
"It's you ... Rian Dwiputra Juanda."
Mata Iyan tak berkedip ketika menatap ke arah panggung. Tubuh mungil dengan rok jeans di atas lutut juga kaos berwarna putih sedikit longgar membuat Iyan terpana. Sangat cantik terlebih senyum yang sangat dia rindukan hadir di wajah cantik tersebut.
"Ayang! Gak kangen apa sama tunangan kamu ini."
Suasana romantis menjadi gelak tawa ketika Beeya berkata seperti itu. Wira menggelengkan kepala.
"Untung cantik, ya," bisiknya pada Iyan. "Kalau jelek mana mau Pak Boss ini sama Mbak Beeya."
Iyan hanya tersenyum tipis. Akhirnya dia pun berdiri dan suara para pengunjung mulai histeris. Mereka penasaran siapa Rian Dwiputra Juanda. Pria tampan nan jangkung itu tersenyum ke arah Beeya dan melangkahkan kakinya menuju panggung yang ada.
Beeya sudah merentangkan tangannya. Iyan pun memeluk tubuh Beeya yang mungil itu. Tak Beeya pedulian musik yang mengalun indah di sana..
"Miss you so much." Beeya berkata dengan dengan begitu lirih. Iyan tidak menjawab. Dia semakin memeluk erat tubuh Abeeya Bhaskara.
Lepas rindu disaksikan banyak orang. Kemesraan mereka berdua banyak yang mendokumentasikan. Terlihat seperti FTV atau drama mini series.
Iyan mengurai pelukannya dan terlihat tunangannya ini menitikan air mata. Tangan Iyan mengusap lembut wajah Beeya yang sudah basah.
"Don't cry."
Beeya mendongak menatap ke arah wajah Iyan. Pemuda itupun tersenyum. Kemudian, membubuhkan kecupan manis di kening Beeya dengan cukup lama. Lagi-lagi Iyan membuat seisi kafe histeris karena perlakuan manisnya.
"Ya ampun, ada bakat terpendam rupanya," gumam Wira ketika melihat sikap Iyan sekarang. Pria dingin dan tidak banyak bicara kini menjadi pria manis seperti gula.
Beeya memang suka bernyanyi sama halnya dengan Echa juga Aleena. Suaranya pun merdu. Kali ini, dia akan mempersembahkan sebuah lagu untuk kekasihnya. Tangan Beeya terus menggenggam tangan Iyan dengan begitu erat.
🎶
Sayang, tahukah beruntungnya aku
Miliki kekasih seperti dirimu
Selalu rindu, selalu ingin
Bersama dengan kamu
Takkan ingin aku berpisah
Denganmu, bagai terbang melayang
Semua pengunjung kafe pun ikut bernyanyi. Lagu yang easy listening dan juga banyak dari mereka yang tahu.
🎶
Kita berdua s'lalu bersama
Bagai di Surga, dan takkan terpisahkan
Denganmu, hidup ini sempurna
Tak ingin lagi meraih cita
Cukup denganmu, cinta
"Love you more, Ayang." Beeya menatap Iyan dengan penuh cinta. Iyan memeluk tubuh mungit itu dengan begitu erat.
"Fix ini mah cepat-cepat halalin." Suara seseorang yang ternyata ikut ke Moeda kafe.
Selepas Beeya bernyanyi, mereka berdua menghampiri Wira yang tengah berada di meja pengunjung Tangan mereka masih bertaut.
"Wir, bikinin minuman biasa gih." Sikap Beeya masih sama seperti dulu. Selalu menyuruh Wira untuk membuatkan minumannya.
"Siap calon ibu bos." Iyan dan Beeya tertawa mendengar ucapan dari Wira.
Iyan menatap wajah Beeya dengan intens. Tangannya pun mengusap lembut punggung tangan Beeya.
"Kamu bohongin aku."
Bukannya merasa bersalah, Beeya malah tertawa. Dia balik memandang Iyan. Tangannya mengusap lembut pipi pemuda kesayangan.
"Aku ingin memberikan kejutan kepada kamu." Iyan tersenyum dan menarik Beeya ke dalam pelukannya.
"Aku gak ingin lagi jauh dari kamu."
"Aku juga."
Wira menggelengkan kepala melihat kemesraan yang ada. Dia pun ikut bergabung dan banyak hal yang mereka ceritakan. Gelak tawa pun tercipta membuat meja mereka ramai.
