
Di dalam ruang persidangan, Raffa dan Rudi sudah tersenyum penuh kemenangan. Mereka berdua melihat pihak Iyan tidak akan bisa berkutik dengan apa yang para saksi dari pihaknya sampaikan.
Raffa menatap Iyan dengan tatapan sinis. Namun, Iyan berusaha untuk tidak menggubris. Hanya akan membuang-buang waktu dan energi. Ketika hatinya tenang, dia tidak akan terpengaruh oleh apapun. Namun, ketika hatinya panas, dia akan menjadi seperti iblis jahat.
"Ternyata saudara Rian ingin membalikkan fakta yang ada," kata jaksa penuntut umum.
"Saya keberatan dengan kata-kata dari pihak jaksa, Yang Mulia," sanggah Christian.
"Ijinkan saya untuk memperlihatkan bukti yang saya bawa kepada Yang Mulia." Christian menghampiri hakim dengan membawa ponsel milik Beeya.
Ahli telematika pun sudah tiba dan membuat Raffa dan Rudi melebarkan mata. Dia tidak menyangka bahwa pihak Iyan selangkah lebih maju dari mereka.
"Silahkan diputar, Yang Mulia." Christian mempersilahkan kepada hakim untuk memutar video tersebut.
Mata hakim pun melebar ketika Christian menyerahkan video yang sudah termasuk ke dalam asusila. Ditambah Dave membawa hasil kesehatan dari psikiater yang menangani Beeya.
"Yang Mulia bisa tanya sendiri ke ahlinya," ujar Dave sambil menunjuk seseorang yang ada di samping Joy.
"Silahkan telaah video tersebut. Itu editan atau memang asli." Senyum smirk hadir di wajah Christian ketika matanya bertemu dengan mata Rudi.
"Siyal! Kenapa kita lengah begini," bisik Rudi ke arah putranya.
"Video itu video apa?" tanya Raffa bingung.
"Kenapa bertanya kepada Papa? Kamu merasa mengirimkan video atau membuat video aneh-aneh tidak?" geram Rudi.
Terlihat di sana Aksa, Radit serta Aska sangat tenang. Mereka tengah melipat kedua tangan mereka di atas dada. Santai sekali seperti tengah menonton film di bioskop.
"Lebih baik istirahat terlebih dahulu untuk menyiapkan semuanya," tukas hakim.
Ada waktu setengah jam untuk mereka beristirahat. Beeya segera menghampiri Iyan dan memeluk tubuh laki-laki jangkung itu.
"Jangan nangis." Iyan mengusap lembut rambut Beeya. Wanita itu sudah membenamkan wajahnya di dada Iyan. Terasa baju di bagian dadanya sedikit basah.
Tak jauh dari tempat mereka berdua, Raffa sudah mengepalkan tangannya. Dia benar-benar cemburu melihat Beeya sedekat itu dengan Iyan. Apalagi, Beeya terlihat semakin cantik semenjak mengubah penampilannya.
"Gak akan gua biarkan lu dapetin Beeya," erangnya.
Tujuh pria dewasa tengah berkompromi perihal video yang akan diputar. Mereka takut jikalau psikis Beeya mulai tertekan lagi dan malah membuat keributan.
__ADS_1
"Bee," panggil Aska.
Bukan hanya Beeya yang menoleh, Iyan pun ikut menoleh ke arah adik dari Abang iparnya itu.
"Ada sebuah bukti yang pihak Iyan pegang, yakni video yang ada di ponsel kamu." Aska berkata dengan sangat lembut. Dia tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk lagi dengan Beeya.
"Video?" tanya Beeya.
Iyan sudah menggenggam tangan Beeya membuat Beeya menoleh ke arahnya.
"Maaf, kalau aku lancang."
Beeya semakin tidak mengerti Dnegan ucapan pria yang ada di samping dan juga di depannya.
"Aku tahu ada hal yang terus membuat kamu takut." Iyan menjeda ucapannya. "Yakni, video yang kamu sembunyikan dari kami semua."
Tubuh Beeya menegang seketika. Kepalanya menggeleng pelan dengan mata yang nanar.
"Jangan, aku mohon. Jangan!" Beeya menutup telinga dan memejamkan matanya. Di saat itulah Iyan segera memeluk tubuh Beeya dengan sangat erat.
"Gak usah takut, ada banyak orang yang akan melindungi kamu di sini."
