Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
175. Bridesmaid


__ADS_3

Para bridesmaid pun berada di ruangan yang berbeda. Di sana sudah menggantung beberapa baju yang akan dikenakan oleh mereka. Di sana juga ada Pipin, sahabat Beeya yang akan menjadi bridesmaid.


Aleena dan Pipin tengah dipoles dan dipercantik oleh MUA yang sengaja Echa datangkan untuk merias wajah para remaja. Sebenarnya wajah anak-anak Echa sudah cantik walaupun tanpa dipoles make up tebal. Maka sari itu, Echa pun meminta MUA tersebuy untuk membubuhkan make up tipis saja. Mereka bertiga memiliki kulit yang sedikit sensitif.


Aleesa dan Aleeya duduk di sofa sambil menunggu giliran mereka. Aleesa merasa jengah ketika melihat Aleeya yang sedari tadi melakukan sambungan video dengan Kalfa. Dia menatap ke arah Aleena yang terlihat memejamkan mata. Dia tahu kakaknya itu mendengar apa yang dikatakan oleh Kalfa dan juga Aleeya. Dia juga tahu kakaknya hanya pura-pura tidur.


"Udah sih, Dek. Enggak usah lebay lebay amat," omel Aleea, sang kakak kedua. "Entar juga ketemu," sungutnya lagi. Kalfa pun nampak terkejut ketika Aleesa mengomel seperti itu.


Jika, Aleesa sudah berbicara ketus Aleeya pasti akan segera menutup sambungan video tersebut. Aleesa adalah kakak yang paling galak dibandingkan Aleena.


"Kakak Sa kenapa sih?" Kini Aleeya yang marah kepadanya. Dia sudah mengakhiri sambungan video dengan Kalfa.


"Orang--"


"Apa?" potong Aleesa. Dia sudah mempelototi sang adik. "Bosan tahu ngeliat lu bucin terus sama si kelapa. Belum tentu si kelapa bucin sama lu!" Aleesa berkata dengan nada cukup tinggi. Adiknya terkadang egois. Tidak pernah peka terhadap perasaan kakak pertama mereka.


MUA yang tengah mendandani mereka pun terdiam melihat dua anak kembar ini bertengkar. Aleena membuka matanya dan menatap ke arah kedua adiknya. Pipin ikut menyaksikan perdebatan antara Aleesa dan Aleeya.


"Udahlah," lerai Aleena dengan nada lembut.


"Gak gitu, Kak," sanggah Aleesa.


"Namanya juga orang yang lagi kasmaran," ujar Aleena. Dia mencoba untuk tersenyum.


"Maksudnya?" tanya Aleesa.


"Adek baru jadian sama Kalfa." Aleeya pun menerangkan.


Mata Aleesa melebar mendengar ucapan dari Aleeya. Aleesa malah menatap sang kakak dengan tatapan tak terbaca. Aleena hanya tersenyum.


"Jahat lu, ya!" tunjuk Aleesa ke arah Aleeya. Wajah kakak keduanya benar-benar murka. Aleesa pun meninggalkan tempat make up. Untung saja wajah Aleesa belum dipoles make up oleh MUA.


Aleeya hendak mengejar sang kakak, tapi dilarang oleh Aleena. "Udah biarin aja."


Aleesa benar-benar kesal. Seharian ini mood-nya sangat berantakan. Aleesa menunggu lift untuk turun ke lantai bawah. Dadanya masih kesal karena ulah Aleeya yang benar-benar tidak menghargai kakaknya. Ketika pintu lift terbuka. Nektra indah miliknya bertemu dengan nektra hitam yang menggoda. Sebagian wajahnya memang tertutup masker, juga kepalanya ditutupi topi. Namun, dia mengenali orang itu.


"Kak Restu."


Restu keluar dari lift tersebut. Dia menatap wajah cantik Aleesa dengan rambut yang tergerai.


"Bukannya Kakak--" Restu membuka maskernya. Luka lebamnya masih terlihat jelas dan seketika mata Aleesa nanar melihatnya. Tangannya menyentuh sudut bibir Restu diikuti mata Restu yang menatap ke arah tangan yang mulus itu.


"Gua gak apa-apa." Restu sudah memegang tangan Aleesa yang berada di sudut bibirnya. Dia menatap dalam wajah Aleesa yang masih sendu.


"Gua mau bicara sama lu." Restu menarik tangan Aleesa. Dia menekan tombol lift ke atas. Pintu lift terbuka Restu menyerahkan masker kepada Aleesa. "Pakailah!"


Aleesa melihat ke arah angka yang ditekan oleh Restu. Dia menatap ke arah Restu yang berdiri dengan sangat tegap.


