
"Ghea."
Anak perempuan itu berlari memeluk tubuh Iyan. Dia menangis cukup keras dan Iyan pun mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang keponakan.
"Sama siapa ke-"
"Gua."
Suara yang sangat Iyan kenali, yakni Aksara. Iyan dan Beeya menatap ke arah Aksara yang ternyata seorang diri tanpa Riana.
"Om bohong sama Adek," ujar Ghea dengan suara beratnya. "Om bilang, akan ajak Adek bertemu dengan Tante centil."
Beeya pun tertawa dan dia mengusap lembut rambut Ghea. Sungguh manis sekali keponakan Iyan ini.
"Gua titip Adek."
Iyan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aksara. Enteng sekali ucapannya. Ini bukan Jakarta, melainkan Bali.
"Tapi sekolahnya-"
"Besok weekend, Om," sahut Ghea.
Aksa hanya mengangguk. Dia malah mempercayakan Ghea kepada adik iparnya.
"Terus Abang langsung pulang?" Aksa mengangguk menjawab pertanyaan dari Beeya.
"Ke Jakarta?" tanya Beeya. Aksa pun mengangguk lagi.
"Ya ke mana lagi, Bee," sahut sang papah. Arya menghampiri empat orang manusia di depan pintu utama.
"Sultan mah bebas," kelakar Arya. Aksa hanya tertawa.
__ADS_1
Tangan lebar Aksa mengusap lembut ujung kepala Ghea. "Daddy pulang, ya. Adek di sini sama Om."
Sang putri pun mengangguk. Namun. Iyan menggelengkan kepala. Bagaimana bisa dia merawat anak perempuan ini? Dia saja belum memiliki anak.
"Tapi, Bang-"
"Adek janji gak nakal, Om." Anak itu seakan tahu apa yang ingin dikatakan oleh Iyan. Sang paman pun hanya menghela napas kasar dan Aksa sudah tertawa.
"Itung-itung belajar punya anak," ujar Aksara.
Iyan sangka ini hanya candaan belaka, ternyata sang Abang ipar benar-benar meninggalkan Ghea dengan dirinya di Bali. Keponakannya pun seakan sangat girang dan malah melambaikan tangan ke arah taksi yang menjemput sang ayah.
"Gimana ini?" batinnya. Tidak pernah terpikir olehnya akan jadi seperti ini.
"Tante, Adek boleh tidur sama Tante?" Beeya pun mengangguk. Dia malah amat senang karena dia tahu bagaimana derita anak tunggal.
Beeya membawa Ghea ke lantai atas dan ternyata anak itu sudah membawa tas koper. Sepertinya keponakan Iyan sudah merencanakan liburan ini.
Iyan hanya menggelengkan kepala melihat keponakannya yang langsung akrab dengan sang kekasih. Dia tidak menduga Beeya membawa daya tarik tersendiri untuk Ghea. Keponakannya yang super jutek kepada semua perempuan yang tidak dia kenal.
"Simulasi punya anak," ucap Arya seraya menepuk pundak Iyan.
.
Keponakan dari Iyan itu sudah sangat akrab dengan Beeya. Mereka malah tertawa dan bercanda bersama. Suara mereka dapat Iyan dengar dari balik pintu luar. Ingin Iyan mengetuk pintu, tetapi dia urungkan karena sebuah aroma melati yang sangat menusuk hidungnya. Dia tahu siapa yang datang.
Aroma itu semakin menyengat dan dekat. Iyan mencari sosok lelaki tersebut, tetapi tidak dapat dia temui.
"Ibu," panggil Iyan.
Aroma itu membawa Iyan menuju sebuah halaman samping rumah Arya. Untung saja semuanya tidak ada di bawah.
__ADS_1
Senyum penuh kepiluan ibu tunjukkan kepada Iyan. Ternyata, di sana sudah ada Uwo, Jojo, Dev dan si kerdil. Iyan dibuat bingung jadinya. Mereka tak Iyan panggil. tetapi mereka malah hadir.
"Ada apa?" tanya Iyan yang masih kebingungan.
Para sahabat Iyan pun hanya terdiam. Tatapan mereka sangat sendu. Iyan benar-benar tidak mengerti.
"Ada apa?" tanya Iyan lagi.
"Tugas Ibu sudah selesai, Yan," ujar sang ibu.
Iyan benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu. Dia hanya terdiam.
"Ibu yakin, kamu akan bahagia bersama wanita yang kamu cintai," tutur ibu. "Apalagi, kesedihan kamu sudah pergi."
"Aku masih membutuhkan Ibu."
Sang ibu itupun menggeleng. Dia tersenyum pilu ke arah Iyan. Dia juga tidak rela berpisah dengan Iyan. Namun, waktunya untuk menjaga Iyan sudah selesai.
"Waktu Ibu sudah selesai, Yan. Ibu harus pergi."
Om Uwo, Dev, Jojo dan si kerdil sudah menunduk dalam. Mereka pun tidak rela.
"Makasih ya. Kalian semua sudah mau menerima saya dan selalu menjaga Iyan di kala saya tidak ada."
Perkataan yang sangat amat menyayat hati. Iyan tak mampu berkata-kata. Dadanya terasa sangat sesak.
"Ibu pergi ya, Yan." Lambaian tangan sang ibu membuat air mata Iyan menetes begitu saja. Sosok ibu pengganti untuknya kini ikut pergi meninggalkannya. Sama halnya dengan sang ayah.
Jojo, Dev, Om Uwo dan si kerdil memeluk tubuh Iyan. Sahabat mereka itu sudah pasti akan merasa sangat kehilangan. Ibu adalah orang tua kedua bagi Iyan.
"Iyan masih butuh, Ibu."
__ADS_1