"Aku melakukan ini karena aku ingin kamu sembuh. Aku ingin melihat Beeya yang aku kenal dulu. Periang, biang onar. Aku merindukan kamu yang dulu."
Tubuh gemetar Beeya seketika menghilang. Tangannya perlahan melingkar di pinggang Iyan.
"Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhan kamu, karena kami semua merindukan Beeya yang dulu."
Tangis Beeya pun pecah. Ternyata mereka semua peduli kepada dirinya. Mereka semua tengah berjuang untuk kesembuhan Beeya. Kini, semuanya balik lagi kepada dirinya. Akan tetap seperti ini atau mencoba untuk bangkit dan melawan traumanya.
"Kalau kamu gak sanggup lihat, kamu jangan masuk ke ruangan ini sebelum video itu selesai diselidiki," ujar Aska.
Beeya pun melonggarkan pelukannya terhadap Iyan dan menatap ke arah Aska, tanpa melepaskan kedua tangannya yang tengah melingkar di pinggang pria jangkung itu.
"Bee akan tetap di sini."
"Hei!" Iyan sudah menangkup wajah Beeya yang sudah basah karena air mata. "Jangan dipaksa, aku gak ingin terjadi sesuatu kepada kamu," larang Iyan yang sudah menatap hangat nektra mata Beeya.
"Aku ingin sembuh dan aku juga ingin membantu kamu keluar dari tempat ini." Iyan tersenyum mendengarnya. Ada keharuan yang dia rasakan.
__ADS_1
"Aku akan baik-baik saja. Aku akan tetap bertahan di sini untuk menemani dan mendampingi kamu."
Sebuah kecupan hangat Iyan berikan di kening Beeya. Tak dia pedulikan keberadaan Aska di sana. Juga, keluarga Beeya yang pastinya melihat sikap Iyan kepada putri mereka.
Raffa menghentikan langkah tepat di belakang mereka ketika Iyan mencium kening Beeya dengan sangat dalam dan lembut. Dadanya sudah bergumuruh hebat. Ingin rasanya dia menarik tangan Iyan dan menghantam wajahnya.
Berbeda dengan keluarga Beeya yang malah tersenyum bahagia. Sepertinya restu sudah berpihak pada hubungan Iyan dan juga putri mereka.
Sidang pun dilanjutkan kembali. Raffa masih menahan emosi dan masih menatap nyalang ke arah Iyan yang sedari tadi tenang. Dia pun melirik ke arah Beeya yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di bahu pria yang mirip sekali dengan kakak ipar Iyan.
Sesuai perintah hakim, video sudah diputar. Kini, semua mata tertuju pada video tersebut dan berbalik sekarang. Wajah Raffa yang sudah pucat pasi dan Rudi sudah kebakaran jenggot melihat video yang diputar.
"Kenapa video itu bisa jadi barang bukti?" erang Raffa dengan suara kecil.
"Bodoh!" umpat Rudi ke putranya sendiri.
Pandangan Raffa kini tertuju pada Beeya. Terlihat jelas di matanya Beeya tengah menahan ketakutan yang ada. Sedari tadi dia mencengkeram ujung bajunya dengan menggigit bibir bawahnya. Raffa berharap trauma Beeya kambuh lagi dan pastinya persidangan ini akan ditunda sementara. Jadi, dia bisa mengelak video tersebut dengan cara licik.
Ternyata keinginan Raffa tak dikabulkan oleh Tuhan. Beeya terus bertahan walaupun air matanya sudah ingin terjatuh melihat kebiadaban mantan pacarnya juga orang-orang suruhannya.
"Bagaimana?" tanya hakim kepada ahli telematika yang didatangkan.
"Real."
Pihak Raffa mati langkah sekarang, Sebuah fakta sudah terkuak sekarang. Kini, tubuh Raffa yang bergetar hebat.
"Jangan mau Anda dibayar mahal oleh pihak terdakwa itu," geram Rudi.
Mata semua orang pun tertuju kepada Rudi sekarang. Terlihat jelas raut wajah tak terima yang dia perlihatkan.
"Maaf, Anda berbicara kepada saya atau menyindir diri Anda sendiri?"
Jleb.
Ucapan ahli telematika itu sangat menusuk ulu hati Rudi. Mulutnya pun kini mengatup dengan rapat.
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1
Entar dilanjut lagi.