Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
83. Sosok Yang Dirindukan


__ADS_3

Sebelum baca bab ini, diharapkan baca bab 82 yang SUDAH DIREVISI, ya. Isinya udah berbeda. Maaf semalam otak sedang di fase error Dan membutuhkan istirahat. Semoga kalian mengerti. Sekali lagi mohon maaf, ya. 🙏


...----------------...


Di sebuah kamar dua insan manusia seakan tidak pernah merasa puas dalam menyesap kenikmatan yang ada. Mereka berdua masih saling berbalas dengan sangat lembut. Apalagi Beeya yang sudah duduk di pangkuan Iyan. Tangan Beeya yang sudah menarik rambut Iyan karena saking menikmati membuat gairah Iyan semakin memanas.


Mereka seakan tengah melepas rindu yang menggebu. Tak membiarkan satu sama lain menghirup oksigen. Ketika keduanya sudah kesulitan bernapas. Barulah mereka mengakhiri acara loematan tersebut. Iyan mengelap bibit Beeya yang sudah basah karena ulahnya.


"Love you, Pacar."


Kalimat sederhana yang pastinya akan membuat Iyan merasakan bahagia yang luar biasa. Dia mengecup kening Beeya dengan sangat dalam. Pertama kalimjatuh cinta dan bisa sedalam ini kepada seseorang yang sedari kecil sudah Iyan kenal.


"Kamu istirahat, ya," ucap Beeya. Iyan mengangguk pelan. Beeya pun sudah turun dari pangkuan Iyan.


"Semoga setelah obat mujarab ini aku berikan, bisa langsung menyembuhkan sakit kamu," tutur Beeya seraya tersenyum.


"Temani aku sampai aku memejamkan mata," pinta Iyan dengan nada yang lemah. Beeya menjawab dengan sebuah anggukan.


Beeya duduk di tepian tempat tidur dengan tangan kanannya yang Iyan genggam. Tangan kirinya Beeya gunakan untuk mengusap lembut rambut Iyan. Ada rasa sedih di hati Beeya jika melihat Iyan sakit seperti ini. Terlihat pemuda tampan itu masih pucat dan lemas.


"Banyak kesedihan yang tidak kamu ungkapkan. Banyak air mata yang tidak kamu teteskan, tapi kamu masih kuat sampai sekarang ini. Kamu masih baik-baik saja dan sanggup melalui semuanya tanpa siapapun yang tahu."

__ADS_1


Beeya tengah membandingkan lemahnya psikisnya dibandingkan dengan psikis Iyan. Dia sudah bertekad untuk bisa sembuh dari segala trauma yang menimpanya. Iyan adalah penyemangatnya. Iyan adalah alasan terbesar untuknya sembuh.


Dengkuran halus terdengar, Beeya tersenyum dan dia mencium kening Iyan dengan sangat dalam.


"Selamat beristirahat brondongku."


Beeya meninggalkan Iyan sendirian. Dia memilih untuk ke halaman samping di mana dia bisa melihat hamparan sawah melalui pagar yang tidak terlalu tinggi. Dia berdiri di sana ditemani angin sepoi-sepoi.


"Jaga Iyan, Bee."


Beeya terkejut tatkala mendengar suara tersebut. Dia mencari suara itu dan matanya melebar ketika dia melihat seseorang yang mirip sekali dengan sahabat ayahnya. Pria itu itu berdiri di samping Beeya menatap hamparan sawah yang hijau.


"Iyan adalah anak yang rapuh. Namun, dia bisa menutupi semuanya dengan sangat sempurna."


"Usirlah kesedihan yang Iyan rasakan. Ubahlah menjadi kebahagiaan yang tak bisa tergantikan."


Beeya masih terdiam. Telinganya pun masih mendengarkan dengan sangat tajam.


"Sifat kalian memang bertolak belakang, tetapi chamestry kalian sangat cocok. Kalian saling melengkapi satu sama lain."


Beeya menjelma seperti patung bernapas. Mulutnya terasa kelu. Padahal ingin sekali dia menyahuti ucapan dari sosok tersebut.

__ADS_1


"Selama ini Iyan kuat karena memiliki sahabat yang tak terlihat yang selalu ada untuknya. Sekarang, Ayah ingin melihat Iyan bahagia bukan dengan sahabat tak kasat matanya, tapi dengan seseorang yang tulus mencintainya. Menerima segala kekurangannya dan tidak melihat apa kelebihannya. Sebuah kelebihan hanyalah bonus dari Tuhan. Sedangkan kekurangan adalah sesuatu yang harus diperbaiki agar menjadi lebih sempurna."


Sosok itu menatap ke arah Beeya yang juga tengah menatapnya. Senyuman khasnya terukir di wajahnya yang terlihat begitu berchaya.


"Kamu, kamu yang bisa melakukan itu semua. Kamu yang bisa merubah hidup monokrom Iyan menjadi lebih berwarna." Sebuah senyum penuh ketulusan hadir di wajah sosok tersebut.


"Kamu adalah salah satu tulang rusuk Iyan yang hilang. Sempurnakan hidupnya, Bee. Ayah yakin, kamu dan Iyan akan bahagia jika terus bersama."


Tangan itu mengusap lembut ujung kepala Beeya. Namun, Beeya tak bisa berbuat apa-apa. Hanya hatinya merasakan kesedihan yang mendalam ketika tangan itu berada di atas kepalanya.


"Ayah."


Bulir bening itu menetes, dan sosok itupun menghilang begitu saja. Tubuh Beeya yang sulit digerakkan kini mulai bisa leluasa bergerak.


"Keinginanku saat ini adalah bertemu Ayah ... walaupun hanya dalam mimpi. Itu sudah menjadi kebahagiaan yang tak terkira untukku."


Kalimat itu yang kini memutari kepalanya karena tadi pagi Iyan baru saja mengatakannya kepada Beeya sembari tubuhnya dipapah oleh Beeya ke tempat tidur.


"Kenapa Ayah datang kepada Bee? Kenapa Ayah tidak datang kepada Iyan?"


...****************...

__ADS_1


Komen dulu di sini. Baru scroll ke bawah.


__ADS_2