
"Oh iya, Pah. Apa Kak Bee ada? Iyan ingin bertemu dengan dia."
Bukannya menjawab, Arya menyeka ujung matanya. Iyan pun dibuat bingung dengan sikap ayah dari Beeya yang tidak biasanya seperti ini.
"Pah," panggil Iyan.
Arya menghela napas kasar dan membawa pemuda itu duduk di sofa. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.
"Kamu sudah tahu? Makanya kamu ke sini?"
Iyan pun terdiam mendengar sergahan dari Arya. Kemudian, dia mengangguk tanpa mengeluarkan satu buah kata pun.
"Bang Radit baru bilang."
Arya pun tersenyum kecut mendengarnya. Hatinya terasa sangat sakit.
"Laki-laki berengsek yang sudah membuat anak Papah berubah," jawabnya. "Ingin sekali Papah membunuhnya."
Iyan melihat jelas betapa murka sekaligus sakitnya Arya. Dia semakin bingung dengan apa yang telah terjadi dengan Beeya. Iyan pun menggeser duduknya, mendekat ke arah Arya.
"Pah, apa yang terjadi dengan Kak Bee?" Iyan bertanya dengan nada cukup lembut agar tidak membuat sahabat dari ayahnya ini bersedih lagi.
Arya mengeluarkan ponselnya dan dia menunjukkan sebuah foto kepada Iyan. Tubuh Iyan menegang melihat apa yang terjadi pada Beeya.
"Beeya merasakan tekanan luar biasa selama menjalani hubungan dengan Raffa. Dampaknya baru sekarang, dan Beeya sering sakit-sakitan akibat trauma yang dia terima.
Iyan menatap wajah Arya yang terlihat sangat pilu. Dia tidak menyangka perempuan yang sudah dia anggap seperti kakaknya mengalami hal seburuk ini.
"Raffa sudah sering mengkhianatinya. Dia juga sering mengancam akan menodai Beeya jika Beeya memintanya menyudahi hubungan mereka."
Iyan terkejut dengan apa yang dia dengar. Selama ini Beeya sangat pandai menyimpan kebusukan Raffa. Tidak pernah berkata apapun kepada Iyan perihal pacarnya itu.
"Raffa juga sering mencium Beeya dengan paksa," lanjutnya lagi.
Urat-urat kemarahan sudah hadir di wajah Iyan. Dadanya bergemuruh hebat mendengar ucapan dari ayah Beeya.
"Hal yang paling membuat Beeya sakit, yakni dia pernah memergoki Raffa sedang melakukan hubungan suami-istri dengan seorang wanita di hotel ketika di Malang."
Mata Iyan melebar. Dia tidak akan pernah tinggal diam akan hal ini. Dia harus membuat perhitungan dengan Raffa. Laki-laki tak tahu diuntung.
"Di mana Kak Bee sekarang, Pah?" tanya Iyan yang masih bersikap biasa. Padahal hatinya sudah menyimpan amarah yang tiada tara. "Iyan ingin bertemu dengannya."
Arya tersenyum hambar mendengar ucapan dari anak sahabatnya. Sikap perhatiannya masih sama seperti dulu. Walaupun pemuda itu pernah menghilang untuk menjaga jarak dengan Beeya akibat keposesifan Raffa. Namun, rasa pedulinya masih ada sampai saat ini .
__ADS_1
"Dia tidak ada di sini. Dia tengah ada di Bali."
Kejutan lagi yang Iyan terima. Dia tidak menyangka Beeya akan pergi sejauh itu hanya untuk menyembuhkan traumanya.
"Psikiater bilang, kalau terus berada di Kota ini, psikis Beeya akan lama sembuhnya. Walaupun, psikiater itu sendiri tidak menjamin Beeya sembuh secara cepat jika berada si Bali. Setidaknya, memori jelek itu perlahan-lahan bisa Beeya lupakan dan akan membawa Beeya pada kesembuhan. Apalagi suasana Bali cukup menenangkan juga menyenangkan."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Dia menatap ke arah Arya dengan intens.
"Boleh Iyan menjenguknya?"
Arya terkejut dengan ucapan Iyan. Dia pun mengerutkan dahi seolah tidak percaya dengan ucapan putra bungsu almarhum Rion Juanda.
"Maafkan Iyan, Ayah. Iyan kira Kak Bee sudah bahagia. Makanya, Iyan memilih untuk menghindar daripada Kak Bee yang selalu kena sasaran kemarahan Bang Raffa."
Kejujuran Iyan membuat hati Arya sakit. Sebagai seorang ayah dia juga telah salah mempercayakan putri tunggalnya kepada sosok Raffa. Laki-laki pilihan dari papihnya untuk bersanding dengan Beeya.
