Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
53. Mahar


__ADS_3

"Kami datang ke sini untuk meminta kamu menjadi suami Deta, adik dari Deki."


"Hah?"


Iyan benar-benar terkejut mendengar ucapan dari ayah Deki. Wajahnya nampak syok sekali. Dia juga menatap Deki dengan tatapan tajam.


Sedangkan keempat kakak Iyan sudah mengulum senyum. Sebelumnya, maksud dan tujuan kedua orang tua Deki datang ke rumah Iyan sudah dijelaskan. Namun, keempat kakak Iyan tidak menjawab iya atau tidak. Dia menyuruh Deki menghubungi Iyan. Biar Iyan yang menjawabnya sendiri.


"Apa-apaan ini, Om?"


Iyan sudah membuka suara. Dia menatap tak mengerti kepada ayah dari sahabatnya itu.


"Deta ingin meminta pertanggung jawaban kepada kamu," desak ibunda Deki.


"Pertanggungjawaban apa?" tanya Iyan heran. Dahinya sudah mengernyit karena dia tidak pernah melakukan apapun kepada Deta.


"K-kak Iyan udah buat aku jatuh cinta sama Kakak," jawab Deta. Mata Iyan melebar mendengar jawaban dari adik temannya ini.


"Aseeek!" balas si triplets.


Iyan masih terdiam. Dia menatap nyalang ke arah ketiga keponakannya dan meminta bantuan kepada keempat kakaknya. Namun, mereka seolah acuh dan sengaja ingin membuat Iyan sport jantung.


"Kamu tidak perlu menyiapkan mahar dan segala macam. Semuanya sudah Om tanggung," papar ayah Deki.


"Hah?" Lagi-lagi Iyan terkejut dengan apa yang dia dengar. Dia menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Kamu cukup duduk di depan penghulu dan mengucapkan ijab kabul. Juga, duduk di pelaminan menemani Deta."


Iyan benar-benar tidak berkedip mendengat penuturan kedua orang tua Deki. Sedangkan Deki sudah menunduk dalam. Sesungguhnya dia malu.


"Ini jadinya, Bapak dan Ibu mau membeli adik saya?" Echa sudah membuka suara.


Kedua orang tua Deki mengangguk. Echa pun tertawa. Kini, dia menatap ke arah Deta. "Apa yang kamu suka dari Iyan?"


Pertanyaan Echa langsung membuat Deta menunduk dalam. Dia bingung harus menjawab apa.


"Adik saya memang tampan, dia juga baik dan ramah kepada semua orang," terang Echa. "Jika, kamu dibaikin sama Iyan, jangan baper. Bukan kamu doang yang dibaikin sama dia."


"Uhuk!" Aleeya pura-pura batuk.


"Kok mendadak gerah, ya." Aleesa manambahi ucapan Aleeya.


"Kok aku mah pengen ketawa," sambung Agha.


Sontak keempat keponakan Iyan tertawa terbahak-bahak hingga mereka memegangi perutnya yang terasa sakit.


Deki tidak berani menatap ke arah Iyan. Dia benar-benar malu dengan apa yang dilakukan keluarganya. Selalu merealisasikan apa yang diinginkan Deta. Tidak bagus juga untuk mental Deta ke depannya.


Sebelumnya ...


"Papah dan Mamah mau ke rumah Iyan. Mau melamar Iyan untuk Deta."

__ADS_1


Deki yang tengah meneguk air pun tersedak hingga terbatuk-batuk.


"Iyan mana?" tanyanya.


"Iyan teman kamu."


Sontak mata Deki melebar. Apalagi Deta sudah merengek layaknya anak kecil. Dia ingin sekali ke rumah Iyan dan ingin tahu keluarga Iyan itu seperti apa.


"Pikirkan kembali sebelum bertindak, Pah," ujar Deki. "Deta masih kecil," lanjutnya lagi.


Ya, Deta masih kuliah. Usianya pun masih dua puluh tahun. Dia boleh menikah muda, tetapi Deki tidak mengijinkan jikalau dia menikah dengan Iyan.


"Aku udah gede Kak. Pokoknya Kak Iyan harus tanggung jawab karena udah buat aku jatuh cinta sama dia dan gak bisa lupain dia."


Deki tercengang mendengar ucapan dari adiknya ini. Deta memang sulit untuk jatuh cinta, dan baru kali ini dia mendengar adiknya menyukai seroang pria yang tak lain sahabatnya sendiri.


"Pernikahan itu gak gitu konsepnya, Deta." Deki geram sendiri kepada adiknya ini. Mudah sekali mengatakan cinta dan mengatakan ingin menikah.


"Pokoknya Papah dan Mamah harus melamarkan Kak Iyan untuk aku." Deta tetap bersikukuh dengan keinginannya.


"Keluarga Iyan itu bukan keluarga sembarangan. Mereka pasti akan menolak kita," ucap Deki.


"Mana ada menolak, Papah akan menanggung mahar juga segala biaya pernikahan adik kamu. Jadi, Iyan tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Cukup membawa tubuhnya saja."


#off.


.


Ketukan pintu membuat Beeya membuka matanya lagi. Terlihat sang papa sudah melongokkan kepalanya.


"Boleh Papa masuk?" Beeya pun mengangguk.


Arya duduk di tepian tempat tidur sang putri. Dia menatap bahagia ke arah Beeya.


