
Bandung.
Aleesa tak memberikan celah sedikit pun kepada Anggie untuk mendekati om kecilnya. Dia terus merangkul manja lengan Iyan seperti sepasang kekasih dan mampu membuat Anggie mendengkus kesal. Iyan pun merasa terhibur akan kehadiran Aleesa. Apalagi mereka berdua sama-sama memiliki kelebihan bisa melihat makhluk tak kasat mata.
"Om, itu ngapain lagi Om poci jadi patung selamat datang di situ," tunjuk Aleesa ke arah salah satu kedai makanan.
"Dia itu makhluk penglaris."
"Jangan kesitu deh," tolak Aleesa. Namun, manusia di belakang mereka tengah merengek ingin makan di kedai itu seperti orang ngidam.
"Please, Iyan."
Tidak tega itulah Iyan. Dia pun akhirnya mengikuti kemauan Anggie, tetapi dengan jahilnya Aleesa mengerjai Anggie. Ketika tangannya sudah ingin menyentuh lengan sang om kecil. "Aarrghh!" Anggie menjerit-jerit karena yang dia pegang itu tangan buntung yang berlumuran darah.
"Kamu kenapa?" tanya Iyan.
"Jangan mendekat, Iyan! Jangan!" cegahnya. Di mata Anggie tangan Iyan berubah menjadi buntung dan sekarang berubah menjadi tangan berbulu hitam yang menyeramkan.
"Lebih baik aku kembali ke rumah Tante Nisha." Anggie berlari terbirit-birit dan Aleesa tertawa terpingkal-pingkal.
"Kamu apakan Anggie?" sergah Iyan.
"Hanya bermain-main sedikit dengannya," jawab santai Aleesa.
"Tidak boleh begitu, Aleesa." Iyan mencoba menasihati.
"Om kecil tahu kalau aku tidak suka kepada seseorang pasti akan nubuat orang itu pergi menjauh. Itulah yang akan aku lakukan."
"Aleesa-"
"Ingat ya, Om kecil. Aku lebih sensitif perihal diri orang lain daripada Om kecil. Tubuhku jijik ketika bersentuhan dengan kulit Anggie." Ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu jika berdekatan dengan Anggie. Keponakannya pun merasakan hal yang sama.
Aleesa sangat posesif merangkul manja Iyan. Tak membiarkan Iyan dilirik oleh satu wanita pun. Jika, itu terjadi para teman-teman Aleesa akan beraksi. Iyan hanya menggelengkan kepalanya karena perbuatan usil Aleesa.
"Om, apa Om mencoba menghindar?" Iyan yang tengah menyedot air kelapa hijau tersedak mendengar ucapan Aleesa.
"Dari acara pertunangan Kak Bee yang sedang dilangsungkan malam ini," lanjutnya.
Iyan hanya terdiam. Dia tidak mau menjawab perihal ini. Mulutnya dikunci dengan sangat rapat.
"Harusnya Om berada di sana," ucap Aleesa. "Kak Bee butuh Om."
Iyan menatap bingung ke arah Aleesa. "Maksudnya?" Aleesa hanya menggedikkan bahu.
"Sedari kecil kalian itu saling membutuhkan dan saling melengkapi. Hanya saja kalian tidak menyadari."
"Dia sudah bahagia bersama Bang Raffa, Kakak Sa," elak Iyan.
"Kebahagiaan yang hanya kamuflase belaka," balas Aleesa.
__ADS_1
"Entahlah." Iyan beranjak dari duduknya. "Om ingin healing, bukan memikirkan yang tidak penting. Besok Om harus fokus pada tugas skripsi. Memberikan yang terbaik kepada Ayah."
Aleesa memeluk tubuh Iyan dari belakang. Mendengar kata Engkong hatinya akan terasa sangat nyeri.
"Kakak Sa rindu, Engkong."
Punggung Iyan terasa basah karena air mata Aleesa. Iyan membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Aleesa. "Apa kamu pernah melihat engkong?"Aleesa menggeleng dengan sangat cepat.
"Itulah yang membuat aku rindu Engkong." Iyan memeluk tubuh keponakannya. Ternyata bukan hanya dirinya yang merindukan sosok sang ayah. Ketiga cucu ayahnya pun merasakan hal yang sama.
.
Beeya dibawa pergi dari tempat itu. Arya sudah sangat marah dan membatalkann pertunangan Beeya dengan Raffa.
"Bee," panggil Echa.
Tangan Beeya memeluk erat tubuh Echa. Di belakangnya ada Riana yang mengusap lembut punggung Beeya.