"Ini anak gak macam-macam 'kan," tanya Beeya kepada Wira perihal Iyan.
"Mana saya tahu, Mbak. Wong pacarnya Mbak udah jarang banget ke kafe."
Beeya menatap ke arah Iyan. Tatapan intimidasi dia berikan. Namun, pemuda itu tetap diam dan datar.
"Aku emang turunan buaya, tapi aku bukan buaya. Aku mah tipe cowok yang setia." Sekalinya berbicara pasti hal yang membuat hati Beeya luluh lantah.
"Masa?" Beeya pura-pura tidak percaya. Iyan malah menatapnya dengan dalam.
"Aku harus membuktikan apa?" tanya Iyan. Beeya pura-pura berpikir. Kemudian, dia menengadah. Meminta sesuatu kepada sang tunangan.
"Ponsel."
Tanpa banyak bicara pemuda itu memberikannya kepada Beeya. Sontak mata Wira melebar. Sungguh ini bukan pak manager yang dia kenal.
"Sandinya."
"Tanggal lahir kamu."
Sumpah demi apa? Pertemuan terakhir kemarin layar ponsel Iyan memang tidak memakai sandi. Hanya digeser biasa dan langsung terbuka. Kenapa Beeya menginginkan ponsel? Itu karena dia mendapat laporan dari Aleesa bahwasannya Iyan sering senyum-senyum sendiri di kamar jika pulang bekerja larut malam. Ponselnya pun sekarang memakai sandi. Tidak bisa Aleesa sadap.
Beeya segera mencobanya dan ternyata benar. Dia terkejut ketika melihat wallpaper ponsel Iyan. Foto mereka yang tengah berciuman. Tidak tahu siapa yang memotretnya.
"Ayang," panggil Beeya dengan mata berkaca-kaca. Iyan hanya tersenyum. Dia mengusap lembut rambut Beeya.
"Tidak ada alasan untukku berpaling dari kamu. Kamu yang pertama dan terakhir untukku."
Wira merasa seperti nyamuk sekarang ini. Dia hanya dapat menopang dagu melihat kemesraan yang Iyan dan Beeya tunjukkan.
"Pak bos manager, habis makan apaan sih bisa semanis ini?" Wira aneh dengan perubahan signifikan yang ditunjukkan Iyan.
__ADS_1
Pemuda itu hanya menatapnya sepintas. Namun, tak ada jawaban darinya.
"Pak manager kamu ini udah kena virus." Wira tersedak minuman mendengarnya. Dahinya mengkerut dan kedua alisnya menukik tajam.
"Virus bucin." Beeya mencubit gemas pipi Iyan dan itupun membuat Wira bernapas lega. Dia kira virus mematikan.
Asyik berbincang ponsel Iyan berdering. Panggilan masuk dari sang kakak pertama. Tersimpan tanya di dalam benak Iyan. Padahal dia sudah meminta ijin kepada kakaknya. Beeya pun menukikkan kedua alisnya. Ada apa Echa menghubungi Iyan.
"Jawab, Yang. Takutnya penting," tutur Beeya.
Iyan meraih ponselnya dan perintah yang tak busa dibantah keluar dari mulut kakaknya itu.
"Pulang sekarang."
"Ada apa, Kak?" Namun, sang kakak segera mengakhiri panggilan tersebut.
"Kenapa?" Beeya pun penasaran.
"Aku disuruh pulang. Kayaknya ada yang tejadi di rumah. Suara Kak Echa beda soalnya."
"Aku ikut." Beeya sudah berdiri dan tak lupa Iyan mengeluarkan uang lembaran berwarna merah kepada Wira.
"Gak usah, Pak," tolak Wira.
"Ambil aja, Wir. Kami di sini 'kan sebagai pengunjung," tukas Beeya.
Kebaikan Iyan dan juga Beeya tidaklah berubah. Mereka tetap sama seperti dulu.
.
"Chagiya, tolong kirim pesan ke Aleesa di rumah ada apa?" Iyan menyerahkan ponselnya kepada sang tunangan. Dia harus fokus mengemudi.
Tak berselang lama pesan yang dikirim Beeya dibalas oleh Aleesa.
"Cepat pulang." Beeya membacakan pesan balasan dari keponakan kedua Iyan.
