
"Kenapa ke sini gak bilang?" Iyan terkejut dengan kedatangan Beeya tiba-tiba. Wanita itu tidak menjawab, terlihat wajahnya yang nampak kesal. Berjalan begitu saja menuju sofa.
"Chagiya, ada apa?" Iyan sudah berdiri. Dia menghampiri sang calon istri yang sudah duduk di sofa.
"Chagiya," paggilnya lagi.
Beeya beluim menjawab. Dia malah mengeluarkan ponsel. Iyan pun menukikkan kedua alisnya dan segera duduk di samping Beeya.
"Telepon siapa?"
"Halo, Pah." Iyan semakin dibuat penasaran. Ada apa dengan calon istrinya ini? Dia malah menghubungi ayahnya. Apa ada kesalahan yang sudah dia perbuat?
Iyan hanya mendengarkan saja. Dia melihat Beeya sangat marah. Marah perihal apapun dia tidak tahu. Ketika sambungan telepaon berkhir, Iyan mulai menatap Beeya dengan penuh tanya. Tatapan Iyan seakan mendesak.
"Aku gak suka sama karyawan kamu yang di depan." Perkataan yang penuh dengan penekanan.
"Kenapa?" Beeya memandang tak percaya kepada Iyan. Mugkinkah Iyan belum tahu?
"Mereka itu menggunjing kamu. Aku gak terima!"
Iyan hanya tertawa. Dia mengusap lembut ujung kepala Beeya. Kemudian, meggenggam erat tangan sang calon istri.
"Ketika orang lain menggunjing kita, biarkanlah. Berarti dosa kita sedikit demi sedikit berguguran." Iyan berkata dengan sangat santai.
"Aku tahu, tapi aku tetap gak suka dan gak terima." Beeya masih bersikukuh.
Iyan mulai menanyakan perihal pergunjingan tersebut. iyan hanya tersenyum ketika mendengar cerita Beeya tentang apa yang dia dengar. Ternyata memang parah sekali mulut pada karyawan itu.
"Aku aja sering dengar. Malah mereka gak segan-segan menyindir aku ketika aku lewat." Mata Beeya melebar mendengarnya. Dia menelisik wajah Iyan dan tidak ada kebohongan di matanya.
"Kamu diam saja?" Beeya semakin dibuat penasaran. Iyan pun mengangguk.
"Biarkan mereka berkata apapun tentang aku. Aku tidak akan pernah membalasanya, yang paling penting aku tidak boleh seperti mereka. Sirik tanda orang tak mampu." Malah petuah yang keluar dari mulut Iyan.
Di luar, lima karyawan yang membicarakan tentang Iyan tengah ketar-ketir. Bukan tanpa sebab, Iyan tidak boleh ditemui orang lain, kecuali sudah membuat janji terlebih dahulu. Sedangkan wanita tadi tak kunjung keluar dari ruangan Iyan.
Mereka duduk di meja mereka masing-masing. Namun, mata mereka sesekali melirik ke arah pintu ruangan Iyan.
__ADS_1
"Kok gak keluar-keluar sih," ucap salah satu karyawan dengan wajah cemas. "Memangnya siapa wanita itu?" Yang lainnya menggeleng tidak tahu.
Selang satu jam suara derap langkah terdengar. Mata para karyawan yang berada di sana pun melebar. Merek tahu siapa pria senja yang sedang jalan bersama pemilik WAG Grup. Tak biasanya sang CEO itu datang ke ruangan tersebut. Harusnya mereka senang karena mereka bisa bertemu langsung dengan Ghassan Aksara Wiguna. Namun, ini malah sebaliknya.
"Jangan-jangan-"
Rasa takut mulai menjalar, mereka teringat akan perkataan wanita tadi. Hati mereka berdegup sangat kencang.
"Gimana ini?" Keringat dingin sudah mulai keluar dari tubuh mereka.
.
Iyan menghela napas kasar ketika kakak dan calon ayah mertuanya datang ke ruangannya. Beeya menghubungi mereka berdua. Bukan untuk mengadu, tapi Beeya ingin para karyawan di WAG grup memiliki sikap yang baik.
"Intinya, kenapa Bee manggil Papah dan Bang Aksa karena Bee tidak ingin terjadi hal seperti ini lagi. Mereka sudah terlalu lancang kepada atasan. Mentang-mentang Iyan selalu diam, mereka semakin menjadi. Bee tahu Iyan tidak gila jabatan, tapi dia juga punya hak untuk dihormati." Beeya membela Iyan mati-matian. Hati Iyan pun bergetar dibuatnya.
"Tumben otak kamu jalan," sindir Aksa.
"Abang mah!" Aksa dan Arya malah tertawa.
