
"Kartu ini sama dengan cinta aku sama kamu," ungkap Iyan. "Tak terbatas."
Beeya tersenyum sangat lebar mendengar ucapan dari pemuda jangkung itu. Anak pendiam, kini berubah menjadi pemuda yang agresif.
Beeya mengambil kartu berwarna hitam dan memberikannya kembali kepada sang kekasih.
"Aku bukan cewek matre, walaupun matre itu perlu," tuturnya.
Kini, Beeya menatap Iyan dengan sangat dalam juga penuh sayang. Sorot matanya seperti tengah mengatakan sesuatu.
"Aku ingin sembuh dulu. Aku ingin kembali seperti sedia kala. Aku tidak ingin membuat kamu malu dengan psikis aku yang masih sakit ini," ucapnya semakin pelan, dan mampu membuat Iyan bersimpuh di depan Beeya dan memeluk tubuh kekasihnya yang ternyata masih ringkih.
"Aku gak suka kamu bilang kaya gitu," ucap Iyan.
"Memang itu kenyataannya. Aku adalah perempuan yang tidak-"
Pelukan Iyan yang semakin erat membuat Beeya menghentikan ucapannya. Dia merasa dadanya sangat sesak.
"Aku mencintai kamu apa adanya. Bukan ada apanya."
Beby merasa terharu mendengar ucapan Iyan yang begitu tulus juga serius.
"Psikis kamu pasti akan sembuh dan aku akan selalu berada di samping kamu dalam kondisi apapun," tutur Iyan.
Akhirnya, tangan Beeya membalas pelukan Iyan dengan air mata yang terjatuh.
"Makasih, sudah mencintai aku."
Setelah haru biru tercipta, Iyan duduk di samping Beeya dengan tangan Beeya yang terus merangkul manja sang pacar. Dia tengah menunjukkan kepada Pipin bahwa Iyan hanya miliknya.
Pipin pun berdecih sebal, tetapi ada kebahagiaan di hatinya ketika melihat sikap Iyan yang begitu sabar juga perhatian kepada Beeya. Wajah kedua orang tua Beeya pun terlihat sangat bahagia sekali.
Iyan mengusap lembut rambut Beeya ketika perempuan itu mengunyah makanan yang disuapi oleh Iyan.
__ADS_1
"Bee, makan sendiri dong. Kasihan Iyan jadi gak bisa makan," sergah sang ibu.
"Gak apa-apa, Mah. Nanti aku makan setelah pacar manja aku ini selesai makan."
Arya benar-benar melihat ketulusan yang Iyan berikan kepada putrinya. Begitu juga Beeya yang sama sekali tidak canggung menunjukkan sikap aslinya kepada Iyan. Beda halnya ketika Beeya berpacaran dengan Raffa. Beeya dituntut untuk menjadi wanita yang sempurna. Sedangkan Iyan, mampu menerima ketidaksempurnaan putri semata wayangnya.
"Pah, jadwal keberangkatan jam berapa?" tanya Beeya.
"Jam setengah tiga."
Beeya melihat jam di tangan kekasih. Bibirnya melengkung dengan sempurna karena masih jam satu kurang lima belas menit.
"Bee mau nyari cemilan dulu ya sama Iyan," katanya.
Iyan yang tengah melahap makanan pun terkejut dan menatap sang pacar. Beeya sudah tersenyum dan menarik tangan Iyan dengan kasar.
"Tenggorokan aku seret," ucap Iyan.
Beeya menghampiri sopir yang membawanya juga keluarganya. Dia meminta kunci mobil itu dan menyerahkan kepada Iyan. Dahi Iyan mengkerut, tetapi dia juga jadi manusia penurut.
Mobil melaju ke sebuah minimarket sesuai dengan ucapan Beeya. Namun, di jalan yang sepi Beeya meminta Iyan menepikan mobilnya.
"Ada apa?"
Iyan menoleh ke arah sang kekasih hati dan dengan begitu cepatnya Beeya menyambar bibir Iyan dengan begitu lembut. Iyan terkejut, tetapi dia mulai mengikuti ritme yang Beeya mulai.
Sesaapan manis, bersilat lidah mereka lakukan. Seakan Beeya terus memaksa agar Iyan terus mengikuti kemauannya juga membalasnya. Tangan Beeya sudah meraih tangan Iyan untuk memegang kedua dadanya dan sontak Iyan memundurkan kepalanya. Otomatis pagutan itu terlepas.
"Enggak," katanya.
Tangannya sudah meraih tangan Beeya. Menjauhkannya dari benda yang masih haram tersebut.
"Apa kamu pernah melakukan ini dengan-"
__ADS_1
Bibir Beeya memagut kembali bibir merah Iyan. Terlihat Iyan kesal dan melepaskan kembali pagutannya.
"Jawab pertanyaan aku tadi." Iyan sudah berbicara dengan cukup keras.
Beeya menggelengkan kepalanya. Dia menatap Iyan dengan intens.
"Justru aku hanya ingin kamu yang menyentuh ini," ucapnya. "Menghilangkan jejak-"
Beeya sudah tidak sanggup berbicara. Dia malah menunduk dalam membuat Iyan menarik tangan kekasihnya hingga masuk ke dalam pelukannya.
"Maaf, Chagiya."
Iyan tahu kekasihnya ini masih trauma kan sentuhan laki-laki biadab yang ingin melecehkannya secara rombongan. Dia mengecup ujung kepala Beeya dengan cukup lama.
Ketika dirasa Beeya mulai tenang, dia mengurai pelukannya dan menatap Beeya Dnegan tatapan intens.
"Aku akan menghilangkannya, tapi tidak sekarang karena kita belum halal."
Dalam kondisi seperti ini otak Iyan malah bekerja dengan sangat baik. Tak terpengaruh oleh hasutan setan. Bibir Iyan tersenyum, tangannya sudah meraih dagu sang kekasih.
"Cukup saling mengungkapkan dengan sebuah kecupan dan tidak boleh lebih dari itu," tekan Iyan.
Beeya pun tersenyum dan kini mereka berdua sudah saling berpagut kembali. Saling membalas dan membuat Beeya juga Iyan tidak bisa bernapas. Mereka saling pandang dengan napas yang tak beraturan.
"Aku akan merindukan ini."
Iyan tersenyum mendengar ucapan Beeya. Dia mengecup singkat bibir merah muda pacarnya.
Aku akan segera menghalalkan kamu agar bibir dan seluruh tubuh kami hanya milik aku.
...****************...
Komen atuh
__ADS_1