Pikiran jelek kini menari-nari di kepala Iyan. Dia takut terjadi apa-apa pada anggota keluarganya. Mobil sudah masuk ke area rumah milik Echa. Iyan dan Beeya saling tatap karena di sana sudah terparkir mobil milik Arya.
"Papah," ucap mereka berbarengan.
Iyan dan Beeya segera masuk ke dalam, dan langkah mereka terhenti ketika semua mata tertuju pada mereka. Apalagi tangan Iyan dan Beeya yang saling menggenggam.
"Kita belum ngapa-ngapain," ucap Beeya. Bodohnya, Iyan pun mengangguk. Membenarkan apa yang dikatakan sang tunangan.
"Emangnya Om dan Tante lebah sering ngapain kalau berdua?" tanya Agha. Anak itu sedari kecil sangat kritis. Tubuh mereka berdua pun menegang mendengar pertanyaan Agha.
"Hal yang enak-enak, tapi dilarang oleh agama." Aska, ternyata orang itu ada di sana.
"Dosa besar itu!" pekik Agha.
"Makanya biar Om kamu dan Tante lebah tidak menimbun dosa yang besar lagi, Wawa memutuskan untuk meminta Om kamu yang bernama Rian Dwiputra Juanda menikahi Tante lebah yang tak lain Abeeya Bhaskara DUA MINGGU LAGI.",
...******...
Virus Bucin bukan hanya sedang dialami Iyan dan Beeya. Seseorang di luar sana pun sedang mengalami hal yang sama. Pasangan yang dipaksa menikah, yakni Elyna dan Rifal..
Perkataan Elyna membuat Rifal tak dapat tidur. Kenapa dia merasa tidak rela Elyna diambil orang?
Subuh menjelang, Elyna keluar kamar. Namun, suaminya masih terpejam dengan begitu damai. Dia tidak tega membangunkan. Elyna pun memilih untuk membersihkan badan dan bersiap menjalankan solat subuh.
Selesai solat subuh, Elyna keluar kamar. Dia melihat ke ruang tamu dan suaminya sudah terjaga. Masih duduk di sofa.
"Sudah bangun?" Rifal hanya berdehem. "Mau langsung dibuatkan kopi?"
Rifal malah menepuk sofa di samping dirinya. Menyuruh Elyna untuk duduk di sana. Elyna menghidupkan lampu. Dia menghampiri Rifal dan duduk di samping suaminya tersebut.
"Seorang teman boleh 'kan minta dipeluk?" Elyna menukikkan kedua alisnya. Wajah Rifal nampak memohon. "Dingin." Elyna tersenyum. Dia pun memeluk tubuh Rifal.
"Gimana? Udah hangat?"
"Belum." Elyna pun tertawa.
Semenjak semalam mengutarakan isi hatinya kepada Rifal, Elyna merasakan kelegaan yang tak terkira.. Semalam setelah menangis di pelukan Rifal, dia langsung melaksanakan sujud di sepertiga malam. Ada sebuah bisikan yang menenangkan dan membuat dirinya tidak terlalu dingin kepada Rifal. Dia mengadu kepada Tuhan, bahwa dia memang mencintai suaminya. Tuhan seakan menjawab ucapan Elyna. Tuhan menyuruh Elyna untuk bersabar dan terus berjuang.
Setelah meminum secangkir kopi, Rifal dan Elyna langsung meninggalkan kampung halaman Elyna. Sebelumnya Elyna dan Rifal pamit kepada ketua RT setempat.
"Ada yang ketinggalan gak?" Elyna menggeleng.
"Mas, kamu belum sarapan loh," ujar Elyna ketika memasang seatbelt.
"Nanti kita berhenti di jalan. Pasti banyak tukang makanan." Rifal menatap ke arah Elyna yang terlihat khawatir. "Saya gak apa-apa. Jangan khawatir." Usapan lembut Rifal berikan di ujung kepala Elyna.
Mobil pun melaju menjauhi kampung halaman Elyna. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya hingga ada kedai soto daging yang menggugah selera.
"Kita sarapan di sini, ya." Elyna melihat ke arah kedai tersebut. Namun, dia tidak ingin sarapan soto. Dia ingin makan bubur.
"Mas, aku gak mau makan soto. Aku pengen makan bubur," tolak Elyna ketika suaminya membuka seat
belt.
