
"Daddy bilang, lu harus ke Swiss." Lengkungan senyum itu terhenti. Dia menatap ke arah sahabatnya yang berkata teramat serius. "Di sana lu akan lebih ditempa dalam segala hal."
Restu hanya tersenyum tipis. Dia tahu ini akan terjadi. Dia harus melupakan remaja putri yang menyebalkan, tapi perhatian. Remaja yang selalu marah jika dia berkelahi ataupun merokok.
"Iya." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Restu.
"Lu siap gak?" Rio merasa sedikit ragu.
"Gua akan selalu siap. Bokap lu tahu passion gua di mana. Gua juga tahu, gua dilatih keras di sana biar bisa jagain lu. Secara lu anak tunggal yang akan mewariskan semua harta Bokap lu juga sebagian dari aset kakek Addhitama." Masih dengan intonasi santai.
"Gua harus mulai terbiasa sendiri. Biasanya gua ditemani anak brandal." Restu pun tertawa.
"Jangan kayak cewek. Mending lu siap-siap jadi pagar beton."
""Siyalan!" Rion melempar jeruk yang dia pegang ke arah wajah Restu dan tepat mengenai luka di sudut bibirnya..
"Bang sat! Sakit!"
"Lebay lu! Luka cetek begitu doang," balas Rio seraya tertawa. Persahabatan yang terjalin sedari mereka kecil membuat mereka sudah malas bertengkar. Restu pun sangat berpegang teguh pada pendiriannya. Dia tidak boleh menyukai wanita yang sama dengan Rio sukai. Jikalau itu terjadi, dia yang harus mundur.
Persahabatan akan hancur umumnya karena wanita. Dia tidak ingin seperti itu. Rio sudah dia anggap seperti adiknya yang harus selalu dia lindungi.
Sedari tadi Yansen sudah curiga dengan gelagat Aleesa. Aleesa terus mencari seseorang. Namun, Yansen enggan untuk menanyakan. Aleesa adalah orang yang tidak suka dikuliti. Yansen sangat tahu itu.
"Sen, aku kembali ke kamar, ya. Aku mau istirahat." Yansen mengangguk.
"Kalau ada yang kamu mau,
chat aku aja." Aleesa pun mengangguk dan tersenyum ke arah Yansen. Tak lupa usapan lembut Yansen berikan di ujung kepala Aleesa. Itulah yang membuat Aleesa merasa nyaman dan hangat jika berada bersama Yansen.
Sikap Yansen dan Aleesa tak luput dari pandangan Raditya yang tengah bersama Rindra.
"Mereka sangat cocok. Terlihat betapa nyamannya Aleesa bersama Yansen." Radit tersenyum tipis mendengarnya.
"Benteng terlalu tinggi dan tebal. Jangan mempertaruhkan iman hanya untuk sebuah pernikahan." Rindra tersenyum. Dia mengerti adiknya ini tidak merestui hubungan Yansen dan Aleesa karena keyakinan yang berbeda.
.
Di kamar hotel yang Aleesa dan kedua saudaranya tempati, Aleesa sudah mencari kontak sang kakak sepupu. Siapa lagi jika bukan Rio. Dia mencoba menghubungi Rio.
Pemuda itu nampak terkejut ketika melihat Aleesa menghubunginya. Dia menunjukkan nama di layar
ponselnya kepada Restu. Panggilan itu adalah panggilan video.
__ADS_1
"Jawab aja." Restu masih bersikap santai. Dia mengunyah buah jeruk yang Rindra bawa.
"Kakak di mana?" Rio malah tertawa ketika mendengar pernyataan itu.
"Kamu cantik banget, Sa." Rio memuji sepupunya. Anak yang selalu berdandan santai cenderung tomboi kini terbalut dengan kebaya modern Adat Sunda. Juga riasan yang mampu membuat wajahnya semakin mempesona.
"Ih, Kak Iyo!" seru Aleesa. Rio pun tertawa. Tanpa Restu tahu Rio sudah mengubah kamera depan menjadi kamera belakang.
Mata Aleesa melebar melihat Restu dalam keadaan kacau pun masih terlihat tampan. Beda dari Restu yang pernah dia lihat.

Rio mengulum senyum karena sepupunya malah terdiam terpana melihat Restu menggunakan baju rumah sakit.
"Kok diam, Sa? Dia emang ganteng cuma bandelnya Masha Allah banget."
