Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
118. Kata Bijak


__ADS_3

Aleeya terus bersungut-sungut meskipun sudah berada di dalam pesawat. Iyan duduk bersama Aleesa yang sedari tadi terlihat tak bergairah. Ingin rasanya Aleesa bercerita kepada sang paman. Namun, Iyan terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Aleesa memilih untuk diam dan memejamkan mata.


"Kalau mau cerita setelah pekerjaanku selesai." Iyan membuka suara dan membuat Aleesa membuka matanya dan menoleh ke arah Iyan.


Sang paman mengusap lembut rambut Aleesa tanpa ekspresi apapun. Namun, mampu membuat hati Aleesa menghangat.


"Makasih, Om."


Dua anak indigo ini memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Tanpa mereka berdua katakan, mereka bisa merasakan apa yang tengah mereka pikirkan.


"Belajar yang benar. Jangan buat Baba dan Bubu kamu kecewa."


Iyan adalah laki-laki yang sangat mengayomi tiga keponakannya yang tengah beranjak dewasa. Terlihat pendiam, tetapi dia juga sangat memperhatikan lima keponakannya tersebut. Aleesa pun merebahkan kepalanya di pundak sang om dan Iyan hanya tersenyum tipis.


"Kalau lebah rese lihat, pasti kamu diomelin," ucap Iyan.


"Biarin." Aleesa malah semakin erat merangkul lengan Iyan dan meletakkan kepalanya di pundak sang paman. Pundak kedua yang membuatnya nyaman setelah pundak sang ayah. Ada juga pundak ketiga yang membuatnya merasa disayangi. Namun, hatinya masih gamang.

__ADS_1


.


Sedari tadi wajah Beeya sudah berubah. Sepanjang perjalan menuju rumah, dia terlihat sendu.


"Satu bulan lagi, Bee."


Sang Tante mencoba memperingati. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Beeya.


"Itu gak lama," tambah Beby.


"Bee tahu, Mah." Beeya sudah menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah sang ibu. "Bee tidak ingin jauh dari Iyan. Berada di dekatnya membuat hati Bee merasa tenteram dan nyaman."


"Iyan tidak seperti ayahnya," tukas Arya.


Satu-satunya pria yang ada di dalam mobil itu membuka suara. Kini semua mata tertuju pada sosok Arya.


"Tidak semua keburukan akan menular kepada anaknya. Malah bisa jadi sebaliknya. Anaknya menuruni semua kebaikan yang ayahnya miliki."

__ADS_1


Ucapan yang teramat tulus yang keluar dari mulut Arya. Bukan dka membela mendiang sahabatnya. Namun, pada nyatanya seperti itu.


"Turunan narapidana belum tentu jahat juga 'kan. Ada juga yang menjadi ulama supaya mereka tidak terjerumus pada kubangan dosa yang telah ayah mereka lakukan. Begitulah Iyan."


Kekhawtiran Beeya kini menguar sudah. Benar kata pepatah bijak mengatakan, setitik keburukan manusia akan terus diingat dibandingkan jutaan kebaikan yang mereka lakukan.


"Positif thinking saja. Bangkai itu akan terendus walaupun sudah ditutup serapat-rapatnya."


Baru kali ini Arina dan Beby mendengar Arya berkata bijak layaknya seorang motivator. Biasanya Aryalah yang akan selalu berburuk sangka kepada pria yang mendekati anaknya. Beda halnya sikapnya terhadap Iyan.


Tibanya di rumah Beeya segera menyibukkan diri agar tidak teringat kepada sang kekasih yang berada di luar pulau sana. Sang Tante pun mengajak Beeya untuk ke sebuah toko baju miliknya. Beeya pun dengan senang hati menerima ajakan sang Tante.


Arina banyak bercerita tentang perjuangan mendirikan toko baju ini. Beeya sangat takjub dan salut kepada tentunya ini. Meskipun memiliki darah keturunan langsung Bhaskara, tetapi dia sama seperti ayahnya yang ingin berdiri di atas kakinya sendiri.


"Bu Arina, ada karyawan yang hendak melamar kerja."


Arina yang tengah berbincang dengan Beeya pun menghentikan pembicaraan mereka. Arina mengajak serta Beeya menuju ruangan interview dan Beeya mengikutinya saja. Ketika Beeya masuk ke ruangan sang tante tubuhnya menegang. Seorang pria yang tengah duduk di sofa di dalam ruangan Arina pun nampak terkejut dengan apa yang pria itu lihat.

__ADS_1


"Beeya."


__ADS_2