"Gak usah takut. Gua gak bakal macam-macam," ucap Restu tanpa menoleh sedikit pun ke arah Aleesa.


Tidak ada ketakutan sama sekali di hati Aleesa. Berdua bersama Restu dia merasa dilindungi. Itu karena Aleesa tak memiliki kakak laki-laki. Sedangkan dia berteman lebih nyaman dengan laki-laki.


Tiba sudah mereka di lantai teratas hotel. Di sana terdapat helipad. Aleesa menghentikan langkahnya. Sedangkan Restu sudah berjalan lebih dulu.


Restu menoleh ke belakang ketika tidak ada langkah yang mengikutinya. Dia pun membalikan tubuh menatap Aleesa yang tengah mematung.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" Aleesa hanya menggeleng. Restu menghembuskan nafas kasar. Dia berjalan menuju remaja itu. Kini jarak di antara mereka menyisakan dua puluh sentimeter..


"Gua hanya ingin bicara berdua sama lu," tegas Restu. Tatapannya begitu tajam.


Restu terpaksa menarik tangan Aleesa agar remaja itu mengikuti langkahnya. Mereka sudah berada di tengah-tengah helipad. Restu menatap lurus ke depan di mana gedung-gedung tinggi menjulang.


Angin sudah menggerakkan rambut Aleesa. Mereka berdua masih saling diam. Restu masih berfikir harus dimulai dari mana.


"Gua harap, lu nggak akan pernah bilang ke siapa-siapa perihal kejadian semalam," ujar Restu.


"Kenapa?" Aleeaa sudah menatap tubuh pria yang lebih tinggi darinya yang masih menatap lurus ke depan. Tanpa membuka masker juga membuka topinya.


Dia masih terdiam, hanya tangannya yang sudah dia masukkan ke dalam saku jaket. Aleesa tahu apa yang Restu ambil dari sana. Ketika Restu hendak membuka bungkus rokok yang sudah ada di tangan, Aleesa merampasnya dengan begitu kasar. Tentu saja Restu menatap Aleesa dengan begitu tajam. Namun, Aleesa pun tak merasa takut. Dia pun menatap nyalang ke arah sorot mata elang yang Restu tunjukkan.


"Balikin, Sa," pinta Restu. Tangannya sudah menengadah.


"Enggak!!" seru Aleesa dengan wajah yang nampak murka. "Gua gak suka lihat lu ngerokok!" ucapnya. penuh dengan penekanan.


"Sa."


Restu hendak mengambil rokok tersebut di tangan Aleesa. Namun, gerakan Aleesa lebih cepat dan.doa segera memasukannya ke dalam saku celana.


"Harusnya lu kasihan sama diri lu! Bukan malah ngerusak diri lu!" Aleesa masih berkata dengan nada marah.


Restu merasa terharu. Masuk ke dalam keluarga Addhitama membuatnya merasakan apa yang namanya keluarga sesungguhnya. Mereka semua selalu memberikan perhatian lebih kepada Restu. Salah satunya perihal rokok. Apalagi ibunda dari Rio. Setiap hari dia tidak pernah bosan mengingatkan bahayanya rokok. Perlahan Restu pun mencoba untuk berhenti, tapi tetap tidak bisa. Namun, seidkit demi sedikit dia bisa mengurangi rokok.


Aleesa mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dia menarik tangan kiri Restu dan tangannya memberikan sesuatu ke telapak tangan Restu. Permen lolipop.


"Gua bukan anak kecil," kata Restu. tapi ada senyum kecil yang terangkat di bibirnya.


"Lama-lama gigi gua sakit." Restu masih bisa membalas perkataan Aleesa.


"Ya udah, ngemil buat pengganti rokok."


"Entar gua gendut."


Aleesa melotot penuh amarah ke arah Restu. Tangannya pun sudah berkacak pinggang.


"Ya udah. Boleh ngerokok sekarang." Restunoun tersenyum senang.


"Korek!" Dahi Restu mengkerut ketika mendengar ucapan Aleesa.


"Buat apa?"


"Gak usah banyak tanya," ketusnya. "Mana koreknya?" Tangan Aleesa sudah menengadah. Restu pun memberikannya.


Mata Restu melebar ketika Aleesa membuka bungkus rokok tersebut dan mengeluarkan isi di dalamnya. Membakar batang rokok itu satu per satu.


"Sa, itu--"


"Mau ngerokok 'kan." Aleesa menatap ke arah Restu. Dia pun memberikan dua belas batang rokok yang sudah dia bakar. "Habiskan dalam lima menit." Mulut Restu menganga tak percaya. Sepupu Rio satu ini memang gila.


"Mana bisa?" sahut Restu.