"Ini terlalu berlebihan, Bang," ujar Iyan. "Aku gak masalah." Iyan tidak ingin karyawan-karyawan itu terkena masalah.
Iyan memandang wajah Beeya. Dia tersenyum sangat manis. Menggenggam tangan Beeya dan mengatakan terimakasih.
"Aku gak mau kamu dikatain aneh-aneh. Kamu itu orang baik." Beeya memeluk pinggang Iyan dengan begitu erat. Aksa dan Arya hanya menggelengkan kepala. Namun, ada rasa bahagia di hati mereka berdua.
Mereka berempat keluar dari ruangan. Mata para karyawan yang tadi melebar ketika melihat Iyan digandeng oleh wanita yang membentak mereka di dalam lift. Ditambah langkah Aksa terhenti di depan meja mereka. Tatapan tajam Aksa berikan. Mereka pun langsung menunduk dalam.
"Kalian pasti tahu siapa pria yang ada di samping saya." Mereka menelan saliva ketika mendengar ucapan Aksa. Arya Bhaskara, siapa yang tidak tahu penerus Bhaskara Grup itu.
"Beliau adalah calon mertua dari Rian Dwiputra Juanda." Mata mereka melebar dan mereka benar-benar tidak menyangka.
"Jika, kalian masih ingin bekerja di sini. Perbaiki attitude kalian. Bukan saya memihak kepada adik saya, tapi dia layak bekerja di sini dan mendapatkan jabatan yang tinggi karena memiliki skill. Bukan seperti kalian tukang nyinyir."
Aksa berlalu begitu saja. Dia bukanlah orang yang banyak bicara. Jika, dia sudah bicara kepada karyawan berarti itu sudah menjadi masalah cukup besar.
Beeya memasang wajah sinis dan menggandeng tangan Iyan mengikuti langkah Aksa dan juga Arya.
__ADS_1
"Berlebihan tau," kata Iyan ketika berada di dalam mobil.
"Justru mereka yang kelewatan." Beeya malah beesungut-sungut. "Boleh diam, tapi sekali-kali kamu juga harus ngelawan. Kalau didiemin terus makin jadi."
Iyan tersenyum mendengar ocehan calon istrinya. Dia mengecup bibir Beeya dengan penuh cinta. Sontak Beeya melebarkan mata. Namun, tak berselang lama dia malah memejamkan mata. Merasakan sentuhan Iyan yang begitu lembut dan juga manis. Hampir sebulan mereka puasa berciuman.
Ketika napas mulai terengah, mereka berdua menyudahinya. Iyan mengusap lembut bibir Beeya yang basah.
"Aku sangat merindukan ini." Iyan berkata dengan sangat jujur.
"Aku juga." Beeya kini sudah memulai duluan. Menyesap bibir manis Iyan dengan begitu panas. Mereka seakan tengah melepas dahaga panjang.
.
Yansen dan Aleesa sudah berada di rumah besar Echa. Begitu juga dengan Aleena, Aleeya dan juga Kalfa. Namun, mereka tengah berada di halaman samping.
"Kalian kenapa gak ajak aku buat jadi pengiring pengantin?" Tante Pocita membuka suara. Kalau siang dia duduk di anak tangga menuju teras karena lelah berdiri.
"Idih, mana ada pengiring pengantin lompat-lompat," sahut Aleesa. "Kasihan MUA-nya kalau make up-in Ante. Entar mukanya kaya bendera merah putih."
Om poci tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang dikatakan oleh Aleesa. Wajah merah, didempul pakai bedak putih. Om Poci tertawa lagi.
"Sa, aku jaga kotak amplop aja, ya." Si kerdil sudah membuka suara. Dia tengah berjalan menuju Aleesa dengan Dev.
"Apaan? Yang ada mah itu uang kamu ambilin," cibir Aleesa. Si kerdil pun berdecak.
"Kami juga 'kan mau lihat Iyan menikah. Mau ikut joget-joget," ujar om Poci.
"Mau nyawer artisnya juga," lanjut si kerdil.
"Mau ikut dangdutan dan tok-tokan. Sekarang 'kan jamannya joget tok-tok." Yansen tertawa, dan Aleesa menggelengkan kepala.
"Gak ada begitu-begituan. Entar kalian aku beliin baju batik kodian di Tanah Empok. Kalian pakai baju batik terus ngambilin piring bekas makan para tamu undangan." Para hantu itu kini berwajah lesu.
"Tugas kamu kerdil, kalau ada yang ngamplop goceng, kuras semua isi dompetnya. Sama kalau ada yg tamu yang bungkus makanan, hitung makanannya dan ambil uangnya sesuai makanan yang dia masukkan ke dalam tas."
"Dasar turunan Engkong Rion!"
__ADS_1
...***To Be Contiunue***...
Komen dong ...