Restu menatap ke arah Rio yang tengah mengarahkan kamera ponsel ke arahnya dan dia pun berdecak kesal.
"Gua masih hidup, Sa. Jangan khawatirin gua," ucap Restu.
Biasanya Aleesa akan menimpali ucapan brandal itu. Namun, kali ini mulutnya kelu. Dia tahu Restu sedang menutupi semuanya.
"Kamu tahu 'kan Kak Iyo sekarang ada di mana. Sebentar lagi Kak Iyo akan kembali ke hotel. Kak Iyo ingin bicara sama kamu." Aleesa pun mengangguk.
Rio melihat ke arah Restu yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Wajah Restu terlihat nampak berbeda.
"Gua paling benci orang yang mengasihani gua," tukasnya.
.
Tibanya di hotel Rio berpapasan dengan Kalfa. Remaja putra itu menyapanya. Namun, Restu bersikap sinis kepada anak angkat dari adik sang kakek.
"Lepasin salah satu dari sepupu gua," sarkasnya. "Lu gak bisa milikin dua-duanya," lanjut Rio lagi.
Tatapan tajam penuh ancaman Restu berikan kepada Kalfa. Sapaan dari seseorang membuat Rio menoleh. Pemuda itu malah tersenyum hangat kepada remaja itu.
"Tadi ada perlu sedikit dan udah ijin ke Kak Iyan juga kok." Rangga pun tersenyum.
"Aku kira ke mana." Rangga pun bersikap begitu ramah dan sopan.
"Kamu mau ke mana?"
"Ke kamar, Kak. Mau ganti baju. Gerah."
__ADS_1
"Bareng!" balas Rio. "Aku juga mau ke kamar Aleesa."
Di mata Kalfa, Rangga adalah sosok tukang carper alias cari perhatian. Dari Rio, Aska, Iyan, Rangga mampu membuat tiga pria itu berbincang santai dengannya. Beda halnya dengan dirinya yang selalu ditatap sinis oleh paman dan sepupu Aleena.
Kedatangan Rio ke kamar Aleesa disambut senyum oleh sepupu keduanya. Rio mengusap lembut rambut Aleesa.
"Kak Iyo mau bicara perihal Restu."
Aleesa terdiam. Dia menatap lekat Rio. Ada apa dengan Restu? Wajah Rio sangatlah serius.
"Kenapa dengan si brandal itu?" Rio mengulum senyum ketika raut penuh kekhawatiran nampak jelas terlihat di mata Aleesa.
"Dia gak apa-apa. Dia baik-baik aja." Kedua alis Aleesa menukik dengan begitu tajam.
"Lalu?"
"Tolong jaga rahasia perihal kejadian malam itu. Jangan cerita kepada siapapun."
"Kenapa?" tanya Aleesa.
"Itu permintaan Restu."
"Tapi, Kak ... dia itu pecundang kalau di depan pria tua itu. Dia sama sekali gak ngelawan cuma diam aja. Padahal dia sudah berdarah-darah," papar Aleesa.
"Ke semua orang dia akan melawan tanpa ampun. Beda halnya dengan ke orang itu. Dia tidak akan pernah melawan. Dia tidak ingin durhaka."
Mendengar itu mulut Aleesa Kelu. Dia tidak menyangka dengan cara berpikir si brandal. Masih menghormati orang tua yang sudah menyiksa anaknya.
"Jangan lihat Restu dari luarnya saja. Banyak hal yang tak kamu duga jika mengenal Restu lebih dalam." Rio tersenyum ke arah Aleesa.
"Satu hal lagi, jangan terlalu benci pada seseorang. Bisa jadi kamu nanti suka sama dia," goda Rio.
"Dih, apaan sih. Siapa yang suka sama dia," elak Aleesa. "Kak Iyo tahu 'kan siapa yang membuatku nyaman. Selalu membuatku merasa bahagia."
.
Ada seseorang yang hatinya merasakan sakit ketika mendengar penuturan remaja itu dari balik sambungan telepon.
"Hanya dia, Kak. Yansen Jeremi yang selalu membuat hariku berwarna dan memberikanku kenyamanan yang tak bisa diungkapkan."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut pria yang mendengarkan obrolan Rio dan juga Aleesa melalui sambungan telepon.
"Pergi adalah jalan yang paling tepat sebelum gua tenggelam dalam perasaan yang tak seharusnya gua miliki untuk si bocah galak."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...