
Beeya masih berdiri di samping tempat tidur ketika sang kekasih sudah memangku laptop di atas tempat tidur. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Beeya.
"Ayang," panggilnya.
"Hem." Mata Iyan masih tertuju pada laptopnya. Membiarkan sang kekasih berdiri sedari tadi.
Beeya meniup poninya dengan sedikit memanyunkan bibirnya. Sungguh tunangannya teramat menyebalkan.
"Pentingan laptop kamu apa aku?" Iyan terdiam dan segera menatap sang kekasih yang sedari tadi berdiri.
Iyan menurunkan laptopnya dan menarik tangan Beeya hingga terjatuh ke dalam pangkuannya. Mengecup bibir Beeya berkali-kali secara singkat.
"Kamu selalu menjadi yang terpenting untuk aku," ujar Iyan. Wajah Beeya masih datar. Terlihat dia sangat kesal.
"Aku membawa kamu ke sini untuk menemani aku. Untuk mengusir rasa cemasku selama dua Minggu ini." Beeya pun luluh dengan ucapan Iyan. Tunangannya itu seperti memakai pelet. Setiap Iyan berkata pasti Beeya akan menjadi kucing manis.
"Tunggu ya, nanti akan ada waktunya untuk kita berlibur berdua." Beeya pun mengangguk. Dia semakin mengeratkan pelukannya kepada Iyan.
Ada rasa bersalah di hati Iyan. Namun, dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Jadi, harus ada yang dikorbankan.
"Ya udah kamu lanjut kerja lagi," titah Beeya. Dia pun sudah mengendurkan pelukannya dan hendak beranjak dari pangkuan Iyan.
"Mau ke mana?" Tangan Iyan sudah mencekal tangan Beeya dengan sorot mata penuh tanya.
"Cuci muka." Beeya menatap sang kekasih. "Nanti muka aku jerawatan kalau sebelum tidur gak cucu muka." Iyan pun mengijinkan. Dia juga mengambil kembali laptop yang tadi dia letakkan.
Beeya sudah naik ke ranjang dan merangkul manja sang tunangan. Dia juga ikut melihat pekerjaan apa yang tengah Iyan kerjakan.
__ADS_1
"Apa setelah menikah nanti kamu akan lebih sibuk?" Pertanyaan yang keluar begitu saja.
Tangan Iyan yang tengah menari-nari di atas keyboard pun terhenti. Dia menatap ke arah sang kekasih yang sudah meletakkan kepalanya di bahu Iyan.
"Sebisa mungkin aku akan mengatur waktu karena aku juga tidak ingin jauh dari kamu."
"Ahh ... love you." Beeya semakin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Iyan.
Beeya benar-benar menemani sang tunangan menyelesaikan pekerjaannya. Sedari tadi dia terus menguap. Iyan sudah menyuruh wanita tersayangnya itu untuk tidur. Namun, Beeya menolak. Sesekali mereka melakukan French kiss untuk membuat mata mereka segar kembali. Itu adalah ide Beeya.
"Udah ya." Iyan mengusap lembut bibir Beeya. Dia takut kebablasan. Bagaimanapun dia adalah pria normal. Cacing kalungnya bisa menjadi anaconda ganas jika sudah kena aliran listrik dengan voltase tinggi.
"Aku gak mau merusak kamu. Aku memang ingin memiliki kamu, tapi aku juga tidak ingin menjadikan kamu barang cicilan," papar Iyan. "Aku ingin membuka keorisinalan kamu ketika kita sudah sah jadi suami-istri.
Beeya pun tersenyum dan mengecup kembali bibir merah Iyan. Namun, kali ini hanya sebentar. "Aku tidur, ya."
Sesekali Iyan pun mengusap lembut tangan Beeya yang melingkar di perutnya. Dia menghela napas ketika melihat belahan gunung kembar Beeya yang sangat mulus dan putih. Itulah kebiasaan Beeya jika tidur. Hanya memakai piyama berbelahan dada rendah dengan celana sangat pendek. Iyan juga dapat melihat daging kecil yang kentara karena Beeya memang tidak memakai braa.
"Andaikan imanku lemah, dan para temanku tidak selalu berada di sampingku. Sudah pasti kamu akan kunikmati," gumam Iyan. Untungnya dia sudah mulai terbiasa dengan kelakuan Beeya.
.
Iyan sudah tampan dengan kemeja putih yang dia kenakan. Dia juga tengah memakai jam tangan. Setelah rapi dia mendekat ke arah sang tunangan yang masih terlelap. Iyan tersenyum, dia menatap wajah Beeya yang terlihat cantik meskipun tengah tertidur. Iyan mengecup kening Beeya dengan sangat dalam. Hingga wanita itu terbangun dan memicingkan matanya ketika sang kekasih hati sudah tampan sekali.
"Aku ganggu, ya." Beeya menggeleng.
"Sepagi ini?" Iyan mengangguk.
__ADS_1
Beeya segera bangkit dari posisi tidurannya. Dia menatap wajah sang tunangan. Iyan segera menyambar bibi Beeya. Awalnya Beeya tidak siap, tapi akhirnya dia bisa mengimbangi.
"Aku belum sikat gigi," ujar Beeya setelah ciuman itu berakhir.
"Tetap nikmat kok sarapannya." Beeya pun tersenyum. Dia masih melingkarkan tangannya di pinggang Iyan.
"Aku berangkat, ya." Beeya mengangguk dengan perasaan berat hati.
"Aku meetingnya di hotel ini kok. Aku janji siang nanti kita makan siang bersama." Beeya pun mengangguk.
"Aku pergi dulu, ya." Kecupan di kening yang sangat dalam Iyan berikan. Beeya pun memejamkan matanya sejenak.
Iyan mulai meraih jasnya dan untuk kesekian kalinya dia mengecup kening Beeya. Dia membayangkan jika mereka sudah menjadi suami-istri nanti.
"Meetingnya sama perempuan apa laki-laki?" Pertanyaan konyol yang keluar dari mulut Beeya.
"Keduanya, Chagiya."
Beeya segera berdiri, dia mendekatkan wajahnya ke leher sang tunangan.
"Mau apa?" tanyanya.
"Memberikan tanda kepemilikan di leher putih kamu."
...***To Be Continue***...
Komen atuh ...
__ADS_1