
Sebelum baca part ini, baca part sebelumnya ya. Udah beda isinya. Mohon maaf, ada kekeliruan. 🙏
Di malam yang sama, Aleesa dan Yansen memilih duduk di bawah pohon mangga. Rumah para sahabat Iyan yang tak kasat mata. Bagi mereka berdua udara di bawah pohon itu sangatlah sejuk.
"Sa," panggil Yansen ketika Aleesa tengah memandangi langit malam yang penuh dengan bintang.
"Apa?" Mata Aleesa masih bergeming pada langit. Tak menatap ke arah si pemanggil.
"Kita sudah tahu dari awal jikalau kita berbeda. Kenapa kita tetap masih saling bersama?"
Pertanyaan Yansen membuat Aleesa perlahan menatapnya. Sorot mata Aleesa terlihat sendu ketika mengatakan itu semua.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Suara Aleesa terdengar sangat pilu.
"Aku hanya merasa lucu saja." Yansen tersenyum, tapi senyumnya terlihat amat berbeda.
Helaan napas kasar keluar dari mulut Aleesa. Dia tiba-tiba menundukkan kepala teramat dalam. Seakan menahan sesak di dada.
"Terkadang aku juga bingung, kenapa aku harus merasa nyaman kepada sosok yang tak satu keyakinan," keluh Aleesa.
Yansen mengusap lembut rambut Aleesa. Mencoba memberikan ketenangan pada sosok yang dia akui dia merasa sangat nyaman berada di samping Aleesa. Sosok yang selalu bersamanya, mendengar segala keluh kesahnya. Juga menjadi partner bercanda.
"Apa kita akan bersama seperti hubungan Om Iyan dan Tante Beeya?" Pertanyaan itu membuat Aleesa tersenyum begitu kecil. Ultimatum sudah ayah dan ibunya keluarkan.
"Tergantung kita," sahutnya. Dia menatap lekat ke arah Yansen. "Apa kamu mau berganti keyakinan?"
Deg.
Tubuh Yansen menegang seketika. Merubah keyakinan, sepertinya hal yang mustahil untuknya. Dia dilahirkan dari keluarga Nasrani yang teramat patuh. Kakaknya pun sudah menjadi pelayan Tuhan di gereja.
Melihat Yansen yang hanya terdiam, Aleesa mengembangkan senyum yang amat memilukan.
"Aku gak akan memaksa kamu untuk masuk ke dalam keyakinanku. Aku juga tidak mau, kamu pindah keyakinan hanya untuk suatu hubungan yang belum tentu direstui Tuhan."
Suasana mendadak hening. Yansen dan Aleesa tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. LDR yang paling menyakitkan itu adalah perbedaan keyakinan. Sama halnya dengan Yansen juga Aleesa. Pria itu mengalungkan salib di lehernya, dan Aleesa menggenggam tasbih di tangannya. Satu buah kapal dengan dua nahkoda tidak akan pernah bisa berjalan lurus. Seperti itulah hubungan mereka, kecuali salah satu di antara mereka ada yang mau mengalah dengan mempertaruhkan keyakinan.
Om poci dan Tante Pocita akan selalu sedih jika melihat Aleesa dan Yansen berdua. Dua insan terlihat saling menyayangi, tapi di mata mereka berdua ada hal yang berbeda.
"Kenapa harus seperti itu?" keluh Ante Pocita.
"Takdir."
Jika, sudah berkata takdir itu sudah menjadi kata akhir yang tidak bisa disanggah lagi. Mulut Ante Pocita pun terbungkam seketika. Si kerdil dan si bedul yang sedang bermain kuda-kudaan menatap pilu ke arah Aleesa dan Yansen. Walaupun Aleesa adalah musuh bebuyutannya, tetap saja si kerdil tidak membenci Aleesa.
__ADS_1
"Kenapa pengen nangis begini?" lirih si kerdil. Matanya sudah berkaca-kaca.
Sorot lampu mobil membuat si kerdil menutup matanya. Dia silau dengan lampu yang menyorot ke arahnya.
"Siapa?" tanya Bedul. Mobil itu begitu asing untuk si bedul.
"Gak tahu."
Bukan hanya si kerdil yang merasa keheranan, om Poci dan Ante Pocita pun ikut memicingkan mata mereka.
"Siapa?" tanya ante Pacita kepada om Poci. Hantu bungkus putih berwajah hitam itupun menggelengkan kepala.
