Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
166. Ibu (Datang)


__ADS_3

Iyan tidur di kamar hotel bersama dengan Rangga. Jam dua belas malam matanya masih terjaga. Sedangkan Rangga sudah terlelap dengan begitu damainya. Pemuda itu seperti sudah biasa hidup disiplin.


Iyan duduk di balkon hotel. Memandangi langit malam yang begitu cerah. Calon istrinya sudah tertidur dari satu jam yang lalu. Dia teringat akan perkataan Beeya tadi. Wanita mungil itu bertemu dengan ibu. Wanita yang dia rindukan. Semenjak perpisahan mereka ketika di Bali, ibu tidak pernah mengunjunginya lagi.


"Bu, Iyan rindu."


Mata Iyan terpejam. Dia merasakan ada semilir angin yang menerpa tubuhnya. Begitu dingin dan menusuk tulang.


"Ibu juga rindu kamu, Yan." Segera Iyan membuka mata dan senyumnya akhirnya mengembang dengan Mata yang nanar.


"Kenapa ibu baru datang?" begitu lirih ucapan Iyan ini.


"Ibu selalu ada menjaga kamu, Nak. Hanya saja Ibu tidak pernah menampakkan diri." Wanita berbaju putih itu menjawab apa adanya. Dia mengusap lembut rambut sang putra. "Ibu juga tahu apa saja yang terjadi dengan kamu. Jangan anggap Ibu pergi. Ibu selalu ada menemani kami, Yan."


Dada Iyan begitu sesak mendengar penuturan dari makhluk astral yang dia panggil ibu. Makhluk itu begitu baik kepadanya. Menganggapnya seperti anaknya sendiri. Kenyamanan yang makhluk itu berikan membuat Iyan seakan memiliki ibu yang sesungguhnya.


"Jangan menangis, Yan. Ibu paling benci melihat air mata kamu." Iyan mengangguk. Tangannya masih memeluk tubuh wanita itu.


"Iyan akan menikah, Bu. Iyan sudah menemukan jodoh Iyan." Begitu tulus ucapan dari pemuda itu. Dia seakan tengah memberitahu ibunya. Senyum pun terukir di wajah tampannya.


Beda halnya ketika Iyan bertemu dengan mendiang ibu kandungnya di dalam mimpi. Dia seperti canggung dan tidak bisa seterbuka ini kepada ibunya sendiri. Dari sorot mata Iyan pun terlihat betapa pemuda ini sangat tulus menyayangi wanita yang dia panggil ibu.


"Ibu sudah tahu dan Ibu ikut bahagia," sahutnya dengan senyum penuh ketulusan. Tangannya tak henti mengusap wajah tampan Iyan. "Ibu juga sudah datangi calon istri kamu. Dia baik juga cantik. Ibu merestui hubungan kalian berdua. Ibu yakin kamu dan istri kamu akan hidup bahagia."


Sebuah doa yang Iyan aminkan di dalam hati. Biasanya doa seorang ibu akan dijabah oleh Tuhan. Semoga juga ucapan Ibu benar. Iyan bukanlah Rion Juanda. Ketika dia memutuskan untuk menikah, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk setia pada Beeya. Menikah sekali seumur hidup. Diantar oleh kata sah dan berakhir di Jannah.


Om Uwo, Jojo dan Dev tersenyum bahagia melihat keharuan ibu dan Iyan. Terlebih Jojo yang merasa sangat bahagia hingga menyeka ujung matanya. Semenjak kehadiran Ibu di hidup Iyan, sahabatnya itu seperti menemukan tempat berlindung dan mengadu.


"Kalian ke mana saja?" Iyan seperti anak kecil sekarang. Dia menangis ketika melihat tiga laki-laki masih menatapnya.


"Kami selalu ada, Yan." Om Uwo memeluk tubuh pemuda itu. Dia menepuk pelan punggung Iyan. "Akhirnya anak kecil yang tidak takut hantu menikah."


Perkataan om Uwo membuat hati Iyan mencelos. Dia malah menitikan air mata. Makhluk bertubuh besar itu sudah dia anggap seperti pamannya sendiri. Pria itupun selalu menjaga Iyan dari orang-orang jahat.

