
Iyan tengah fokus pada ponsel di tangannya. Dia tidak menyadari bahwa sang kekasih sudah ada di sampingnya.
"Terus aja cuekin," sungut Beeya.
Mendengar suara yang ternyata menyeramkan membuat Iyan segera memalingkan wajahnya. Raut sang pacar sudah ditekuk hingga tekukan terkecil.
"Aku lagi fokus sama ini, Chagiya."
Iyan menunjukkan pekerjaannya kepada sang pacar agar wanita di sampingnya itu tidak marah. Namun, tetap saja wajah Beeya belum berubah.
Pemuda itu meletakkan ponselnya di atas meja, dia meraih tangan Beeya dan mengusapnya dengan sangat lembut.
"Maaf."
Satu kata yang keluar dari mulut Iyan. Sekalipun dia tidak salah, dia akan tetap meminta maaf karena sejatinya laki-laki itu gudang kesalahan dan wanita itu selalu benar.
Tak Iyan sangka Beeya malah melingkarkan tangan di pinggangnya dengan begitu erat. Dahi Iyan mengkerut. Dia tidak mengerti dengan sikap kekasihnya ini.
"Kenapa?" Beeya pun menggeleng. Dia malah semakin mengeratkan tangannya.
"Aku pasti akan sangat merindukan kamu," lirih Beeya.
__ADS_1
Bukan hanya Beeya yang akan merindukan Iyan. Sudah pasti Iyan juga akan sangat merindukan Beeya. Iyan memilih tidak menjawab, hanya membalas pelukan Beeya dengan tak kalah eratnya.
"Abang kira kamu manusia lempeng, Yan" ejek sang Abang ipar keduanya yang baru saja datang. Anak keduanya pun segera berlari dan memeluk tubuh sang ayah.
Iyan berdecih kesal mendengar ucapan Abang iparnya itu. Pelukannya pun dia longgarkan karena perkataan abang iparnya itu seperti alarm. Terkadang Iyan merutuki nasibnya yang memiliki dua Abang ipar bermulut pedas.
Pukulan cukup keras pun Aksa terima dari Riana. Dia tidak suka jikalau suaminya mengejek Iyan. Riana bagai malaikat pembela untuknya. Namun, kedekatannya dengan sang kakak kedua mengundang cemburu untuk Beeya.
"Jangan peluk-peluk pacar Bee," sergahnya kepada Riana.
Kedua alis Riana menukik sangat tajam. Begitu juga dengan Beeya. Apalagi Beeya yang sudah menarik lengan Iyan dan menjauhkan Iyan dari kakaknya. Riana tak mau kalah. Dia menarik tangan Iyan juga. Sang empunya tubuh hanya dapat menghela napas kasar.
"Iyan," panggil sang kakak.
"Kamu pilih Kak Ri apa Beeya."
Iyan terkejut dengan ucapan sang kakak. Dia melihat ke arah pacarnya yang sudah menatapnya tajam juga.
"Cepet jawab!" Beeya sudah memasang wajah garang.
"Aku pilih Kak Echa."
__ADS_1
Dia segera berlari ke arah sang kakak pertama yang baru saja bergabung di halaman belakang. Dia memeluk erat tubuh kakaknya itu.
"Iyan!" teriak mereka berdua.
Iyan pun tertawa dan membiarkan kedua wanita itu marah. Dia memilih untuk membantu kedua keponakannya membakar semua makanan yang sudah tersedia.
Beeya tersenyum kecil melihat Iyan yang tengah bercanda dengan kedua keponakannya. Dia merasa melihat Iyan yang berbeda. Sikap diam Iyan kini sudah menghilang.
Dia melihat ponsel Iyan yang ada di atas meja. Dia meraihnya dan membuka kunci ponselnya. Senyumnya pun melengkung ketika melihat wallpaper ponselnya adalah gambar dirinya yang tengah tersenyum lebar. Beeya terus mencari tahu isi ponsel kekasihnya dan tidak ada hal yang mencurigakan sama sekali.
"Bee," panggil Echa.
Beeya pun menolehkan kepalanya ke arah wanita yang sudah duduk di sampingnya. Dia tersenyum ke arah Echa.
"Kamu sudah banyak merubah Iyan," tuturnya. Pandangannya kini tertuju pada Iyan yang tengah tertawa lepas bersama empat keponakannya.
"Mungkin itu aslinya Iyan, Kak. Hanya saja dia tidak menunjukkannya kepada kita semua."
Echa setuju dengan ucapan Beeya. Kini, Echa menatap penuh arti Beeya.
"Jikalau, nanti Iyan ingin menjalin hubungan yang serius dengan kamu. Apa kamu mau?"
__ADS_1
...****************...
Komen atuh ...