Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
179. Lift


__ADS_3

Acara resepsi ini sangat melelahkan untuk Beeya dan juga Iyan. Tamu undangan banyak sekali sehingga membuat mereka harus terus berdiri. Tidak ada istirahat sama sekali. kaki biar sudah lecet karena menggunakan hak tinggi. dia merasa sangat tegak ketika acara resepsi tersebut selesai. Beeya menundukkan bokongnya dengan begitu kasar nafasnya terhembus dengan begitu lega.


"Pegal," keluhnya.


Sang suami langsung menarik kaki Beeya dengan pelan. Meletakkannya di atas pangkuan Iyan. Tangan Iyan mulai memijat dengan begitu lembut, membuat dia tersenyum bahagia.


"Mau dipijat full body, nggak?" Senyum Beeya pun luntur seketika. Dia menatap tajam ke arah sang suami tercinta.


"Jangan sekarang, Ayang. Badan aku pegal-pegal seperti dipukuli oleh orang banyak." Wajah Beeya dibuat sememelas mungkin.


Iyan pun tertawa. Mana tega dia menghajar istrinya dikala istrinya ketika sang istri seperti ini. Tubuhnya pun sangat lelah seperti tak bertulang. Berdiri pun seperti tak menapak ke ke tanah. Ditambah matanya yang mengantuk karena semalaman tidak tidur. Berbincang dengan keluarganya yang tak terlihat.


"Mending kita tidur dan istirahat," ucap Beeya. Sang suami pun setuju dengan ucapan Beeya tersebut.


Echa sudah menghampiri adiknya ini. Dia menyuruh Iyan dan Beeya untuk beristirahay. Bagaimanapun mereka pasti lelah.


"Kalian ke kamar gih." Iyan dan Beeya pun mengangguk.


"Sekarang kalian sudah menjadi pasangan halal. Bebas tuh mau ngapain aja," goda Radit.


"MAU TIDUR!" jawab mereka dengan begitu kompak. Radit pun tertawa.


Iyan pun membantu Beeya berjalan. Tangannnya menggandeng tangan Beeya, dan tangan sebelahnya menjinjing heels yang tadi Beeya gunakan. Echa dan Radit hanya tersenyum bahagia melihatnya. Akhirnya, Iyan menemukan kebahagiaannya juga.


Ketika dua orang itu menghilang dari pandangan, Echa dan Radit saling tatap dengan sorot mata yang berbeda. Ada sebuah kesedihan yang tengah mereka rasakan.


"Aleena," ucap Echa. Radit pun mengangguk.


"Aku tidak setuju dengan ucapan Om Satria," terang Radit.


"Aku juga. Mereka masih belum cukup umur. Gak ada pacar-pacaran dulu. Lebih baik fokus pada sekolah mereka." Echa berucap dengan begitu tegas. Radit pun menginginkan hal seperti itu.


Mereka juga sadar, mereka berdua menjalani hubungan semenjak SMA. Namun, hubungan mereka adalah hubungan yang sehat. Beda halnya dnegan hubungan anak zaman sekarang. Mereka tidak ingin ketiga anaknya salah pergaulan.


"Lebih baik kita bicara kepada mereka semua," ujar Radit. Echa pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Fokus mengejar cita-cita. Bukan cinta," tukas Echa.


Namun, kali ini bukanlah waktu yang tepat untuk mereka menasihati ketiga anaknya. Radit dan Echa sangat tahu itu. Walaupun, dia juga merasa kasihan kepada Aleena. Sudah pasti hati anak pertama mereka itu sakit.


.


Di kamar hotel yang di tempati oleh si triplets ...


Aleena masih terdiam membisu dengan air mata yang terus mengalir. Sedari tadi dia menangis. Hatinya sangat teriris.


"Aku emang lemah."


Suara pintu terbuka membuat Aleena buru-buru menyeka air matanya. Dia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


"Kakak Na," panggil Aleesa yang masuk terlebih dahulu.


"Aku di kamar mandi." Aleesa pun dapat bernapas lega. Dia mendengar sayup-sayup suara sang adik yang tengah berbincang dengan seseorang. Siapa lagi jika bukan Kalfa. Aleesa hanya menghela napas kasar.


Ketika Aleeya masuk ke kamar, Aleena keluar dari kamar mandi. Aleeya tida bereaksi apa-apa kepada Aleena. Begitu juga Aleena. Aleeya malah langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Aleesa menatap ke arah sang kakak yang terlihat sembab. Bagian bawah matanya pun terlihat bengkak.


"Are you okay?" Aleesa menatap tajam sang kakak.

__ADS_1


"Aku harus okay walaupun pada nyatanya aku gak okay." Aleesa berhambur memeluk tubuh Aleena. Dia sangat merasakan kesedihan yang sang kakak rasakan.


"Sekali-kali jadi orang egois itu gak apa-apa," ujar Aleesa. Aleena menggeleng dengan tangan yang membalas pelukan Aleesa dengan begitu erat.


