
Arya mendadak bisu ketika Iyan menjabarkan semua pundi-pundi yang dia miliki. Seperti ditampar dengan sangat keras oleh kenyataan yang ada.
Suara langkah seseorang terdengar. Semua mata tertuju pada seseorang yang baru saja turun dari lantai atas. Iyan tersenyum manis ke arah perempuan cantik yang tengah berjalan ke arahnya.
"Lagi ngomongin apa sih?" Beeya sudah duduk di samping Iyan dan merangkul manja lengan kekasihnya.
"Papah gak ngapa-ngapain pacaran Bee 'kan," cerca sang putri.
Iyan menatap heran ke arah Beeya yang to the point sekali cara bicaranya. Arya pun berdecak kesal mendengar ucapan dari putri semata wayangnya.
"Hanya memastikan kamu tidak kelaparan."
Ucapan sang ayah membuat dahi Beeya mengkerut. Iyan hanya tertawa kecil.
"Setiap pergi sama Iyan pasti makan kok. Gak pernah kelaparan," terang Beeya dengan polosnya. Iyan tertawa dan mencubit gemas pipi Beeya.
"Ih, sakit," keluhnya. "Benar 'kan," tanya Beeya kepada Iyan.
"Iya."
Beeya tersenyum dan meletakkan bahunya si pundak Iyan. Telrihat jelas dua insan manusia ini tengah dimabuk cinta. Melihat interaksi kedua anak manusia ini, Beby mengajak Arya untuk menjauhi mereka berdua. Memberikam ruang kepada mereka berdua. Arya dam beby bukanlah orang tua yang kolot. Kini, hanya mereka berdua yang ada di ruang depan.
"Ke kolam ikan, yuk."
Sebuah tempat yang sangat Beeya sukai. Dia duduk di pinggiran kolam dengan kaki yang menjuntai ke dalam air.
"Kenapa selalu pakai pakaian ini?" Iyan menunjuk ke arah celana pendek juga baju tanpa lengan yang Beeya kenakan.
"Ini 'kan baju aku untuk tidur," sahut Beeya.
"Tetap saja aku gak suka," tegas Iyan.
Beeya menghela napas kasar. Pandangannya kini menatap lurus ke depan.
"Terus aku harus pakai mukena?" balasnya lagi. "Padahal Raff-"
Perkataan Beeya seketika berhenti. Dia hampir saja keceplosan dan segera dia melihat ke arah sampingnya. Iyan sudah berwajah datar dan melipat kedua tangannya di atas dada.
"Aku bukan dia. Aku juga bukan pria bejat." Iyan pun beranjak dari sana membuat Beeya merutuki kebodohannya. Dia berlari menghampiri Iyan yang sudah menuju pintu keluar.
"Pacar!"
Iyan sama sekali tak menoleh. Dia terus berjalan menuju mobil yang dia bawa. Tangannya sudah membuka pintu mobil, tetapi lengan Beeya sudah melingkar di pinggangnya.
"Maaf," ucapnya.
"Aku gak marah." Jawaban yang terdengar sangat dingin. "Tolong lepaskan!"
Tangan Beeya semakin melingkar erat di pinggang Iyan. Wajahnya pun semakin dia telusupkan di punggung Iyan.
"Gak mau."
Iyan menghela napas kasar. Dia membalikkan tubuhnya, masih dengan tatapan datar dan dingin.
"Jangan marah," pinta Beeya. Kini, dia membenamkan wajahnya di dada Iyan.
__ADS_1
"Pakaian tidur aku seperti ini semua karena Raffa suka dengan pakaian seperti ini." Lebih baik jujur daripada Iyan semakin murka.
"Kamu berani menyebut nama dia di hadapan aku?" Urat kemarahan muncul di wajah Iyan.
"Aku hanya ingin berkata jujur. Aku ingin kamu tahu semuanya." Mata Beeya terlihat nanar.
Iyan masih terdiam, dia masih menyimak apa yang dikatakan wanita yang sedari tadi memeluknya.
"Aku gak ingin ada rahasia di antara kita berdua." Suara Beeya bergetar.
Iyan memeluk tubuh kekasihnya. Mengecup ujung kepalanya dengan sangat lembut.
"Aku gak suka kamu menyebut nama dia. Aku juga gak suka kamu berpakaian terbuka seperti ini walaupun hanya di rumah. Aku gak ingin kamu dilecehkan lagi," paparnya.
