Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
91. Ghea


__ADS_3

"Tante! Om!"


Dua insan manusia itu seperti terciduk oleh seorang anak perempuan kecil yang terbangun dengan telannjang kaki. Dia menggesek matanya yang terlihat masih mengantuk.


Iyan menatap ke arah Beeya yang juga menatapnya. "Ghea tadi udah tidur. Sumpah!" Beeya mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.


Ting!


Kakak Kedua.


"Ghea kalau belum pulas tidur jangan ditinggalin. Nanti dia nyariin."


Gubrak!


Iyan memperlihatkan isi pesannya ke arah Beeya dan mata Beeya pun melebar. Dia segera berlari menghampiri Ghea dan membawanya masuk ke dalam rumah lagi.


"Kenapa keluar gak pakai sendal? Kakinya kotor, Sayang."


Iyan tersenyum melihat sikap Beeya yang sangat lembut kepada keponakannya. Untung di sana ada keran air. Jadi, Beeya membersihkan kaki Ghea di sana. Iyan hanya melihatnya dari jarak jauh.


"Pacar!"


Beeya pun memanggil Iyan. Iyan sedikit terkejut apalagi tangan Beeya sudah melambai-lambai. Dahi Iyan pun mengkerut dan segera menghampiri Beeya dan juga Ghea.


"Tolong bawa Ghea masuk ke kamar." Cengiran khasnya Beeya tunjukkan. Iyan malah tertawa dan menggendong tubuh sang keponakan. Ghea malah meletakkan dagunya di bahu sang paman.


"Jangan tinggalin Adek kalau Adek beum bobo benar." Ternyata ucapan Ghea sama seperti ucapan dari kakaknya.


Iyan pun mengusap lembut rambut belakang Ghea. Dia itu sebenarnya seorang penyayang. Namun, sulit untuk dijelaskan.


Iyan meletakkan tubuh sang keponakan di atas tempat tidur Beeya. Dia mencium kening Ghea sebelum dia pergi. Namun, Ghea menarik tangan Iyan agar menemaninya.


"Kan ada Tante centil." Ghea pun menggeleng.


"Om dan Tante temenin aku," ujarnya. Iyan menoleh ke arah Beeya dan hanya seulas senyum yang Beeya tunjukkan.


Melihat puppy eyes yang Ghea tunjukkan membuat Beeya dan Iyan tidak tega. Pada akhirnya mereka pun mengikuti kemauan Ghea.


Beeya mengusap lembut rambut Ghea. Sedangkan Ghea memeluk tubuh sang paman. Itu sudah kebiasaan Ghea yang akan memeluk tubuh orang yang ada di sampingnya. Orang terdekat dan bukan sembarang orang.


Tanpa mereka berdua sadari, Iyan terlelap seraya memeluk tubuh Ghea. Beeya pun memeluk tubuh Ghea dan sudah terpejam. Arya melihat pintu kamar sang putri terbuka. Ketika dia melongokkan kepalanya ke dalam, lengkungan senyum terukir di wajah Arya. Dia sengaja mengeluarkan ponselnya. Dia memotret Iyan, Ghea dan juga Beeya. Dia kirim kepada Echa dan juga Riana.


"Keluarga bahagia."


Arya menutup pintu kamar dan hembusan napas berat keluar dari mulutnya.


"Apa gua masih bisa melihat cucu gua hadir ke dunia ini?" batinnya.

__ADS_1


"Lu pasti bisa melihatnya. Jaga mereka."


Suara yang Arya kenali. Suara yang tengah Arya rindukan. Dia mencari asal suara tersebut. Namun, tidak ada siapa-siapa.


"Harusnya kita menyaksikan cucu-cucu kita," lirihnya.


Waktu tidak akan pernah bisa menghapus persahabatan mereka. Walaupun Rion sudah tidak ada, namanya tetap melekat di hati Arya sampai kapanpun.


.


Di meja makan Ghea sudah menikmati sarapannya. Dia menyantap makanan kesukaannya dengan sangat lahap.


"Adek 'kan gak boleh banyak makan mie," ujar sang paman.


"Gak apa-apa, Yan. Sekali-kali," bela Arina.


"Tuh dengerin," ujar Ghea.


Beeya menyerahkan susu cokelat dingin untuk Iyan minum. Dia juga memberikan susu yang sama untuk keponakan dari Iyan.


"Tante, Adek pengen jalan-jalan."


Beeya dengan cepat menganggukkan kepala. "Mau ke mana?"


"Pantai. Main air."


"Jangan ke pantai, ya. Kemarin Tante dan Om sudah ke sana."


Raut wajah Ghea berubah masam dan ditekuk hingga lipatan terkecil. Beeya menatap ke arah Iyan lagi. Menyenggol tangan sang pacar yang masih terdiam.