"Makanya coba." Aleesa sudah menyodorkan batang-batang rokok yang sudah dia bakar. Restu pun menghela napas kasar. Dia mengambil dua belas batang rokok yang sudah siap dihisap dari tangan Aleesa. Remaja itu masih memperhatikannya saja. Walaupun dadanya sudah berdegup tak karuhan. Dia tahu, pria yang kini ada di sampingnya ini nekat dan gila.

__ADS_1


Dua belas batang rokok itupun Restu buang, sebelumnya dia injak agar api yang tengah membakar tembakau yang ada di dalam rokok padam. Ada kelegaan di hati Aleesa.


"Kenapa dibuang?" Kalimat yang masih judes yang Aleesa katakan.


"Gak mau buat paru-paru lu sakit karena ulah gua,x jawabnya. "Orang yang menderita paru-paru bukan orang yang menjadi perokok aktif. Melainkan orang yang menjadi perokok pasif."


"Nah, itu tahu. Kenapa masih ngerokok?" hardik Aleesa. Restu pun tersenyum. Dia menatap lekat wajah cantik remaja di depannya. Seakan dia tengah menyimpan wajah cantik itu di dalam memori kepalanya.


Aleesa salah tingkah ditatap seperti itu oleh Restu. Dia memalingkan wajahnya dengan cepat.


"Bisa gak sih lu gak judes dan gak galak sama gua?" Kalimat yang mampu membuat Aleesa menoleh.


"Bisa gak sih bersikap manis kayak Kakak lu?"


"ENGGAK!!" Restu tersenyum tipis. Sedangkan Aleesa sudah mempelototi Restu.


"Gua mau ke Swiss." Mata Aleesa mulai mengecil. Ada perubahan dari sorot matanya.


"Sama Kak Rio?" Restu menggeleng.


"Rio masih stay di Singapura, dan gua harus stay di Swiss." Aleesa terdiam.


"Itu permintaan Papih Rindra."


Aleesa semakin terdiam. Uncle papihnya itu sangat baik kepada Restu. Keadaan pun mendadak hening. Mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Aleesa pun perlahan menundukkan kepala. Hatinya terasa sakit, walaupun sedikit ketika Restu berkata hendak pergi.


"Jangan nangis, jangan. nangis," batinnya berkata.


Restu menarik tangan Aleesa ke dalam dekapannya. Air matanya tumpah seketika. Tanpa Aleesa sadari tangannya membalas pelukan Restu dengan tak kalah erat. Mulut Restu Kelu, dia seperti orang gagu. Hanya tangannya yang mampu memberikan usapan lembut di rambut Aleesa. Ada rasa tidak rela di dalam hati Restu meninggalkan remaja ini.


"Jaga diri Kakak baik-baik." Ucapan yang begitu lirih. Restu pun mengangguk. "Jangan ngerokok terus."


"Kalau itu gak janji."


Aleesa langsung melonggarkan pelukannya. Dia menatap Restu dengan wajah yang sudah basah karena air mata yang begitu tak tahu diri menetes begitu saja.


.


Restu tersenyum, dia mengusap lembut wajah Aleesa yang sudah basah. Manik mata Aleesa masih menatap wajah Restu.


"Jaga diri baik-baik di sini. Jangan buat kecewa kedua orang tua lu. Mereka orang tua yang luar biasa." Aleesa pun mengangguk.


Nektra mata mereka saling terkunci. Tangan Restu pun masih berada di pipi Aleesa. Perlahan wajah Restu sudah mulai mendekat ke arah bibir Aleesa. Refleks Aleesa pun memejamkan mata ketika deru napas Restu sudah menerpa kulit wajahnya.


Tinggal beberapa sentimeter lagi semuanya akan terjadi. Namun, dering ponsel Aleesa membuat mereka sama-sama terkejut. Baik Restu dan Aleesa memundurkan wajah mereka.


Aleesa meraih ponselnya dan ternyata sang ibu yang menghubungi Aleesa.


"Iya, Bu. Kakak Sa ke sana. Kakak Sa lagi cari angin dulu."


"Giliran gua dijadiin ondel-ondel," ucap Aleesa seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Lu lebih cantik begini." Aleesa malah tertawa.


"Gombalan lu gembel!" ejek Aleesa. "Gua pergi, ya. Bubu udah keluar tanduk." Sebuah senyuman yang begitu manis menjadi ucapan perpisahan dari Aleesa. Tak lupa juga dia melambaikan tangan dan kemudian berlari menjauh dari tempat Restu sekarang. Restu pun melengkungkan senyum yang teramat lebar.

__ADS_1


"Gua pasti merindukan lu. Terutama kejudesan dan kegalakan lu."


__ADS_2