"Kamu luar biasa, Bee. Bertahan hanya untuk membuktikan bahwa dia memang tidak pantas untuk kamu," puji Echa.
"Terlalu sakit, Kak."
"Sabar ya, Bee. Andaikan jika Iyan-"
Beeya mengurai pelukannya. Dia masih bermandikan air mata.
Echa tercengang mendengarnya. Beeya yang biasanya manja kini sudah sangat berubah. Seperti bukan Beeya yang dia kenal.
"Biarkan Iyan bahagia dengan perempuannya dan Bee bahagia dengan jalan hidup Bee yang sudah Tuhan takdirkan."
Beeya menyangka bahwa Iyan dan Anggie memiliki hubungan spesial karena Anggie selalu ada di samping Iyan. Dia juga tidak mengetahui siapa wanita yang tengah memadu kasih dengan Raffa di dalam video itu. Dia enggan mencari tahu karena itu akan semakin membuatnya tambah sakit.
"Ke rumah Bu'de aja dulu, ya. Tenangkan diri di rumah Bu'de." Beeya pun mengangguk setuju.
.
Hati Iyan bergejolak tak karuhan. Dia teringat kepada Beeya. Ingin melupakan bayang tentangnya malah seperti ini.
"Yan," panggil sang Tante.
Iyan menoleh dan tersenyum ke arah Nisha yang sudah membawakan teh hangat untuk keponakannya.
"Kamu pacaran sama Anggie?" Nisha bukanlah orang yang senang basa-basi. Dia berbicara langsung ke inti.
"Enggak, Tante."
"Beneran?" telisik Nisha. Iyan mengangguk.
"Memangnya kenapa?" tanya Iyan penasaran.
__ADS_1
"Tante merasa, dia bukan anak baik-baik. Dia hanya ingin memanfaatkan kamu saja." Iyan tersentak dengan apa yang dikatakan oleh tantenya.
"Dia tengah bersedih dan kecewa. Kamu dijadikan tempat pelampiasan olehnya," lanjutnya lagi.
"Kamu harus hati-hati. Jangan sampai kamu masuk perangkapnya."
Nisha memiliki sensitivitas sama seperti Aleesa. Dia hanya ingin melindungi keponakannya. Dia juga merasa Iyan tengah bersedih.
"Apa Anggie bukan wanita baik-baik?" tanya Iyan dengan rasa penasaran.
"Pergaulan dan juga uang bisa merubah semuanya."
Nisha tak menjelaskan secara gamblang. Hanya sebuah clue yang dia berikan.
Pintu kamar terbuka, Aleesa merengutkan wajahnya dan mengambil teh hangat yang ada di tangan Iyan.
"Bikin sendiri," omel Nisha.
"Kakak Sa enek, Mamah Onty," sahutnya setelah meneguk teh hangat.
"Kenapa?" tanya Nisha.
"Itu Kak Anggie muntah-muntah melulu."
"Anggie sakit?" Iyan mulai menunjukkan raut khawatirnya.
"Jangan terlalu bersimpati kepadanya," larang Nisha. "Banyak manusia yang berwajah polos, tetapi sudah mempoloskan tubuhnya kepada lelaki lain."
Iyan tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh sang Tante. Apa Anggie seperti itu sekarang?
"Iyan mau lihat Anggie," ujarnya.
Iyan bukanlah anak yang mudah untuk terprovokasi. Dia hanya ingin memastikan sendiri. Benarkah apa yang dikatakan oleh tantenya itu.
Tangannya sudah mengetuk pintu kamar Anggie. Namun, tidak ada jawaban dari sana. Dia mencoba menekan gagang pintu dan di dalam tidak ada siapa-siapa. Hanya suara gemercik air yang terdengar. Juga suara orang yang tengah memuntahkan isi perutnya.
Ketika Iyan hendak melangkah menuju pintu kamar mandi, ponsel Anggie di atas nakas bergetar. Matanya memicing ketika melihat nama si pemanggil di ponsel tersebut. Baru saja hendak meraih ponsel milik Anggie, pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Anggie sudah dengan wajah pucatnya.
"Kamu kenapa?" tanya Iyan.
Tanpa menjawab Anggie memeluk tubuh Iyan. "Mual, pusing," keluhnya.
Iyan menuntun Anggie menuju tempat tidur. Dia baringkan perlahan karena jujur Iyan sangat merasa kasihan. Ketika Iyan menarik selimut untuk menutupi tubuh Anggie, tubuhnya menegang ketika kulitnya menyentuh bagian perut Anggie.
"Benih? Biji jagung?"
...****************...
Komen dong ....
__ADS_1