"Tidak."


"Capek, Kak. Mengalah terus." Aleesa sudah mengurai pelukannya. Menatap wajah sang kakak dengan begitu lekat.


"Kakak Na, berhak bahagia." Begitulah ucap Aleesa.


"Kebahagiaan aku adalah melihat kalian berdua bahagia. Itu sudah lebih dari cukup."


Air mata Aleesa sudah tak terbendung lagi. Dia terharu dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak Ucapan yang begitu tulus dan juga begitu lembut. Andaikan Aleeya mendengar sudah pasti dia akan menangis dan merasa bersalah karena sudah jahat kepada Aleena.


.


Rio bersungut-sungut ketika harus mengahmaoiri Rio di lantai teratas hotel tersebut. Pemuda itu tengah menatap langit malam dengan menghembuskan asap rokok ke atas. Asap itu terbang ke udara.


"Ngapain di sini? Kenapa gak ke kamar gua?" Restu masih terdiam. Dia menghisap rokok dalam-dalam.


Rio melihat ke arah bawah, di mana sudah banyak sekali puntung rokok yang berserakan.


"Lu mau sampai kapan kayak begini terus?" Rio pun ikut duduk di samping Restu. "Bakar duit dan bakar paru-paru lu doang," lanjutnya lagi.


Restu tidak menjawab. Dia malah memandang jauh ke depan. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya.


"Keberangkatan gua akan dipercepat." Rio terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Restu. Dia menatap Restu dengan penuh tanya.


"Besok malam gua akan berangkat." Rio terdiam. Dia hanya menatap wajah Restu yang teramat berbeda. Raut wajahnya menunjukkan sebuah ketidakrelaan.


"Lu berat meninggalkan Papih? Mamiih? Gua? Atau--"


Restu menoleh kepada Rio. Dia tahu siapa yang akan Rio sebut di akhir pertanyaannya. Rio tahu apa yang tengah dipikirkan sahabatnya itu. Sedari awal Rio tahu pasti akan ada benih cinta di hati Restu kepada Aleeya. Dari pandangan Restu saja sudah nampak berbeda.


"Jaga diri lu baik-baik," ucap Restu kepada Rio. "Jangan punya musuh karena gak akan ada yang belain lu nantinya." Rio pun tertawa.


"Jangan ngerokok terus. Kasihan paru-paru lu. Kalau lu sakit nggak bakal ada yang jagain lo. Gua enggak ada di samping lu." berbalik resto yang tersenyum sekarang. Mereka berdua sudah seperti adik dan kakak. Saling melindungi dan saling menjaga. Itulah yang membuat Nesha dan Rindra sangat menyayangi mereka berdua. Terlebih Rindra, dia akan memasang badan jikalau ada sesuatu yang menimpa Restu.


Mereka berdua menikmati angin malam di lapangan helipad memandangi bintang malam yang begitu banyak dan juga indah. Bergelut dengan perasaan mereka masing-masing. Bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


Pukul sebelas malam Rio dan Restu turun ke lantai di mana kamar Rio berada. Sedangkan Restu menuju lantai bawah karena dia harus pulang. Dia harus berkemas untuk persiapan keberangkatannya besok malam.


Di lantai tempat kamar Rio berada, pintu lift pun terbuka. Tubuh Rio mematung ketika melihat Aleesa ada di depan lift. Sedangkan mata Aleesa tertuju pada sosok yang berada di dalam lift seorang diri.


"Kamu mau ke mana, Sa? Malam-malam begini," tanya Rio heran.


"Mau ngambil food di bawah, Kak. Tadi aku lapar jadi pesan makanan via aplikasi," jawabnya. matanya masih tertuju pada Restu yang menahan pintu lift agar tetap terbuka.


"Ya udah, turun bareng Restu. Setelah itu, minta anterin lagi sama Restu. Jangan sendirian ke atasnya," titah Rio.


Mata Restu melebar. Dia mempelototi sahabatnya itu. Aleesa merasa enggan dan canggung. Semenjak kejadian diresepsi tadi, jarak mereka seakan menjauh. Tidak seperti di lapangan helipad tadi.


"Jagain sepupu gue. Anterin lagi ke atas." Sebuah perintah yang tidak bisa Restu lawan.


Aleesa dan Resty berada dalam satu lift Yang sama. Mereka hanya saling terdiam tanpa membuka suara. Tiba-tiba lift berhenti di tengah jalan membuat Aleesa semakin terdiam sama halnya dengan Restu.


Mereka berdua saling tetap karena tidak merasakan pergerakan dari lift tersebut. Ketika melihat sedang berada di lantai berapa mereka, sontak mata mereka melebar. Refleks Restu menggenggam tangan Aleesa. Tangan remaja itu sudah sangat dingin. Dia sudah ketakutan. Dia sering menonton film-film action tentang lift seperti ini. Di film itu lift akan terjatuh hingga lantai bawah. Dia belum mau mati.


