Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
57. Hadir Kembali


__ADS_3

Iyan membawa Beeya ke sebuah taman. Dia ingin berbicara empat mata bersama Beeya.


Duduk berdua di kursi besi dengan tangan yang saling bertaut. Iyan menatap wajah Beeya yang tengah memandang lurus ke depan.


"Apa gak bisa ditunda?" tanyanya. Beeya seketika menoleh kepada Iyan. Sorot mata Iyan penuh dengan permohonan.


"Atau pindahkan pengobatan kamu ke sini biar aku yang tanggung semua biayanya," lanjutnya.


Beeya menggelengkan kepala. Dia tidak mau merepotkan juga membebani orang lain.


"Aku sudah nyaman dengan psikiater itu," tolak Beeya.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Dia tidak mau menjalani hubungan jarak jauh dengan sang kekasih. Kembali ke Bali pun dia tidak bisa karena kafe ini sedang membutuhkannya.


"Aku tidak nyaman jika hubungan kita harus terhalang jarak," imbuhnya.


Beeya malah tertawa mendengar ucapan Iyan. Sangat menggelikan, tetapi mampu membuat Beeya tersenyum bahagia.


"Jakarta-Bali 'kan gak jauh kalau pake pesawat," balas Beeya. "Jadi cowok harus bermodal." Beeya mencubit gemas pipi Iyan yang putih bersih.


Sebenarnya bukan modal yang menjadi permasalahannya. Dia hanya takut Beeya akan berpaling kepada pria lain ketika dia tidak ada di samping perempuan itu. Iyan sangat tahu bagaimana rekam jejak seorang Abeeya Bhaskara.

__ADS_1


.


Tampang kusut Iyan di rumah membuat Aleesa gemas. Dia duduk di samping sang om. Menatapnya dengan penuh selidik.


"Ngapain sih," ucap Iyan dengan nada yang penuh ketidaksukaan.


"Lagi liatin Om kecil. Ada yang ngikutin apa emang itu muka gak ada ganteng-gantengnya," kelakar Aleesa.


Iyan mendengkus kesal dan melirik tajam ke arah Aleesa. Keponakan yang memiliki kesamaan dengannya.


"Om, kapan jadiannya sama Kak Bee?" tanya Aleesa penuh dengan keingintahuan.


Iyan pun menoleh, dia tersenyum ke arah Aleesa. "Kamu kapan jadian sama Yansen."


"Rese ih," omel Aleesa sambil membawa segelas air putih.


"Ingat, kamu dan Yansen memang sama, tapi iman kalian yang berbeda."


Iyan mengusap lembut ujung kepala Aleesa dan segera beranjak dari duduknya, dan perkataan Iyan itu mampu membuat Aleesa berteriak kesal.


"Om kecil!" Iyan pun hanya tertawa.

__ADS_1


Ini kali pertama Iyan dilanda kebingungan juga kegalauan. Langkah kakinya membawanya menuju kamar sang ayah. Dia memandangi setiap sudut kamar itu. Berharap dia bisa bertemu dengan ayahnya.


Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Iyan memilih duduk di tepian tempat tidur. Mengambil figura berukuran sedang yang diletakkan di atas tempat tidur.


"Andai, Ayah masih ada ... Iyan tidak akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya," keluhnya. Tangannya sudah mengusap lembut figura tersebut.


"Iyan ingin bercerita banyak kepada Ayah. Iyan ingin bertanya banyak hal kepada Ayah. Iyan ...."


Matanya terpejam sejenak. Dia meyakinkan hatinya untuk tidak menangis. Dia harus menjadi laki-laki yang kuat. Dia menengadahkan kepalanya, berharap air mata tidak tumpah.


Namun, bukan hanya bayangan ayahnya yang hadir di kepalanya. Bayangan wajah ibunya menghiasi pikirannya. Akhirnya, air mata itu sudah tidak bisa terbendung lagi dan bercucuran begitu saja.


"Perihal wanita lebih enak diobrolin sama seorang ibu. Ibu kita adalah wanita. Jadi, dia bisa memahami apa yang wanita inginkan."


"Anak Bunda sekarang sudah dewasa. Banyak hal yang ingin Iyan ceritakan. Banyak hal yang ingin Iyan tanyakan kepada Bunda. " Dia menjeda ucapannya.


"Iyan sekarang sedang merasakan indahnya jatuh cinta. Andaikan Bunda masih ada di samping Iyan bersama Ayah, mungkin Iyan tak akan menjadi lelaki buta akan hal seperti ini. Pasti Bunda dan Ayah akan ...." Iyan tak sanggup melanjutkan perkataannya.


Kesedihan yang perlahan memudar. Tiba-tiba datang kembali. Lebih pedihnya, bukan hanya sang ayah yang dia rindukan. Bundanya pun ikut dia rindukan.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2