"Jangan sebut nama pria berengsekk itu. Rasanya Papah ingin membunuhnya dengan tangan Papah sendiri."
Lama mereka terdiam, hingga Arya membuka suara. "Lusa Papah mau ke Bali, apa kamu mau ikut?"
Ajakan Arya membuat Iyan mengangguk dengan cepat. Dia sangat bahagia karena Arya mengajaknya.
"Semoga kehadiran kamu, membuat keadaan Beeya semakin membaik."
.
Iyan sedang memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas ransel. Namun, dia belum berbicara kepada kedua kakaknya juga kedua Abang iparnya. Walaupun mereka tidak mengijinkan, Iyan akan tetap terbang ke sana.
Malam hari, Iyan memberanikan diri mengetuk pintu kamar sang kakak. Tidak etis berbicara di meja makan. Begitulah pikirnya.
Pintu kamar terbuka, Radit sudah
menukikkan kedua alisnya. Tidak biasanya, adik iparnya ini mengetuk pintu kamarnya.
"Kak Echa ada?" Terlihat Iyan canggung.
"Masuk!"
Radit membuka pintu kamar dengan lebar dan Iyan pun melangkahkan kaki menuju kamar yang luas itu. Dilihatnya sang kakak tengah fokus pada layar laptopnya di sofa.
"Sayang, ada adik kamu tuh."
Echa pun menegakkan kepalanya ketika mendengar ucapan dari sang suami. Dilihatnya sudah ada Iyan yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Yan, ada apa?" tanyanya. Melihat adiknya masih berdiri, Echa pun menepuk sofa di sampingnya. Menyuruh Iyan untuk duduk di sampingnya.
"Sepertinya ada hal penting?" tebak Echa ketika adiknya sudah berada di sampingnya.
"Iyan mau ke Bali."
Echa terkejut dengan apa yang dia dengar. Begitu juga Radit yang segera menoleh ketika tengah memindah-mindahkan Channel televisi.
"Mau liburan?" tanya Echa lagi. Kali ini Iyan menggeleng. Dia memberanikan diri menatap mata sang kakak.
"Iyan diajak Papah ke Bali. Iyan ingin bertemu dengan Kak Bee."
Echa menatap ke arah sang suami. Sorot matanya bertanya sesuatu kepada Radit.
"Mungkin, ini jawaban datangnya Ayah ke dalam mimpi Iyan tiga malam berturut-turut," paparnya. Echa dan Radit pun terdiam. "Ayah menginginkan Iyan untuk menemui Kak Bee. Mencoba menghibur Kak Bee."
Echa menghembuskan napas kasar. Dia pun menutup laptopnya dan menggenggam tangan sang adik.
"Pergilah! Jika, itu tujuan kamu. Kakak akan mendukung."
Iyan tersenyum bahagia ketika mendengar jawaban dari kakaknya itu. Dia takut, sang kakak akan melarangnya.
"Makasih, Kak." Iyan pun memeluk erat tubuh Echa.
"Cek rekening, nanti Abang transfer buat ongkos," ucap Radit.
"Gak usah, Bang. Gaji aku masih ada kok. Aku gak mau ngerepotin Abang terus." Echa tersenyum mendengar penolakan dari Iyan. Begitu juga dengan Radit. Dia memiliki tiga adik ipar yang memang tidak pernah memanfaatkan keadaan.
Sebelum berangkat, Iyan berziarah ke pusara ayahnya. Mengenakan pakaian serba hitam dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Ayah, Iyan akan pergi ke Bali. Iyan akan mencoba menghibur Kak Bee." Tangan Iyan mengusap lembut nisan sang ayah.
"Ayah jangan khawatir, ya. Iyan akan berangkat bersama papah. Keberangkatan Iyan pun atas ijin Kakak. Doakan Iyan ya, Yah. Semoga kehadiran Iyan mampu membuat kondisi Kak Bee semakin membaik."
.
Arya dan Iyan sudah di Bandara. Mereka berdua masih menunggu keberangkatan. Mata Iyan memicing ketika melihat seorang wanita yang tengah menyeret koper dengan perut yang terlihat sedikit membukit. Kefokusan Iyan buyar ketika Arya memanggilnya karena mereka sudah harus menuju pesawat.
Di dalam pesawat, pikiran Iyan masih tertuju pada sosok wanita yang dilihatnya tadi.
"Apa yang aku lihat biji jagung itu sekarang sudah tumbuh? Lalu, siapa yang menanamnya?"
...****************...
__ADS_1
Komen dong.