Iyan pun menghela napas kasar. Dia menatap ke arah Ghea yang sudah menunduk dalam.


"Ya udah, kita ke pantai."


Sorakan gembira pun keluar dari mulut Ghea. Dia segera memeluk tubuh Iyan dan menciumi pipi putih sang paman.


"Jangan cium-cium pipi pacar Tante." Beeya sebagai menjauhkan tubuh Ghea dan tangannya menghapus bekas ciuman Beeya di pipi Iyan.


"Tante pelit!"


Semua orang pun tertawa. Apalagi Beeya sudah bergelayut manja membuat Ghea semakin menarik tangan Beeya dengan cukup kencang.


"Itu Om Adek," rengeknya.


Semua orang pun tertawa. Beeya itu sangat jahil. Dia menunggu Ghea menangis dulu barulah dia melepaskan Iyan.


"Bangor banget sih," omel Arya kepada putrinya.

__ADS_1


"Kata itu hanya boleh dikatakan oleh Ayah," sahut Beeya. Mendengar kata Bangor mengingatkan dia kepada mendiang ayah dari Iyan.


Meja makan pun mendadak hening. Ghea pun semakin erat memeluk tubuh Iyan.


"Kenapa Engkong pergi gak nunggu Adek dan Mas besar? Kenapa Engkong pergi sangat cepat?"


Iyan memejamkan matanya sejenak. Ada kerinduan yang mendalam yang Iyan rasakan. Bukan hanya Iyan, semua orang rasakan.


"Ayah, Ibu sudah pergi. Apakah Ayah tidak ingin menemui Iyan? Walaupun hanya dalam mimpi. Iyan ingin bercerita banyak kepada Ayah."


Berkali-kali Iyan menghembuskan napas kasar. Pelukan Beeya membuatnya membuka mata. Dia melihat ke arah sang kekasih yang terlihat sendu.


"Aku gak apa-apa."


Iyan tidak ingin tenggelam dalam kesedihan. Sampai kapanpun ayahnya tidak akan pernah kembali lagi. Dia harus ikhlas.


.


Mereka bertiga berangkat ke sebuah pantai rekomendasi Beeya. Pantai yang tidak terlalu ramai pengunjung dan sangat bersih. Biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Namun, itu tidak menjadi masalah.


Membawa anak Sultan itu amatlah berbeda. Ghea meminta berhenti di sebuah minimarket. Iyan dan Beeya hanya mengikutinya saja. Anak itu memilih apa yang dia inginkan tanpa melihat harga. Setelah sampai kasir hampir tiga ratus ribu hanya untuk cemilan dan juga tisu basah juga tisu kering. Tak lupa sunscreen dibelinya.


Untung sikap pelit Rion tidak menurun kepada Iyan. Dia malah tidak mempermasalahkan perihal jajanan Ghea. Dia cukup mengeluarkan kartu debit dan menggeseknya.


Tibanya di pantai anak itu amatlah bahagia. Beeya menyuruh Ghea untuk memakai topi. Namun, anak itu terus berlari. Iyan hanya tertawa. Dia membayangkan jika dia memiliki anak pasti akan seperti ini.


Melihat keseruan Beeya dan juga Ghea membuat Iyan menghampiri dua perempuan itu. Naasnya, Iyan menjadi korban dari kejahilan mereka berdua.


"Om tiduran."


Ghea sudah menarik tangan Iyan dan menyuruhnya untuk berbaring di atas pasir. Ternyata dua perempuan itu akan mengubur Iyan di dalam pasir. Ingin rasanya dia menolak, tetapi tak tega. Apalagi melihat keceriaan dua perempuan di depannya ini membuatnya ikut bahagia.


Tawa renyah keluar dari bibir Beeya dan Ghea. Mereka amatlah bahagia. Iyan hanya mengikutinya saja. Setelah mereka puas mengerjai Iyan. Mereka menyuruh Iyan untuk berenang di pantai. Namun, Iyan tidak mau. Dia memilih untuk membersihkan tubuh di toilet umum.


"Aku bersihin tubuh dulu, ya. Nanti gatal." Beeya mengangguk. Dia menepuk pipinya agar Iyan mencium pipi merah Beeya karena sengatan matahari.


Iyan tersenyum karena permintaan Beeya itu. Dia mengecup pipi Beeya juga Ghea bergantian. Beeya sengaja melakukan itu karena banyak wanita yang menatap genit ke arah sang pacar. Jika, sudah begini nyali mereka akan ciut.


"Dadah Papah."


Iyan terkejut dengan perkataan Ghea. Dia yakin keponakannya itu disuruh oleh sang kekasih. Langkah Iyan terus menuju ke toilet. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat dua perempuan berwajah sama yang dia kenali.


"Triplets."


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2