"Sejak kapan kamu memiliki perasaan kepada Iyan?" Pertanyaan sang ayah membuat Beeya tersenyum.


"Mungkin sejak kecil, tapi Bee tidak menyadari itu begitu juga dengan Iyan."


Arya pun tersenyum mendengar ucapan dari putrinya. Dia melihat Beeya putrinya yang dulu sudah kembali.


Beeya memeluk lengan sang ayah. Meletakkan kepalanya di bahu Arya.


"Jika, sedari dulu Bee menyadari perasaan Bee terhadap Iyan. Mungkin, Bee tidak akan merasakan yang namanya disakitin."


Ucapan putrinya terdengar sangat menyayat hati. Setelah bertahun-tahun tidak mengungkapakan isi hatinya kepada sang ayah. Akhirnya, Beeya dapat melakukannya lagi. Arya merasa sangat bahagia sekarang ini.


"Kita sama-sama saling menyadari ketika kita mencoba untuk saling menjauh. Terutama Iyan, dia menjauhi Bee hanya untuk menyelamatkan Bee dari amukan pria berengsekk itu. Iyan rela melakukan semuanya untuk Bee. Bukankah itu menandakan bahwa Iyan memang benar-benar tulus mencintai Bee? Rela terbang ke Bali hanya untuk menemani Bee."


Air mata Beeya sudah menganak. Itu seperti air mata kebahagiaan baginya. Dia tidak akan bersatu dengan Iyan jika tidak mengalami trauma. Dia tidak menjadi kekasih Iyan jika tidak disakiti oleh Raffa.


"Iyan memang sangat berbeda dari ayahnya. Dia seperti memiliki sifat tersendiri dan tidak mirip siapapun," ungkap Arya. Beeya setuju dengan ucapan sang ayah.

__ADS_1


Kini, Beeya menatap intens ke arah sang ayah. "Papa menyetujui hubungan Bee dengan Iyan 'kan?"


Pertanyaan itu mampu membuat Arya tertawa. Dia mengusap lembut rambut Beeya.


"Iyan laki-laki baik, dia penyabar dan juga berhati lembut. Tidak ada alasan untuk Papa melarang kamu berpacaran dengan Iyan."


Beeya pun tersenyum bahagia sekali. Memeluk pinggang ayahnya dengan sangat erat.


"Makasih, Pa."


.


Hanya keheningan yang tercipta di ruang keluarga tersebut. Iyan bagai patung sekarang. Dia benar-benar heran, ada orang tua seperti orang tua Deki. Memaksa orang lain untuk menikahi anaknya.


"Gimana, Yan? Bukankah penawaran Om ini sangat menguntungkan untuk kamu." Iyan tersenyum miring mendengarnya.


"Om harap kamu tidak meno-"


Ponsel Iyan berdering. Ucapan dari ayah Deki pun harus terhenti. Jantung Iyan berdegup tak karuhan ketika melihat sang pacar melakukan sambungan video. Namun, Iyan menjawabnya. Biarlah tatapa semua orang kini tertuju padanya.


"Pacar, kenapa gak hubungin aku kalo udah sampel rumah." Pekikan suara seorang wanita membuat semua orang tercengang. Mereka pun saling pandang.


"Kamu lagi apa? Kenapa muka kamu kayak kanebo kering begitu?"


Keluarga Iyan tertawa mendengarnya. Mereka tahu itu suara siapa.


"Aku lagi dilamar Chagiya."


"Oh my God. Chagiya," seru Aleeya.


"Sarangheyo," balas Aleesa sambil menunjukkan finger love-nya.


Riana dan Echa menggelengkan kepala mendengar ucapan adik bungsunya tersebut. Sungguh di luar nalar mereka.


"Siapa yang berani ngelamar kamu? Cepet tunjukin orangnya." Beeya sudah mencak-mencak dari balik sambungan video. Iyan pun memindahkan kamera ponsel depannya menjadi kamera belakang. Menunjukkan wajah Deta dengan memperbesar gambar.


"Kasih ponselnya ke dia." Iyan menurutinya saja.


Deta sudah memegang ponsel Iyan dengan sedikit gemetar. Terlihat wajah cantik dari balik sambungan video tersebut.


"Hei, Andah!" sergah Beeya kepada Deta. Nyali Deta seketika menciut. Apalagi perempuan di layar ponsel itu sangat cantik juga imut.


"Jangan sok cantik kalau gigi Andah masih dipagar juga rambut dicat kaya ayam warna-warni di abang-abang sekolahan. Andah cewek apa rumah?" Jokes lama, tapi masih mampu mengocok perut keluarga Iyan.


"Sekarang coba Andah cuci muka dan bercermin. Andah lihat diri Anda di sana. Apakah Andah cocok bersanding dengan pemuda tampan nan tinggi itu? Bagai langit dan bumi, Say." Songong sekali cara bicara Beeya.


"Saya mencintai Kak Iyan." Deta mulai membuka suara dan Beeya pun tertawa.


"Mohon maap, Iyan sudah saya pelet pakai pelet paling bagus dan paling manjur. Jadi, jangan harap dia membalas cinta Andah apalagi melihat Andah karena di mata Iyan, hanya ada saya, saya dan saya. Cintanya hanya untuk saya. Andah paham?"


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2