Beeya pun tertawa dan merangkul manja lengan Iyan. Arya dan Beby yang melihat dua anak manusia itu tersenyum bahagia. Bukan hanya para manusia yang bahagia. Makhluk tak kasat mata pun ikut berbahagia.
Baru beberapa langkah Beeya dan Iyan menuju meja, Beeya berteriak histeris dan membuat semua orang terkejut. Apalagi Beeya menyembunyikan wajahnya di dada Iyan dengan tangan yang melingkar di pinggang Iyan dengan sangat erat.
"Kamu kenapa?" tanya Iyan.
Semua orang pun sudah mendekat ke arah Beeya. Mereka hanya takut trauma Beeya kambuh lagi. Hanya Aleesa juga Yansen yang tertawa memperhatikan Beeya yang ketakutan.
"Itu."
Beeya menunjuk ke arah bawah. Iyan menghela napas kasar karena si kerdil sedang menghitung biji kacang hijau yang sengaja disebar oleh salah satu anak dari Riana juga Aksa. Iyan sangat tahu siapa yang sering mengerjai si kerdil bertelinga panjang dengan lendir yang keluar dari hidungnya berwarna hijau.
"Aku jijik!"
"Lepasin tangan Kak Bee dari Om kecil," titah Aleesa.
Namun, Beeya tidak mau. Dia masih betah memeluk erat tubuh Iyan. Kini, Iyan menatap kesal ke arah si makhluk kerdil yang tengah berjongkok sambil menghitung kacang hijau yang tak akan pernah selesai.
"Maafkan aku. Anak itu sangat nakal," tunjuk si kerdil ke arah Ghea.
Sudah Iyan duga, pasti Ghea dapat ilmu ini dari kakaknya. Bukan hanya Ghea yang Iyan tatap tajam. Agha pun Iyan tatap dengan sorot mata yang lebih tajam.
"Daddy!" teriak adik-kakak itu.
.
Iyan memilih makan berdua diruang keluarga bersama Beeya. Si kerdil membuat suasana menjadi kacau dan itu semua karena Ghea
__ADS_1
Iyan sama sekali tak menyentuh makanan yang ada di piring. Dia terus memandangi wajah Beeya yang terlihat sangat cantik ketika tengah melahap makanan.
"Kenapa gak makan?" tanya Beeya yang ingin mengambil minum. Iyan dengan sigap membukakan air mineral yang masih tersegel untuk sang kekasih.
"Makasih."
Beeya meneguk minuman yang telah Iyan berikan. Iyan pun tersenyum ketika melihat pacarnya meneguk air mineral.
"Besok, aku ingin kamu mengantar aku sampai Bandara."
Beeya sudah menatap Iyan dengan tatapan penuh permohonan. Wajahnya pun terlihat sendu. Iyan pun mengangguk.
"Sebelum berangkat aku ingin kita makan siang bersama dulu."
Iyan tidak menjawab, dia menarik tangan Beeya dan memeluknya. "Apapun yang kamu minta, pasti akan aku turuti."
Senyum bahagia pun terukir di wajah Beeya. Dia membalas pelukan Iyan dengan tak kalah eratnya. Lama berpelukan akhirnya Beeya mengurai pelukan Iyan. Dia memilih memakan sosis yang sudah melambai-lambaikan tangan untuk minta disentuh. Iyan menarik dagu Beeya dan sontak kunyahannya terhenti. Wajah Iyan sudah dimiringkan dan Beeya tahu apa yang Iyan inginkan.
Lima Senti.
Empat senti.
Tiga senti.
Dua Senti.
Mata Beeya sudah terpejam. Dia seakan mempersilahkan Iyan untuk melakukan apa yang kekasihbha itu inginkan. Juga dengan senang hati dia sudah menyambutnya.
"RIAN DWIPUTRA JUANDA. JANGAN MACAM-MACAM! KAKAK CORET KAMU DARI KARTU KELUARGA!"
...****************...
__ADS_1