"Tenang, jangan panik," ucap Restu. Aleesa pun menggangguk. Dia membalas genggaman tangan Restu dengan begitu erat. Restu menekan tombol emergency dan berbicara dengan petugas. Cukup lama mereka berada di dalam. Hanyaa berdua saja. Restu masih menggenggam tangan Aleesa. lama-kelamaan Aleesa luruh ke lantai lift. Dia ketakutan. Restu pun memeluk tubuh Aleesa. Dia mencoba menenangkan remaja yang baru kali merasakan ketakutan seperti ini.

__ADS_1


"Kita nggak akam kenapa-kenapa. Jangan takut," ucap Restu. Lagi-lagi dia menenangkan Aleesa.


"Ini udah berapa lama Kak? Takut. Aleesa malah melingkarkan tangan di pinggang Restu. Sontak pria itu terdiam membeku. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya. perlahan dia pun membalas pelukan erat itu.


Selama 30 menit mereka berpelukan di dalam lift,


Alyssa belum melepaskan lingkaran tangannya di perut Restu. Dia malah semakin membenamkan wajahnya di dada bidang pria tersebut. Dia merasa terlindungi berada di dalam rekapan Restu.


"Aku belum mati kan, Kak." Restu tersenyum mendengar ucapan dari Aleesa. Dia sudah teracuni


oleh film-film Hollywood


"Kamu mau mati terlebih dahulu?" Aleesa pun menggeleng.


"Aku masih ingin tetap hidup," ucapnya. Restu pun mengurai pelukannya. Dia tahu remaja itu sudah menangis untuk kedua kalinya. Restu baru melihat Aleesa menitikan air mata.


"Kenapa nangis lagi?"


"Takut." Raut itu tidak bisa berbohong. Restu kembali menarik tangan Aleesa dan memeluknya. Hanya sebuah kenyamanan yang Restu rasakan. Sama halnya dengan Aleesa. dia merasa dilindungi oleh sosok Restu ini


Tak lama kemudian terdengar suara petugas dari tombol emergency. Mereka mengatakan sudah memperbaiki dan lift akan kembali normal seperti sedia kala. Aleeaa tidak mau melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Restu. Tak berselang lama lift pun berjalan normal Aleesa dapat bernafas lega. Perlahan dia mengendurkan pelukannya.


Mereka masih terdiam. Tidak saling berbicara hingga pintu lift terbuka. Aleesa mendahului Restu untuk mengambil food yang dia pesan.


"Sudah?" Alisa terkejut mendengar ucapan dari Restu. Dia mengusap dadanya.


"Ngagetin aja," sungutnya. Rastu tersenyum dengan begitu tipis.


"Gua antar lagi.


"Enggak usah," jawab Aleesa.


"Beneran?" Aleesa pun mengangguk.


"Kalau lift-nya mati lagi?"


"Gua mau lewat tangga darurat."


Restu pun menarik tangan Aleesa dan hendak menuju tangga darurat. Dia menatap tajam ke arah Aleesa.


"Jangan ngeyel! Entar gua gak yang diomelin Rio."


Resto menarik tangan Aleesa menuju lift. Dia menekan tombol di mana kamar Rio dan Aleesa berada.


Lagi-lagi mereka hanya terdiam. Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua.


"Keberangkatan gua dimajukan. Besok malam gua pergi." Seketika Aleesa menoleh ke arah Restu. Menatap Reatu dengan tatapan bingung


"Jaga diri lu baik-baik. Jangan nakal . Jangan kecewain orang tua lu." Nasihat itu lagi yang keluar dari mulut Restu.


"Kenapa? Kenapa dipercepat?"


"Gue tidak bisa menunda kesempatan baik itu."


"Ya udah jaga diri Kakak juga." Ucapan yang begitu lemah yang keluar dari mulut Aleesa. Pandangannya pun tertuju pada pintu lift, tidak mau melihat ke arah Restu


Restu meraih pundak Aleesa dan dia mengarahkan tubuh Aleesa ke hadapannya. Nektra Mereka pun bertemu. Mata mereka sudah terkunci perlahan Restu mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Aleesa. Menarik dagu Aleesa dengan begitu lembut. Hembusan nafas itu bisa Aleesa rasakan. wajah Restu sudah semakin dekat. Perlahan mata Aleesa terpejam ketika beberapa centi lagi harusnya dua bibir itu bertemu. Namun, Restu mengundurkan kepalanya kembal.i Dia tersadar jika perbuatannya itu salah


"Maaf"

__ADS_1


Aleesa tercengang. Baru kali ini dia mendapati laki-laki berandal tapi tidak berani menyentuh wanita. Padahal hanya sebuah kecupan di bibir saja.


"Gue emang nakal, tapi gua nggak pernah ngotorin cewek."


__ADS_2