
Rio datang ke tempat sarapan dengan penampilan yang berbeda. semua mata tertuju padanya sekarang Rio sudah sangat rapi pagi ini.
"Mau ke mana?" tanya Radit kepada sang keponakan.
"Iyo harus pulang, Uncle." Radit mengerutkan dahi.
"Balik ke Singapur?" Kini, Echa yang bertanya.
"Enggak, Ty," jawab Rio dengan senyum yang mengembang. "Mau bantu Restu berkemas."
Semua orang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rio. Apakah Restu akan pergi jauh? Kenapa dia harus berkemas? Bukankah Restu adalah bodyguard dari Rio.
"Dia dikirim ke Swiss oleh Papih." Radit bingung. Dia mengingat-ingat ada apa di Swiss. Tidak ada perusahaan Papihnya di sana. Juga perusahaan Rindra, kakaknya. Namun, sekilas dia teringat. Dia mengerti kenapa Restu dikirim ke sana.
"Kamu juga ke Swiss?" tanya Aksa.
"Enggak, Om," sahutnya.
"Terus dia mau ngapain! tanya Aska sekarang
"Iyo juga gak tahu Om." Rio menjawab dengan dengan begitu sopan.
"Kak Iyo juga mau antar Kak Restu ke sana?" Rio menggeleng.
__ADS_1
"Kak Iyo akan kembali ke Singapura lagi setelah Kak Restu berangkat." Rio menjelaskan kepada Balqis. Wajah anak itu nampak sedih. Begitu juga dengan Ghea.
"Kak Iyo janji, ketika liburan nanti Kak Iyo akan kembali ke Jakarta. Kak Iyo akan menghabiskan waktu seharian penuh dengan kalian berdua." Dia tersenyum dengan sangat lebar. Dia sangat menyukai anak-anak. Terutama dua anak ini sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
"Janji, ya," balas Ghea. Dia sudah mengacungkan jari kelingkingnya, dan Rio malah tertawa. Dia mengusap lembut rambut Ghe dan menautkan jari kelingkingnya ke jari Ghea. Balqis tidak mau kalah dia juga melakukan hal yang sama. Rio sangat gemas kepada dua anak ini mereka seperti anak kembar
"Kak Iyo janji. Sebuah kalimat yang begitu tulus yang Rio ucapkan.
Menjadi anak tunggal ternyata tidak mengenakan. Dia tidak memiliki saudara. Dia hanya memiliki Restu. Itupun ketika usianya menginjak masa sekolah. Terkadang hidupnya terasa sepi karena tidak ada yang mengganggu. Sedangkan jika bersama Ghea dan Balqis banyak tawa yang mereka ciptakan. Banyak kesal yang Restu dapatkan, tapi Restu malah bahagia Restu merasa tidak sendirian. Dia tidak menyalahkan kedua orang tuanya karena dia tahu alasan sebenarnya itu apa, yang paling penting sang Mamih selalu sehat Begitu juga dengan sang Papih.
Orang tua Ghea dan Balqis tersenyum bahagia melihat Rio yang begitu ramah dan hangat kepada kepada anak-anak mereka. Terlihat sekali Rio menyayangi Gea dan juga Balqis. Rio tidak akan pernah absen ketika dia pulang dari Singapura pasti akan membawakan oleh-oleh untuk kedua anak perempuan itu. Seperti baju, boneka ataupun yang lainnya. Rio menganggap mereka seperti anak kembar jadi apa yang Rio belikan untuk Ghea, pasti sama dengan apa yang dia berikan untuk Balqis.
"Kamu dijemput Siapa?" tanya Radit pada Rio. Dia sudah mendekat ke arah Aleesa, mengambil makanan Aleesa yang ada di piring. Sedari tadi Rio tahu sepupunya itu tidak menyentuh sedikitpun makanan yang sudah diambil.
"Restu," jawab Rio. mendengar nama itu mata Aleesa sedikit melebar. itu tak luput dari pandangan Yansen.
"Suruh ke sini dulu ya, Uncle mau bicara." Restu mengangguk. Dia menatap ke arah Aleesa yang sudah dari tadi tertunduk.
Yansen sedari tasi memperhatikan Aleesa dengan tatapan yang tidak terbaca. Rio dapat melihat ada segelumit perasaan aneh yang dia rasakan ketika Yansen menatap Aleesa.
"Tuh anak gak cemburu? Apa emang cuman nganggap Aleesa teman? Tapi, sorot matanya lebih dari teman," batinnya. Terkadang Rio bingung sendiri dengan sikap Yansen. Anak itu begitu tenang ketika melihat Aleesa bersama Restu. Harusnya dia cemburu.
Ketika semalam Aleesa mengambil food ke lantai bawah pun Rio tahu Yansen melihat Aleesa diantarkan oleh Restu menuju kamarnya. Rio kira Yansen akan marah kepada Restu, tapi nyatanya Yansen malah menghindar. Seakan memberikan ruang kepada Restu dan juga Aleesa.
__ADS_1
Ponsel Rio berdering. Dia sedikit terkejut dan ternyata sang sahabat menghubunginya.
"Lu ke tempat breakfast dulu deh. Lagi pada kumpul. Sekalian ucapin perpisahan kepada keluarga gue," tutur Rio.
"Enggak lah gue tunggu lu di bawah aja."
"Uncle, ini orang nggak mau masuk." Mata Restu melebar ketika mendengar Rio memanggil pamannya.
"Pinjam ponsel kamunya biar Uncle yang bicara."
Yansen memperhatikan sikap Radit yang begitu berbeda kepada Restu. Dia juga memperhatikan reaksi Aleesa yang hanya terdiam. Biasanya dia yang paling ramai.
"Restu."
"Iya, Om."
"Kenapa jemputnya di luar? Masuk aja ke tempat breakfast. Bukankah kamu mau pergi? Emang tidak mau mengucapkan selamat tinggal kepada kami semua."
"Restu buru-buru, Om," sahut Restu beralasan.
"Jangan banyak alasan. Om tunggu di ruang breakfast SEKARANG."
Ponsel Rio dia diberikan kembali kepada sang empunya. Restu hanya menghela nafas kasar dan memaki-maki Rio. Rio pun hanya terkekeh.
__ADS_1
"Lu tahu kalau ngomong kaya gitu mirip siapa?"
"BAPAK MOYANG lu, Rio!!'