Si kerdil ber- oh ria ketika melihat siapa yang turun dari mobil. Dia kenal dengan pria yang baru saja turun. Namun, seketika matanya memicing ketika melihat orang yang ikut turun dari dalam mobil. Beda halnya dengan Ante Pocita yang melompat kegirangan ketika melihat ada orang baru yang begitu tampan.
"Siapa dia?" Anteu Pocita terus melompat-lompat dengan raut wajah gembira.
"Ganjen." Om Poci bersungut ria.
Kedatangan dua pria yang sama-sama tampan itu disambut hangat oleh dua bocah centil. Siapa lagi jika bukan Ghea dan Bala-bala.
"Kak Rio!" Ghea sudah menghampiri Rio dan memeluk tubuh pria itu. Rio tersenyum dan mengusap lembut rambut Ghea.
"Eh, ada Kak Restu juga." Restu pun ikut menyambut Ghea dan juga Bala-bala.
"Di halaman belakang."
Rio dan Restu pun menuju halaman belakang, Restu sekilas melihat ke arah dua anak remaja yang wajahnya sama. Dia tahu itu bukan Aleesa.
"Kak Rio," sapa Aleena. Langkah Rio pun terhenti. Dia tersenyum ke arah Aleena dan sepupunya itu berhambur memeluk tubuh Rio.
"Kenapa gak bilang mau pulang?" tanya Aleena.
"Emang Aleesa gak bilang?" Aleena menggeleng. Rio memang dekat dengan Aleena. Jadi, anak remaja itu tak segan memeluk tubuh Rio.
Seketika mata Rio memicing ke arah dua laki-laki yang ada di ruangan itu, yang satu dia memang kenal dan yang satunya seperti masih asing.
"Pacar baru kamu?" bisik Rio.
"Yang mana?" tanya Aleena bingung.
"Pake baju hitam," sahutnya lagi dengan nada yang masih rendah.
__ADS_1
"Dia Rangga," balas Aleena. Kedua alis Rio menukik dengan begitu tajam. Nama yang asing di telinga.
"Itu loh anak panti yang diangkat sama Uncle Aksa," terangnya kepada Rio yang nampak bingung.
"Oh." Jawaban yang teramat singkat.
"Muka kalian mirip loh. Jangan-jangan kalian jodoh," celetuk Restu.
"Apa sih?" sahut Aleena sambil menatap tajam ke arah Restu.
Restu menyunggingkan senyum kecil ketika melihat Kalfa menatapnya dengan begitu tajam. Namun, dia tidak takut sama sekali.
Dua pria itu menghampiri empat orang pria dewasa, dan empat wanita dewasa yang tengah berbincang. Terselip Gavin di sana yang tengah asyik dengan ponselnya.
"Loh, kapan datang?" tanya Radit yang terkejut karena keponakannya sudah ada di rumahnya.
"Siang tadi, Uncle."
"Lu udah kayak Upin Ipin," ledek Aska kepada Rio dan Restu. Mereka berdua hanya tergelak. Berbincang santai dengan keluarga dari pamannya Rio.
Mulut Restu rasanya pahit jika tak merokok. Dia ingin menghidupkan puntung rokok, tapi rasanya enggan dan malu. Para pria dewasa itu tidak merokok.
"Om, aku ke depan, ya. Mau ngerokok dulu." Begitulah Restu, anak yang selalu berbicara apa adanya. Itulah yang mereka suka dari Restu.
Restu menuju halaman depan. Dia menghidupkan puntung rokok dan berjalan ke arah samping. Matanya memicing ketika melihat ada dua insan manusia yang sedang duduk di bawah pohon.
"Pada mojok aja lu berdua." Suara Restu membuat Yansen maupun Aleesa menoleh. Decakan kesal keluar dari mulut Aleesa. Apalagi Restu sudah melangkahkan kaki menuju ke arah mereka.
"Ngapain sih lu? Ganggu aja." Aleesa sudah bersungut-sungut.
"Jagaian lu biar gak macam-macam. Masih di bawah umur," tegasnya.
"Dih siapa lu?" Aleesa sudah berkacak pinggang.
"Gua bodyguard-nya cucu-cucu kakek Addhitama. Bukan hanya Rio yang gua jaga. Lu dan Dua saudara lu gua jaga juga."
"Gua bukan anak kecil."
Yansen hanya tersenyum melihat Aleesa dan Restu beradu mulut di tempat yang gelap. Ada sebuah harap di mata Yansen kepada Restu.
"Kak, jagain Aleesa, ya."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ..