
Rombongan tiba di hotel. Aleesa dibangunkan oleh Restu lima menit sebelum mereka sampai. Dia tidak ingin dilihat oleh orang lain.
"Maaf, pasti kaki Kakak pegal."
Sangat manis jika Aleesa seperti ini. Namun, Restu nampak biasa saja dan menjawab, "lumayan."
"Sekali lagi makasih ya, Kak." Restu mengangguk dan Aleesa kembali ke kursinya bersama Yansen.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Restu ketika Yansen mengusap lembut rambut Aleesa. Remaja putri itupun menyunggingkan senyum yang teramat manis.
Tibanya di hotel mereka semua disambut oleh petugas di sana. Suara cempreng seorang wanita membuat Iyan tersenyum bahagia. Apalagi wanita itu berlari menghampiri Iyan dan memeluk tubuh jangkung tersebut.
"Miss you."
"Pasangan buncit!" sungut Gavin.
"Bucin!" ralat Aleeya.
"Beda dikit doang." Kejudesan Gavin semakin besar semakin bertambah.
Aleena sengaja berjalan bersama Rio. Dia menggandeng tangan Rio agar Kalfa tak mengganggunya. Rio pun tak merasa risih. Sedangkan Restu dia masih berada di luar. Belum ikut rombongan. Masih menunggu beberapa orang kepercayaan Aksara. Pengamanan di hotel ini sungguh luar biasa. Terlebih Beeya memiliki mantan kekasih yang bisa melakukan apapun.
Rangga, dia sedang menuntun Ghea karena anak itu tak mau jauh dari kakak angkatnya. Sedangkan si quartet bagai anak yang lepas dari kandang. Berlari ke sana ke mari. Apalagi Arfan dan juga Ahlam. Sedangkan Balqis dia malah asyik dituntun oleh ayahnya.
"Ayang, aku mau ngomong sama kamu berdua," ucap Beeya yang masih bergelayut manja di lengan Iyan.
"Entar dulu manja-manjaannya. Banyak yang harus kalian lihat." Echa sudah menatap tajam ke arah kedua calon pengantin itu.
"Iya, Kak," jawab mereka dengan kompak.
"Papah mana, Bee?" Aksara sudah menanyakan pria yang sebentar lagi akan menjadi besan keluarga mertuanya.
"Lagi cek semuanya."
Mereka semua menuju tempat di mana akan diadakannya resepsi dan akad. Semua mata terpana karena melihat kemewahan yang terpajang di sana. Kedua kakak Iyan beserta dua iparnya tengah berbincang dengan Arya. Ada juga Ayanda dan Giondra yang berada di sana.
"Udah kayak pernikahan di negeri dongeng." Aleeya takjub dengan dekorasi tempat itu. Kalfa masih terdiam, dia fokus menatap Aleena yang terus mengembangkan senyum bersama Rio.
"Kak Rangga, kita tukeran pasangan yuk." Ghea sudah menarik tangan Rangga menuju Rio dan Aleena.
__ADS_1
"Kak Rio, Adek mau sama Kak Rio. Nana biar sama Kak Rangga." Anak itu menarik tangan Aleena agar menjauhi Rio hingga remaja putri itu hampir terjatuh. Untung saja ada Rangga yang menyanggah tubuhnya.
"Ciye ... ciye ..." goda Gavin.
Ada hati yang panas, ada api cemburu yang memburu. Kalfa menatap ke arah Aleena dengan sorot mata tak terima. Baru saja hendak ke arah Aleena, Aleeya menarik tangan Kalfa dan membawa remaja tampan itu berkeliling tempat resepsi.
"Maaf," ucap Rangga.
"Aku yang harusnya bilang makasih." Kecanggungan masih tercipta di antara mereka berdua.
.
Beeya dan Iyan mengelilingi tempat resepsi. Mengecek apakah semuanya ini sesuai dengan keinginan Beeya. Senyum calon pengantin perempuan itupun terus melengkung dengan sempurna.
"Kamu suka?"
"Banget." Beeya menatap ke arah Iyan dengan senyum yang begitu lebar. Iyan pun memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat.
Mereka berdua terus bergenggaman tangan menuju pelaminan. Banyak gelak tawa di antara mereka berdua. Apalagi Beeya yang seakan membawa kebahagiaan untuk Iyan. Menjadi penghibur untuk Iyan.
"Tuhan memang sangat adil," ucap Ayanda kepada suaminya. Mereka berdua tengah menatap ke arah Iyan dan Beeya.