Beeya tidak menjawab. Dia semakin erat memeluk tubuh Iyan.
"Aku pulang, ya," pamit Iyan.
Beeya pun melonggarkan pelukannya. Menatap manik mata Iyan dengan sendu.
"Besok aku akan jemput kamu lagi." Iyan pun tersenyum ke arahnya. "Sekalian beli baju tidur untuk kamu."
Beeya pun tertawa dan mencubit gemas pipi pemuda yang jauh lebih tinggi darinya.
Ponsel Iyan berdering, pelukan Beeya harus terurai karena Iyan mengambil ponsel di sakunya. Dahinya sedikit mengkerut ketika melihat siapa yang menghubunginya.
"Deki," gumamnya.
"Dari tadi dia nelpon ke nomor kamu terus." Beeya sudah bersandar di pintu mobil Iyan. Melipat kedua tangannya di depan dada karena angin yang menusuk tulang. Iyan segera memeluk tubuh Beeya membuat Beeya tersenyum bahagia.
"Kenapa?"
...
...
"Ya udah, tunggu."
Iyan mengakhiri sambungan teleponnya. Memasukkan kembali ponselnya ke sakunya.
"Ada apa?" Beeya sudah mendongakkan kepalanya menatap Iyan.
Cup.
Bibir Iyan mencium singkat bibir Beeya membuat bibirnya melengkung dengan sempurna.
"Aku harus pulang. Deki udah di rumah." Beeya mengangguk pelan.
"I always miss you."
Beeya tersenyum dan membalas, "me too."
Mereka berpelukan cukup lama dan seolah tidak ingin dipisahkan oleh apapun.
Dari balik jendela dua orang dewasa menatap kedua anak manusia itu dengan lengkungan senyum kebahagiaan. Apalagi melihat Beeya yang perlahan mulai kembali kepada dirinya yang sesungguhnya.
__ADS_1
"Putri kita sudah kembali, Pa." Arya mengangguk dan menyeka ujung matanya. Ada kebahagiaan yang tak terkira di hati Arya saat ini.
Arya melihat ada sahabatnya yang berada di belakang Iyan dengan melambaikan tangan. Bibirnya melengkung dengan sempurna, tetapi membuat Arya menitikan air mata. Betapa dia merindukan sahabatnya itu. Sering dia melihat sahabatnya menampakkan diri kepadanya. Namun, Arya selalu menganggap itu sebagai halusinasi belaka.
"Kalau lu masih ada, pasti lu akan bahagia melihat anak kita seperti ini."
Iyan melajukan mobilnya menuju kediamannya. Mulutnya terus berdendang.
I just wanna live in this moment forever
'Cause I'm afraid that living couldn't get any better
Started giving up on the word "forever"
Until you gave up heaven
So we could be together
You're my angel
Angel baby, angel
You're my angel, baby
Baby, you're my angel
Angel baby
Mobilnya sudah memasuki halaman besar rumah yang dia tinggali. Terlihat juga mobil Deki yang sudah terparkir di sana.
"Ngapain nih anak ke sini?" gumamnya.
Sapaan hangat dari Om poci dan anteu pocita dibalas senyuman manis oleh Iyan.
"Jatuh cinta itu berjuta rasanya," ujar Om poci.
"Kayak lagu." Anteu pocita tertawa sambil memegang perutnya dan berhasil mendapat tatapan tajam dari om poci berwajah hitam seperti pantaat wajan.
Dahi Iyan mengkerut ketika melihat perempuan yang berada di depan keempat kakaknya. Dia tahu siapa perempuan itu. Namun, ada kedua orang tua Deki juga di sana.
Iyan benar-benar bingung dibuatnya. Dia menatap ke arah keempat kakaknya, tetapi tatapan datar yang mereka berikan.
"Udah lama, Om, Tante," sapa Iyan dengan sopan.
"Baru satu jam."
Iyan tersenyum kecut. Dia menatap ke arah Deki meminta jawaban dari sahabatnya itu. Namun, Deki malah terdiam.
"Pasti kamu bingung dengan kedatangan kami ke sini." Iyan menjawabnya dengan sebuah senyuman.
"Kami datang ke sini untuk meminta kami menjadi suami Deta, adik dari Deki."
"Hah?"
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...
Kangen keuwuan mereka gak sih?