__ADS_1


"Anak laki-laki gak boleh cengeng." Om Uwo pun merasakan bukan persahabatan yang terjalin di antara mereka. Melainkan sudah seperti keluarga sungguhan.


Kini, pemuda itu memeluk Jojo. Air matanya tak bisa terbendung. Dia benar-benar sedih.


"Aku akan selalu jadi sahabat kamu, Yan." Jojo pun meras sedih. Mereka harus berpisah ketika Iyan sudah memiliki istri.


"Kalian ikut ke rumah aku." Semua makhluk yang ada di sana pun menggeleng. Sudah datang Ante Pocita dan juga Om Poci juga si kerdil. Mereka pun ikut menggeleng.


"Rumah kami di rumah kamu yang lama, Yan. Kami akan tetap di sana," ujar om Poci.


"Sesekali pasti kami main kok ke rumah kamu," tambah Anteu Pocita.


Ada raut kecewa yang terlihat jelas. Namun, mereka berjanji tidak akan meninggalkan Iyan maupun keluarga Iyan yang sudah sangat baik kepada mereka.


"Makasih semuanya sudah mau berteman dengan Iyan." Pemuda itu tersenyum perih membuat para hantu itu memeluk tubuh Iyan. Umur memang sudah dewasa, tapi rapuhnya masih sama seperti dulu kala.


"Temani Iyan malam ini," pinta Iyan. Para sahabat Iyan pun mengangguk. Tanpa Iyan minta pun mereka akan menemani Iyan hingga pelaminan. Itulah janji mereka semua.


Di malam ini Iyan sama sekali tidak terpejam. Iyan asyik berbincang dengan semua sahabatnya. Tertawa bersama dan juga banyak cerita lucu yang mereka keluarkan. Terkadang, manusia itu lebih jahat dibandingkan para makhluk yang tak terlihat. Itulah yang membuat Iyan menutup diri untuk berteman dengan manusia.


"Ayang, temani aku make up," pinta Beeya dengan reengekan manja.


"Jam berapa MUA-nya datang?" tanya Iyan.


"Jam lima."


"Ya udah, aku ke tempat kamu, ya."


Ketika sambungan telepon terputus, para sahabat Iyan sudah menyunggingkan senyum. Mereka nampak ikut bahagia melihat Iyan seceria ini.


"Kami pergi dulu, ya," ujar Om Pocita.


"Kami mau ganti kostum biar gak kalah sama pengantin," kelakar Jojo. Iyan pun tertawa lepas.

__ADS_1


"Sampai ketemu di depan penghulu, Yan," ucap mereka semua dengan kompak.


.


Iyan meninggalkan kamar hotelnya dan menuju kamar hotel Beeya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Rio berjalan dengan tergesa.


"Rio!" panggil Iyan.


Pemuda itupun menghentikan langkahnya. Dia menoleh dan ternyata Iyan yang memanggilnya. Calon pengantin itu menghampiri Rio.


"Mau ke mana?"


"Ada perlu sebentar, Kak," jawab Rio. Wajah pemuda itu nampak panik. "Mungkin pas akad nanti, Iyo gak bisa menyaksikan," ujarnya.


"Gak apa-apa, yang penting pas resepsi kamu ada." Rio pun mengangguk.


"Iyo usahakan, Kak."


"Perginya sama Restu?"


"Enggak, Kak. Papih jemput di bawah." Iyan pun mengangguk. Jika, ayahnya sudah ada memang ada yang genting.


"Ya udah, hati-hati." Rio pun mengangguk.


Setelah Rio pergi, Iyan melanjutkan langkahnya menuju kamar Beeya. Bel dia tekan dan dia disambut wajah bantal dari sang calon istri.


"Morning, Chagiya." Beeya segera memeluk tubuh Iyan. Pemuda itu tersenyum dan menciu ujung kepala sang calon istri.


"Morning kiss-nya mana?" Iyan membuat Beeya mendongakkan kepala.


"Jangan macam-macam Rian Dwiputra Juanda!" Suara sang kakak terdengar. Dia sudah berkacak pinggang dan menatap tajam Iyan. Beeya malah mengulum senyum melihat wajah sang calon suami yang nampak terkejut.


"Kenapa gak bilang kalau ada Kak Ros."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2