
"Ah ... ahh ... emm ... emm ... aw!"
Beeya sungguh tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia hanya bisa menelan salivanya tanpa mengedipkan mata. Suara yang begitu liar mampu membuat Beeya menggigit bibir bawahnya.
Pemuda yang terpejam itupun merasa terganggu dengan suara aneh. Dia membuka mata dan melihat sang calon tunangan tengah duduk manis menatap laptop. Iyan mengerutkan dahinya dan dia teringat sesuatu. Sontak dia melompat dari tempat tidur.
Mata Beeya masih terpana ketika jamur yang bentuknya besar akan dimasukkan ke dalam lubang basah nan kecil. Sudah tegang-tegangnya laptop tiba-tiba tertutup. Beeya terperanjat dan dia menoleh ke samping. Iyan menahan sakit karena kakinya keseleo ketika turun dari tempat tidur.
"Kamu nonton apa?" Iyan menelisik ke arah Beeya. Terlihat wajahnya meringis kecil.
"Kamu sendiri nyimpen video apa?" Beeya tidak mau kalah. Dia sudah berkacak pinggang. Menatap Iyan nyalang.
"Itu boleh dikirimin anak-anak." Iyan berucap jujur. Dia malah duduk di lantai sambil memijat kakinya yang terasa sakit.
"Udah kamu tonton?" desak Beeya.
"Udah, tapi cuma sembilan video doang." Iya. menjawab jujur masih memijat kakinya.
"Astaghfirullah, Ayang!" Suara Beeya menggema. "Itu totalnya sepuluh video, berarti udah hampir kamu tonton semua." Beeya benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan tunangannya.
"Ya, namanya juga tutorial. Pasti banyak macamnya." Beeya gemas dan tangannya malah menjewer kuping Iyan dengan cukup kencang hingga pemuda itupun mengaduh.
__ADS_1
"Ampun, Chagiya. Sakit!"
"Biarin! Biar taubat." Definisi sudah jatuh tertimpa tangga yang sesungguhnya.
.
Aksara datang dengan membawa Rangga ke rumah sang kakak. Rangga disambut hangat oleh Radit. Dia tidak pernah melupakan jasa Rangga dalam menyelamatkan Aleena.
"Gimana sekolahnya?" Radit sangat anstusias jika bertemu dengan remaja ini.
"Lancar, Om. Ini minta ijin satu Minggu ke pihak sekolah untuk ikut andil di acara pernikahan Kak Iyan." Rangga berkata dengan begitu tegas.
"Baba, Kakak Na pinjam-"
"Pinjam apa?" tanya Raditya.
"Buku tentang psikologi." Aleena memalingkan wajahnya begitu juga dengan Rangga.
"Cari di ruang kerja Baba." Aleena pun mengangguk.
"Perbaiki psikologi kamu dulu, Na." Sang paman berkata dan mampu membuat langkah Aleena terhenti. Dia tahu maksud sang paman apa. Ya, Rangga sudah menjadi anak angkat dari Aksara. Menjadi kakak untuk Gavin dan Ghea.
__ADS_1
Aleesa, dia tengah duduk di bawah pohon mangga seorang diri. Perasaannya sudah sangat tidak enak. Orang berjubah putih selalu datang kepadanya. Hanya hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Sayup terdengar adiknya tengah berteleponan dengan seseorang. Dia juga mendengar ada kata mesra yang adiknya ucapkan. Aleesa pun segera bangkit dan menghampiri Aleeya.
Seketika wajah Aleeya menegang melihat sang kakak memergokinya. Aleesa menengadahkan tangan bertanda dia meminta ponsel milik Aleeya.
"Tapi-" Aleesa menatap tajam ke arah Aleeya hingga remaja itupun takut. Aleesa berdecih ketika melihat nama yang Aleeya sematkan pada nomor ponsel yah menghubungi adiknya itu.
"Lu punya nyali berapa? Kagak usah Maruk jadi orang."
.
"Ayang, perasaan punyanya cowok itu 'kan kecil terus peyot, tapi kenapa bisa tegang dan keras begitu?"
"Uhuk!" Iyan tersedak air yang dia tengguk.
"Benda sebesar itu ... emang bisa ya masuk ke lubang belahan kecil yang ada kacangnya itu?"
Iyan menjadi sulit bernapas mendengar ucapan dari Beeya. Kini dia menatap Beeya dengan intens. Wajah polos Beeya masih membutuhkan jawaban.
"Kamu mau tahu?" tanya Iyan. Beeya mengangguk cepat. "Ayo kita coba."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ....