
Beeya menghela napas berat ketika mereka berlima sudah tiba di Bandara. Dia menatap wajah Iyan dengan penuh kepiluan, tetapi sang kekasih seakan terus memberikan semangat yang tak terbantahkan.
Tangan Iyan terulur agar kekasihnya turun dari mobil. Dia juga tidak melepaskan genggaman tangan Beeya.
"I will miss you," ucap pelan Beeya.
Langkah Iyan pun terhenti dan diikuti oleh Beeya. Dia menoleh ke arah belakang di mana Iyan mematung. Tanpa Beeya duga pria itu menarik tangan Beeya hingga tubuhnya membentur tubuh Iyan bagian depan.
"Me too."
Tangan Beeya seketika melingkar di pinggang Iyan. Rasa berat tengah menyelimuti hatinya sekarang. Namun, dia juga memiliki tekad untuk sembuh agar bisa terus bersama Iyan.
Pemuda jangkung itu membuka jaket yang dia gunakan. Dia memakaikannya pada tubuh Beeya dengan aroma parfum khas dirinya. Bibir Beeya pun melengkung dengan sempurna dengan mata yang menatap hangat ke arah nektra sang kekasih.
"Ketika kamu butuh pelukan aku, pakailah jaket itu. Kamu akan merasakan hangatnya pelukan aku."
Begitu manis yang dapat Beeya dengar. Tanpa malu dia berjinjit dan mengecup singkat bibir sang kekasih.
"Love you, Pacar."
__ADS_1
Iyan tersenyum lebar dan dia merangkul mesra pundak sang kekasih. Iyan tahu kedua orang tua Beeya melihat ketika Beeya mencium bibirnya.
Tiba sudah Beeya di pintu keberangkatan. Dia menatap wajah Iyan dengan raut sendu.
"Jangan nakal di sini." Iyan pun mengangguk. "Selalu hubungi aku dan video call aku. Kamu itu hanya milik aku gak boleh disentuh sama cewek manapun selagi aku gak ada. Pokonya itu gak ada tawar menawar."
Beeya berkata penuh dengan emosi. Sedangkan Iyan menjawabnya dengan senyuman manis. Dia memeluk gemas tubuh Beeya.
"Kalau aku kangen kamu gimana?" tanya Iyan.
Beeya melonggarkan pelukannya dan mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Kamu tatap wajah aku yang tengah menikmati hot kissing yang kamu berikan."
"Aku yakin, itu akan menjadi vitamin tambahan untuk kamu agar kamu cepat-cepat menyusul aku ke Bali."
Iyan pun tertawa dan mencubit gemas pipi sang kekasih. "Aku sangat mencintai kamu," ucap Iyan dengan begitu keseriusan.
"Aku juga sangat menyayangi kamu, Iyan. Aku merasakan ketulusan cinta dari kamu. Aku merasakan hati berbunga setiap hari karena sikap manis kamu."
__ADS_1
Iyan mengusap lembut pipi Beeya. Ingin sekali dia mengecupnya, tetapi ini adalah tempat umum.
"Hanya kamu yang bisa membuat aku jatuh cinta berkali-kali. Hanya kamu yang bisa membuat aku merasa nyaman dengan kekuranganku. Hanya kamu yang bisa membuat aku tersenyum ketika badai dan topan menerjang diriku. Hanya kamu."
Iyan memeluk tubuh kekasihnya lagi. Dia sangat terharu mendengar ucapan dari Beeya.
"Jaga diri kamu, ya. Jangan keluar tanpa ada yang mendampingi kamu dan jangan menggunakan pakaian seksi jika tidak bersama aku."
Mendengar ucapan terakhir dari Iyan membuat Beeya tergelak. Dia memundurkan tubuhnya seraya tertawa lepas.
"Pacar modus," ejeknya.
"Aku hanya gak ingin kamu terlihat murah di depan orang-orang. Balutlah tubuh kamu seperti barang mahal, hingga hanya satu orang yang dapat memiliki juga menikmati," sahut Iyan.
"Orang itu kamu," balas Beeya seraya tertawa. Iyan hanya tersenyum dan tangannya sudah menarik dagu Beeya. Mata Beeya sudah melebar, tidak mungkin pemuda jangkung ini menciumnya di tempat umum bukan.
Untungnya Iyan tidak mengarahkan wajahnya ke bibir Beeya. Melainkan berbisik di telinga Beeya.
"Ke kamar mandi yuk. Aku ingin mencium kamu."
__ADS_1
...****************...
Komennya mana?