"Saya ingin makan soto, El. Gak mau bubur." Rifal pun bersikukuh.
"Tapi, Mas--"
"Turun!" titah Rifal dengan wajah serius. "Istri harus menuruti perintah suami." Elyna merengutkan wajahnya dan mengikuti Rifal membuka seatbelt. Menghentakkan kakinya dan membuat Rifal terkekeh dalam hati.
Mereka duduk berdua dan Rifal sudah memesan dua mangkuk soto beserta nasi. Elyna masih terdiam dan wajahnya masih direngutkan.
"Jelek ih!" goda Rifal.
"Emang udah jelek, gak kaya mantan Mas yang bernama Key-"
Cup.
Rifal mengecup bibir Elyna di kedai soto tersebut. Di mana cukup ramai orang, dan kini mereka jadi sorotan. Rifal menatap Elyna dengan begitu dalam.
"Lanjutkan bicaranya supaya saya bisa cium bibir kamu lebih dalam lagi." Nyali Elyna pun ciut. Dia menggelengkan kepala dengan cepat.
"Silakan dinikmati," ujar pramusaji. Senyum pun tersungging di bibirnya. "Pasti pengantin baru, ya," tebaknya. "Mesra banget."
Wajah Elyna merah padam. Dia pun menunduk dalam. Beda halnya dengan Rifal yang sudah tersenyum. Dia pun menggenggam tangan Elyna dan menjawab pertanyaan pramusaji itu.
__ADS_1
"Kami memang pengantin baru. Baru tiga bulan menikah." Elyna menganggap perkataan Rifal hanya sebatas kepura-puraan saja. Dia tidak terlalu mendengarkan.
Rifal sudah mengaduk soto pesanannya. Beda halnya dengan Elyna yang masih tak berselera.
"Makan dong," ujar Rifal. Elyna menggeleng pelan.
Rifal meraih mangkuk berisi soto. Menambahkan perasan jeruk nipis juga sambal. Dia mulai meniupi kuah soto yang masih panas. Kemudian, menyuapi Elyna. Istrinya malah terpaku. Apa dia tidak salah.
"Buka mulutnya, enak loh." Perlahan mulut Elyna pun terbuka dan rasa kuah sotonya segar. Apalagi jika ditambah sambal lagi.
"Mas, kurang pedas."
"Masih pagi, nanti sakit perut." Rifal dengan telaten menyuapi istrinya yang ternyata memiliki sifat manja. Rifal malah terlihat bahagia hingga soto miliknya diabaikan.
"Mas, Mas juga makan dong," ujar Elyna.
"Saya gak akan makan jika punya kamu belum habis." Rifal masih senang menyuapi istrinya. Ada kebahagiaan yang tak bisa dia katakan.
"Habis." Senyum pun melengkung di wajah Rifal. Elyna ikut tersenyum melihat suaminya sebahagia ini.
"Sekarang giliran Mas yang makan," kata Elyna dengan begitu lembut.
"Suapin." Tingkah Rifal bagai anak kecil dan membuat Elyna terkekeh kecil.
"Iya. Aku suapin."
***To Be Continue***
Komen dong ....
Rifal hanya tersenyum. Dia belum menjawab, matanya masih mencari tempat kosong untuk mobilnya.
"Ayo kita turun!" ajak Rifal. Elyna masih membeku. Dia masih menatap ke arah sang suami yang sudah membuka seatbelt.
"Kenapa diam? Ayo turun!" titahnya lagi.
"Kenapa ke sini?" Pertanyaan Elyna membuat Rifal tertawa.
"Kita beli baju lah."
"Baju aku masih banyak, Mas," sahut Elyna.
Rifal sangat gemas dengan istrinya ini. Dia baru tahu jikalau Elyna keras kepala. Dia pun memajukan tubuhnya dan refleks Elyna memundurkan tubuhnya hingga membentur jok mobil.
"Saya hanya ingin membantu kamu membuka seatbelt." Elyna malu setengah mati. Wajahnya sudah bersemu merah bagi kepiting rebus. Rifal mengulum senyum lihat wajah istrinya.
"Kita akan menghadiri acara, dan acara bukan acara biasa. Kita harus terlihat kompak," papar Rifal.