Ayanda merangkul lengan suaminya. Ada air mata yang dia tahan. Ada rasa sedih yang tak pernah dia ungkapkan.
"Daddy tahu--" Ayanda menjeda ucapannya sejenak. Membuang napasnya dengan kasar. "Setiap melihat Iyan, Mommy seperti melihat sosok Mas Rion sewaktu muda. Iyan percis sekali ayahnya."
Bukannya marah, Giondra hanya tersenyum. Istrinya memang lebih dulu mengenal mendiang ayah dari Iyan, yang tak lain adalah mantan suami dari istrinya. Jadi, untuk apa marah apalagi cemburu.
"Hati Mommy sakit setiap kali melihat Iyan. Anak yang minim kasih sayang, malah ditinggal lebih dahulu oleh orang yang sangat Iyan sayang."
Giondra mulai menenangkan istrinya. Dia tahu Ayanda sangat terpukul atas kepergian mantan suaminya. Ditambah keadaan putri pertama Ayanda yang sangat histeris ketika ayahnya tiada. Itulah yang membuat kondisi tubuh Ayanda menurun dan harus diopname selama lebih dari seminggu.
"Jangan bersedih, Mom. Rion pasti akan sedih kalau melihat Mommy sedih begini," tutur Giondra. "Kita kawal dan temani Iyan seperti anak kita sendiri. Iyan sudah sebatang kara. Kita harus selalu ada untuknya."
.
Restu, pemuda itu tengah asyik menghisap rokok. Rokok memang sahabat sejatinya. Dia sebenarnya tidak suka keramaian, kecuali ramai karena keributan. Dia akan menjadi orang paling depan yang akan ikut-ikutan.
Setiap kepulan asap yabg keluar dari mulutnya seakan mengeluarkan semua beban yang selama ini dia tahan. Untung saja dia masuk ke dalam keluarga Addhitama. Bisa merasakan kasih sayang dari orang lain yang menganggapnya seperti manusia.
__ADS_1
Restu masih menghisap rokoknya ketika beberapa orang datang menghampirinya. Pemuda itu seakan memberi hormat kepada seniornya. Mereka berbincang serius. Dari sebuah kamar hotel yang berada di lantai atas, ada seseorang yang tengah menatapnya. Wanita itu tersenyum kecil ketika melihat Restu dari ketinggian.
"Kenapa gua benci banget sama tuh orang, ya."
.
Iyan dan Beeya sudah berada di restoran di sekitar hotel. Beeya menginginkan mereka berdua berbincang serius.
"Kenapa?" Beeya malah bersandar di pundak Iyan. Tangannya melingkar di lengan Iyan. Sedangkan Iyan tengah menyantap pasta yang sudah dia pesan.
"Aku bertemu dengan Ibu." Penuturan Beeya membuat Iyan menghentikan kunyahannya. Dia menatap ke arah sang calon istri dengan raut yang berbeda.
"Ibu?" Beeya mengangguk. Dia pun menatap lekat wajah Iyan.
"Bukan hanya Ibu, ada Om, Jojo dan adik kamu, Dev." Terlihat Iyan terdiam. Mereka belum menemui Iyan, malah tidak ada di rumah.
"Aku malu sebagai manusia," tutur Beeya. "Mereka sangat baik dan perhatian sama kamu. Pantas saja kamu tidak ingin bermain dengan manusia."
Tawa pun keluar dari mulut Iyan. Dia mengusap lembut rambut Beeya. Menatap manik cantik yang ada di hadapannya itu.
"Mereka memang baik. Mereka adalah keluargaku." Beeya melihat ada kesedihan dari sorot mata Iyan.
"Sekarang mereka juga keluargaku, Ayang." Rasa sedih itu melebur. Dia mengecup gemas kening Beeya. Menatap wajah Beeya dengan penuh cinta.
"Inilah yang membuat aku jatuh cinta sama kamu. Malah cenderung bucin," akuinya.
Tawa lepas terdengar di telinga Iyan. Beeya teramat ceria hari ini. Wajah cantiknya semakin terpancar dengan begitu jelas.
"Aku akan terus membuat kamu bahagia dan tertawa seperti ini terus," batinnya.
Tangan Iyan sudah membawa tangan Beeya ke bibirnya. Mencium punggung tangan mulus itu dengan penuh cinta. Beeya pun tersenyum bahagia.
"Besok giliran aku ya yang cium tangan kamu." Iyan malah tersenyum.
"Bukan hanya tangan, seluruh tubuh aku pun bisa kamu cium." Wajah Beeya seketika memerah.
"Kamu lagi gak halangan 'kan?"
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...