Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
116. Alarm dan Operator


__ADS_3

Boleh minta komennya gak? Gratis Kok.


...****************...


Subuh buta Beeya sudah terbangun dan masuk ke kamar sang kekasih. Dilihatnya Iyan masih tidur. Sekarang masih jam empat subuh, keberangkatan keluarga besar Iyan jam enam pagi. Beeya mendekat ke arah tempat tidur sang tunangan. Mengecup kening Iyan dengan begitu dalam.


"Jangan nakal di Jakarta, ya."


Kalimat yang sangat pelan yang dilontarkan oleh Beeya. Dia teringat akan kejadian semalam. Tubuhnya seakan dikuasai oleh setan. Untungnya Iyan masih bisa menahan. Bibir Beeya terangkat sedikit. Jika, semalam Beeya melakukan itu kepada mantan kekasihnya yang bejat sudah pasti dia akan diterkam tanpa ampun. Beda halnya dengan Iyan yang menolak dengan tegas.


Beeya memasukkan baju-baju yang Iyan bawa ke dalam tas. Dia ingin ketika Iyan membuka mata semuanya sudah rapi dan Iyan tinggal berangkat ke bandara. Setelah semuanya selesai, Beeya keluar dari kamar Iyan dan membuatkan sarapan yang sederhana, tapi dijamin Iyan sangat suka.


Asyik membolak-balik roti tawar yang berada di atas teflon, sepasang tangan melingkar di perut Beeya dan mampu membuat Beeya terlonjak. Jika, tidak melihat cincin yang sama dengannya sudah pasti Beeya akan memukul tangan itu dengan spatula panas.


"Mandi gih," titah Beeya. Iyan sudah meletakkan dagunya di bahu sang kekasih hati. "Nanti sarapannya aku bawa ke kamar kamu."


Namun, Iyan tidak menggubris. Dia malah semakin erat memeluk Beeya dari belakang. Tangan Beeya sudah mematikan kompor. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah sang kekasih yang masih belum terkumpul nyawanya.


Cup.


Beeya mengecup bibir Iyan sekilas dan mampu membuat mata Iyan membuka. Beeya malah tertawa.


"Modusnya bisaan," kelakar Beeya yang tertawa.

__ADS_1


"Kurang," sahut Iyan dengan suara paraunya.


"Enggak, kamu belum mandi." Beeya mendorong tubuh jangkung itu agar menjauh darinya.


"Mandi dulu Sanah!"


Iyan berdecak kesal, tapi langkahnya menuju lantai atas di mana kamarnya berada. Beeya terus tertawa melihat tingkah sang kekasih.


Roti bakar dengan topingan keju yang banyak akan membuat Iyan bahagia. Dia menuju lantai atas dan masuk ke kamar Iyan. Ternyata sang kekasih tengah mengeringkan rambut.


"Sini aku bantu."


Iyan menoleh ke arah belakang dan Beeya bergegas meletakkan piring berisi roti panggang di atas nakas. Kemudian, dia naik ke atas tempat tidur dan membantu Iyan mengeringkan rambut.


Beeya hanya tersenyum, tangan kiri Beeya Iyan tarik ke depan agar memeluk pinggangnya.


"Nantinya susah, Ayang," ujar Beeya.


"Gak kering juga gak apa-apa."


Beeya hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan kelakuan kekasihnya ini. Setelah kering, Iyan tak membiarkan Beeya jauh darinya.


"Sarapan dulu, Ayang." Beeya melihat Iyan tengah fokus pada layar ponselnya. "Aku ambilin, ya."

__ADS_1


Namun, Iyan melarangnya lagi. Menahan tangan Beeya yang hendak pergi dari sampingnya.


"Aku ambilin sarapan kamu dulu. Nanti aku suapin." Iyan menoleh ke arah Beeya yang sudah tersenyum sangat manis. Perlahan tangan Iyan pun melonggarkan cekalannya.


Beeya meraih piring berisi roti panggang yang ada di atas nakas. Dia menyuapi Iyan yang tengah fokus pada layar ponsel. Pemuda itu membuka mulutnya. Lalu, menggigit roti bakar yang Beeya berikan. Namun, matanya masih terfokus pada layar benda pipih itu.


Di saat seperti ini Beeya harus belajar mengerti Iyan. Dia tahu bagaimana keluarga Iyan. Sudah pasti nanti Iyan akan sesibuk dua kakak iparnya. Inilah saatnya Beeya mengerti pekerjaan Iyan. Memberikan Iyan ruang agar fokus bekerja, tetapi tidak lupa pada dirinya.


"Mau minum?" Iyan menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan.


Seulas senyum Beeya berikan dan dia beralih mengambil gelas panjang berisi air putih. Memberikannya kepada kekasihnya. Beeya yang bar-bar ternyata termasuk wanita yang penyabar. Buktinya dia dengan sabar menyuapi Iyan hingga roti panggang buatannya tak tersisa.


"Habis." Beeya berucap dengan riang. Meskipun Iyan tidak merespon, Beeya tidak mempermasalahkannya.


Wanita itu meraih tisu dan mengusap lembut bibir sang kekasih agar bersih dan tak belepotan. Melihat wajah Iyan dari dekat dengan raut serius mirip sekali dengan mendiang ayahnya. Tanpa Beeya sadari dia menatap Iyan terlalu dalam dan membuat Iyan mengecup bibir pink milik Beeya dengan singkat. Mata Beeya pun melebar. Iyan tersenyum dan menarik tubuh Beeya hingga duduk menyamping di pangkuannya.


"Makasih, Chagiya." Beeya hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Jangan telat makan. Aku gak mau kamu sakit." Raut wajah Beeya sudah berubah dan mampu membuat Iyan tersenyum bahagia. Dia mengecup kening Beeya dengan begitu dalam.


"Ingetin aku terus karena sekarang kamu adalah alarm dan operator dalam hidup aku."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2