Elyna hanya mengangguk saja. Dia mengikuti kemana langkah Rifal membawanya. Mereka berjalan beriringan tanpa bergenggaman. Bagai dua manusia yang tengah bermusuhan. Rifal menghentikan langkahnya ketika Elyna tidak memperhatikan jalan hingga dia memabrak punggung suaminya.
"Aw!" Elyna mengusap keningnya.
"Jalan tuh lihat ke depan." Suara tegas Rifal keluar. Elyna pun hanya terdiam.
Tidak Elyna sangka rival menautkan tangannya. Dia nampak terkejut ketika tangan lebar itu menggenggam tangan miliknya.
"Takut kamu hilang," ucapnya, yang terus membawa Elyna naik eskalator.
"Aku bukan anak kecil." Elyna sudah menatap ke arah pria yang ada di sampingnya dengan wajah kesal. Perlahan Rifal pun menoleh ke arah wanita yang mengenakan hijab berwarna abu-abu muda yang tengah menatapnya.
"Makan saja masih belepotan."
"Mas!!" kesalnya.
Rifal tersenyum tipis ketika sang istri merajuk. Dia berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Rifal. Namun, Rifal semakin mengeratkan genggamannnya. Ujung mata Rifal melirik ke arah Elyna yang sudah menekuk wajahnya.
"Kenapa kamu begitu lucu?"
Mereka memasuki sebuah toko baju ternama dengan tangan Rifal yang masih menggenggam tangan sang istri yang masih merajuk.
"Udah dong marahnya," ucap Rifal begitu lembut. Elyna masih terdiam. Dia tidak menjawab.
Rifal meraih pundak Elyna. Dia mengarahkan tubuh Elyna agar berhadapan dengan Elyna.
"Lihat saya!" titahnya. Elyna masih marah hingga Rifal meraih dagu Elyna agar istrinya itu menegakkan kepalanya.
"Jangan marah. Saya hanya bercanda." Ucapan yang begitu tulus yang Elyna dengar. "Kamu tuh jelek kalau lagi marah."
"Mas!!!" rengeknya lagi. Rifal malah tertawa dan tanpa dia sadari tangannya menarik tubuh Elyna untuk dia peluk.
Jantung Elyna berdegup sangat cepat. Apalagi tangan Rifal sudah mengusap lembut belakang kepalanya. Seketika dia merasa nyaman dan tenang.
Deheman salah seorang karyawan membuat pelukan Rifal terlepas. Rifal nampak terkejut dan Elyna pun menunduk.
"Maaf," sesal Rifal. Elyna hanya menggeleng pelan tanpa menatap sang suami.
Kecanggungan hadir kembali. Akhirnya, Rifal menyuruh Elyna untuk memilih baju untuk digunakan di acara keluarga nanti malam. Elyna pun menuruti apa yang dikatakan sang suami. Namun, dia merasa bingung. Dia takut jika baju pilihannya tidak sesuai dengan keinginan suaminya.
"Mas, aku bingung. Mas saja yang pilihkan," ujar Elyna.
Rifal pun memanggil karyawan toko tersebut dan meminta baju yang sesuai dengan sang istri. Baju keluaran terbaru. Tak lama menunggu ada beberapa baju yang dibawakan oleh karyawan untuk istrinya.
"Mana yang kamu suka?" tanya Rifal ketika karyawan itu menunjukkan satu per satu baju yang dibawanya.
"Boleh Mas yang pilihkan?" Dalam hal ini Elyna sangat berhati-hati. Dia tidak ingin mempwrmalika sang suami.
"Ya sudah. Kamu coba satu per satu bajunya. Nanti saya nilai." Elyna pun setuju.
Elyna sudah keluar dari ruang ganti dengan menggunakan baju pertama. Rifal menelisik dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kemudian, kepalanya menggeleng menandakan dia tidak suka. Nasib baju kedua pun sama. Beda halnya dengan baju yang ketiga. Rifal terpana ketika istrinya nampak sangat cantik menggunakan misi dress berwarna hijau mint. Mata Rifal pun tak berkedip.
"Mas, apa harus ganti lagi?" tanya Elyna. Rifal pun menggeleng.
"Cantik."
Elyna pun tersipu, apalagi Rifal sudah mendekat ke arahnya. Dia pun tersenyum manis kepada Elyna.
"Bawakan saya baju dengan warna yang senada dengan baju istri saya."
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1
Komen dong ....