Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
120. Masa Depan vs Masa Lalu


__ADS_3

Membaca isi pesan dari sang kekasih membuat dada Beeya berdegup begitu cepat. Dia melupakan sesuatu bahwa Iyan memiliki teman tak kasat mata. Sudah pasti para makhluk tak terlihat itu memberitahu Iyan tentang dirinya.


Beeya segera menghubungi Iyan balik. Namun, kali ini dia yang diabaikan oleh Iyan. Otaknya tidak bisa berpikir dengan normal. Dia seperti wanita yang terciduk berselingkuh.


Sekali, dua kali hingga sepuluh kali panggilan dari Beeya tidak pernah Iyan jawab. Hatinya mulai ketar-ketir. Dia takut jikalau Iyan marah kepadanya. Tangannya pun sudah mulai menari-nari di atas ponsel. Banyak pesan singkat yang Beeya kirimkan. Tak satupun yang sudah dibaca oleh Iyan.


Waktu terus berputar. Jam dinding terus bergerak ke arah kanan. Namun, Beeya masih menantikan seseorang. Dia menantikan Iyan membaca pesannya ataupun menghubunginya kembali. Ketika jam makan siang dia sudah menghubungi Iyan. Namun, tidak Iyan jawab juga. Menghubungi Wira pun hanya kata tidak tahu yang keluar dari mulutnya.


Beeya bagai manusia yang tak berdaya kali ini. Dia hanya berbaring di tempat tidur dengan mata yang tertuju pada layar ponsel.


"Ayang, maafkan aku."


Gumaman nan lirih terdengar. Sedari tadi Beeya tak enak melakukan apapun. Hanya ada nama Iyan di kepalanya.


Drrt.


Wajah Beeya sangat bahagia. Dia segera membuka ponselnya. Namun, dahinya mengkerut ketika melihat pesan dari siapa yang dia terima.

__ADS_1


"Nomor baru," gumamnya.


Beeya membuka pesan tersebut dan masih dapat dia kenali cara menulis pesan singkat tersebut.


"Kenzo," ucapnya pelan.


Beeya tak ingin membuat Iyan kecewa di luar pulau sana. Iyan adalah masa depannya sedangkan Kenzo adalah masa lalunya ketika masih remaja. Walaupun hubungannya memiliki memori yang indah dan sulit untuk dilupakan.


Beeya beranjak dari tempat tidur dan melangkah gontai menuju ruang makan. Sudah pasti sang ibu berada di sana.


"Bukan itu, Mah." Beeya menjawab ucapan dari ibunya tersebut.


"Lalu?" tanya Beby oenasaran


"Zo," lirih Beey.


Dahi Beby mengerut mendengar ucapan dari sang putri tercinta. Dia masih ingat panggilan tersebut.

__ADS_1


"Dia kerja di toko Bu'de." Terlihat Beeya sangat frustasi mengatakan itu semua. Beby hanya tersenyum melihatnya.


"Apa kamu masih menyimpan perasaan kepada Zo?" Sang ibu tidak berbasa-basi. Dia segera berbicara ke inti.


"Setiap melihat wajah Zo, malah kenangan manis yang terlintas di kepala Bee, Mah."


Beby pun mendekat ke arah Beeya. Dia mengusap lembut pundak sang putri.


"Bee, kalau kamu memang serius dengan orang yang sudah melamar kamu. Harusnya kamu tidak goyah ketika masa lalu kamu datang lagi."


Perkataan ibunya itu memang benar. Namun, Beeya tidak memungkiri perasaannya kepada Kenzo pada waktu itu serius. Terlebih belum ada kata putus yang keluar dari mulut mereka berdua.


Kenzo adalah mantan terakhir ketika Beeya berada di bangku SMA. Dia adalah laki-laki yang paling sabar yang pernah menjadi pacar Beeya. Namun, kepergian Kenzo tanpa kabar berita membuat Beeya berangsur melupakannya.


"Iyan di sana tengah memperjuangkan masa depan kamu. Apa kamu tega mengkhianatinya?" Beeya menggeleng dengan cepat. Dia menatap ke arah ibunya dengan sangat lekat.


"Bee sangat mencintai Iyan, Mah." Beeya memeluk pinggang sang ibu dengan begitu berat. "Tapi, kenapa masa lalu Bee harus datang lagi? Ketika Bee sudah merasa menemukan kenyamanan juga kasih sayang yang tulus yang Iyan berikan. Kenapa, Mah?"

__ADS_1


__ADS_2